Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Polri Bersikap Profesional Usut Kasus Peluru Nyasar di Gedung DPR

Oleh: Erik Agus*

Senin, 22 Oct 2018 09:59 | editor : I Putu Suyatra

Polri Bersikap Profesional Usut Kasus Peluru Nyasar di Gedung DPR

Ilustrasi (ISTIMEWA)

TERDAPAT berita mencengangkan yang terjadi di gedung nasional sebagai gedung ruang kerja DPR/MPR Indonesia yaitu penembakan di lantai 16 ruangan Anggota Fraksi Gerindra DPR Wenny Warouw dan lantai 13 ruangan Anggota Fraksi Golkar Bambang Heri Purnama di lantai 13. Awal berita ini keluar sangat menghebohkan publik karena pertanyaan bagaimana bisa terjadi penembakan ke gedung yang dilapisi pengamanan ketat, sehingga muncul spekaluasi adanya percobaan pembunahan atau pelaksanaan teror namun setelah itu langsung di konfirmasi oleh pihak kepolisian hal tersebut bukanla terror melainkan peluru nyasar.

Pertanyaan yang saat itu terlontar adalah bagaimana pihak Kepolisian langsung menyimpulkan sebelum peluru yang ditemukan diuji balistik di laboratorium forensik. Jawabannya adalah karena saat itu Kepolisian langsung bergerak cepat melakukan Analisa melalui keadaan sekitar dan kondisi, serta berdasarkan pengalaman dinas yang sudah lama sehingga professional dalam pelaksanaan tugas dengan dasar Saat itu ada beberapa anggota Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) yang tengah berlatih di Lapangan Tembak Senayan yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari Gedung DPR. Dari sudut kemiringan yang ditemukan dan tidak mungkin sniper membidik sasaran dari bawah, apalagi di tempat terbuka seperti Lapangan Tembak Senayan. Menurut dia, sniper biasanya membidik sasarannya dari sudut sejajar atau dari tempat yang lebih tinggi dari target sehingga pernyataan negative mengenai adanya sniper atau perencanan untuk melenyapkan sebuah target.

Namun, masih saja hal tersebut dinilai negative karena dianggap terlalu cepat menyimpulkan dan menurut saya, hal tersebut merupakan tindakan professional Polri dalam menangani suatu kasus terutama kasus tersebut berpotensi akan semakin besar dan menimbulkan terror. Terror jika terjadi akan sangat berdampak buruk pada stabilitas negara sehingga kesimpulan cepat dan tepat diperlukan saat itu untuk mengurangi rasa khawatir masyrakat terutama penghuni gedung nusantara.

Kemudian, takut permasalahan membesar karena mengingat tahun ini tahun politik hal ini dapat dimanfaatkan atau diarahkan untuk pemanfaatan politik, sehingga menyebabkan pemilu 2019 akan tidak kondusif, damai dan aman. Polri menunjukan tindakannya sebagai lembaga yang menjaga kondusifitas pemilu 2019 dengan professional dan tidak mengada ngada Kepolisian juga langsung menetapkan IAW dan RMY yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil(PNS) sebagai tersangka yang merupakan anggota dari Perbakin belum lama atau anggota baru. Tidak hanya sampai disitu, kepolisian juga memberikan saran untuk lapangan tembak kedepannya tidak perlu sampai di pindahkan namun diberikan penutup sehingga tidak terjadi lagi kejadian seperti ini kedepannya.

Hal tersebut terbukti bahwa setelah kasus ini komisi III DPR RI langsung menganggap ini adalah kejadian terror dan mencoba mengaitkan dengan UU Terorisme, bukankah tindakan ini tidak meredam kejahatan melainkan membesarkan bukan mencari solusi tetapi malah menyalahkan pihak pihak tertentu. Tidak hanya itu, bahkan ada yang merasa kecewa terhadap keputusan Kepolisian dalam kasus ini dianggap terlalu terburu-buru dan tidak sesuai dengan yang ada dilapangan merasa kuat bahwa itu adalah serangan dari sniper, tapi apakah mungkin seorang penembak jitu menggunakan sniper menyerang dari bawah, tempat terbuka dan tidak terkena sasaran sama sekali?.

Mengapa hal ini dapat menganggu jalannya Pemilu 2019, tentu karena fraksi berbagai partai berada di gedung tersebut sehingga dikhawatirkan akan adanya perpecahan dan saling curiga antara fraksi bahwa adanya percobaan pembunuhan dan terror sehingga dapat juga menjadi senajata kericuhan pada Pemilu 2019 nanti yang tidak hanya Presiden melainkan calon legislatif juga. Seperti yang kita ketahui juga bahwa saat ini isu sekecil apapun dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik, semakin membenarkan apa yang dikatakan dalam masyarakat bahwa politik itu kejam.

Oleh karena itu, kinerja kepolisian dalam penangan kasus penembakan di gedung DPR jangan dianggap sebelah mata melainkan suatu pencapaian yang perlu di apresiasi. Profesionalitas Polri terjaga disana dan Polri mampu menilai situasi dengan cepat, tanggap dan tepat untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekacauan situasi nasional.(*)  

*) Pemerhati Publik

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia