Kamis, 23 May 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Bali Bukan Akronim "Banyak Libur"

25 Oktober 2018, 16: 05: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bali Bukan Akronim "Banyak Libur"

KONGRES PENULIS: Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayor Jenderal (Purn) Wisnu Bawa Tenaya saat diwawancarai kemarin. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bali yang kerap diplesetkan dengan akronim "banyak libur" dikoreksi oleh Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayor Jenderal (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. Hal itu ia tegaskan saat ditemui di sela-sela Kongres Persatuan Penulis Kampus Hindu se-Indonesia di Denpasar, Rabu kemarin (24/10). Dia menjelaskan bahwa Bali agar menjadi banyak lihat, banyak dengar, banyak kerja dan banyak tulis terkait agama, adat maupun budaya yang ada.

Dalam kesempatan tersebut dia mengajak orang Bali berani berinovasi, berani dalam menulis tanpa mengurangi kualitas tulisan itu sendiri. Khususnya para akedemisi, tokoh-tokoh Hindu sampai mahasiswa. “Jangan sampai Bali dikatakan akronim dari banyak libur. Namun upayakan Bali banyak lihat, baca, tulis dan banyak kerja. Tulisan itu harus sesuai dengan referensi baik kitab suci maupun hasil dari perbincangan para tokoh,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Dengan demikian ia mengungkapkan generasi yang ada tidak saja pintar membuat tulisan bersifat hoax, mengadu domba sampai menyinggung suku agama ras dan antar golongan (SARA). Begitu juga dalam memanfaatkan generasi milenial supaya mampu berinovatif dalam pengembangannya. Bukan saja tulisan dapat dimuat dalam majalah ataupun buku, namun harus bisa dipadukan dengan teknologi sesuai perkembangan zaman.

“Kita tahu tentang budaya, kita sering lihat pelaksanaannya namun kita tidak berani tulis. Itulah perlu kita tulis supaya dapat dibaca oleh orang lain. Bila perlu tulisan diterjemahkan dari berbagai bahasa, sehingga wisatawan dapat mengetahui secara detail apa saja yang ada di Bali terkait budaya dan filsafatnya,” ungkap pria asli Badung tersebut.

Ia menambahkan tulisannya juga harus mudah dibaca oleh anak muda termasuk lewat digital. Menurutnya selayu-layunya seorang penulis namanya akan tetap harum, lantaran semakin tua akan semakin banyak ilmunya. Sedangkan yang tidak mengandung SARA, ia menekankan agar penulis Hindu bisa menjadi contoh dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.

Pada tempat yang sama, Rektor Universitas Hindu Indonesia, Prof. I Made Damriyasa mengatakan tulisan akademisi saat ini hanya mengejar peningkatan akademik saja. Padahal menurutnya tulisan harus memiliki mutu dan relevansi yang berkarakter sehingga dapat disampaikan kepada siswa. “Banyak tulisan yang ada saat ini hanya mengejar kenaikan akademik semata, tanpa melihat apa yang diperlukan oleh masyarakat,” terangnya.

Lanjut dia, penulis harus mengurangi kenyamanan dalam menulis sesuai keinginannya. Namun diimbangi dengan tulisan apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian para penulis juga diharapkan menjadi pelopor, jangan hanya menjadi pengikut. “Buat apa kita menulis kalau tidak diperlukan di masyarakat, mending kita menulis sedikit namun berkualitas dan memang benar-benar dibutuhkan sekarang ataupun kedepannya,” imbuh Damriyasa.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia