Sabtu, 25 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Prosesi Mendak dan Nimbang Sanganan Lanlanan

Ini Makna Timbangan Batu Pingit - Sanganan Lanlanan Karya Dahaa Khusus

25 Oktober 2018, 16: 43: 34 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna Timbangan Batu Pingit - Sanganan Lanlanan Karya Dahaa Khusus

PROSESI: Prosesi Mendak Sanganan Lanlanan di Pura Kehen, Rabu (24/10). (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Prosesi puncak Panca Usaba Dewa Pura Kehen, Bangli, yang berlangsung Rabu (24/10) kemarin tergolong unik. Pasalnya prosesi yang diselenggarakan sejak pukul 06.00 pagi ini, merupakan prosesi langka yang hanya dilakukan setiap tiga tahun sekali.

Prosesi puncak dimulai dengan upacara Nuwek Kebo yang dilakukan Jero Gede dengan dibantu pemaksan dan Dangke. Setelah prosesi Nuwek Kebo kemudian dilajutkan dengan pembuatan jaje pujung sari dan jaje gunung sari. Hal itu yang dipaparkan Ketua Panitia Karya Panca Wali Krama lan Pengusabaan Ida Batara Turun Kabeh di Pura Kehen, Sang Made Suryawan (Sang Mangku Gede Dalem Gede Selaungan) Rabu (24/10) kemarin. Terdapat  3 prosesi unik yang hanya dilakukan setiap 3 tahun sekali. Yaitu Nuwek Kebo, pembuatan Sanganan Lanlanan dan nimbang Sanganan.

“Tapi prosesi paling inti dari rangkaian upacara hari ini adalah upacara nimbang Sanganan. Kenapa? Karena seluruh kondisi Daerah Bangli sangat bergantung dari hasil timbangan itu. Jika Sanganannya lebih berat dari pada batu timbangannya maka kemakmuran akan terjadi , jika sebaliknya batu yang lebih berat artinya prosesi usaba ini kurang me- aci,” terang Mangku Gede.

Sanganan Lanlanan yang digunakan dalam prosesi metimbang lanlanan juga dibuat khusus oleh para dahaa khusus. Dalam tradisi Kedongmas Pura Kehen, dahaa khusus merupakan para wanita yang masih virgin atau sudah tidak aktif secara sexsual.

“Dahaa khusus yang membuat Sanganan Lanlanan adalah Dahaa yang masih suci atau sudah tidak aktif secara sexsual yaitu mereka yang belum mengalami datang bulan dan mereka yang telah menopause,” ungkapnya.

Pengerjaan Sanganan Lanlanan hanya diperbolehkan  dilakukan oleh ketujuh orang dahaa. Yang terdiri dari empat orang dahaa yang belum mengalami datang bulan dan tiga orang dahaa yang telah menopause. Pembuatan Dahaa dilakukan di Pura Nataran Puri Bukit. “Selain diharuskan masih suci, para dahaa juga  tidak diperbolehkan berbicara. Selama proses pembuatan mereka hanya menggunakan gerakan tangan dan tubuh sebagai sarana komunikasi,” terangnya Mangku Gede. Lanjutnya selama proses pembuatan tak ada yang boleh memasuki Pura Nataran Puri Bukit selain ketujuh orang dahaa.

“Ya ritual ini memang benar – benar pingit, siapapun tidak boleh masuk, mengajak mereka bicara apalagi menyentuh mereka. Karena Sanganan itu bagi Usaba ini adalah inti prosesi. Jika ada pantangan yang dilanggar bisa jadi pada saat ditimbang nanti beratnya bisa berkurang tanpa sebab. Dan itu akan mempengaruhi seluruh wilayah Bangli,” tegasnya. Lantas seperti apa bentuk sanganan lanlanan yang dibuat oleh para dahaa khusus? Ia menjelaskan, Sanganan bentuknya menyerupai jaje uli gelontongan. “Bentuknya seperti jaje uli biasa. Yang berwarna hitam bernama Gunung Sari dan ada sanganan yang berwarna putih disebut Pujung sari,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Jero Mangku Gede Penyarikan, I Nengah Mustika. Menurutnya ada alasan khusus mengapa ke tujuh para Dahaa itu tidak boleh berbicara sama sekali. “Kenapa tidak boleh berbicara? Karena tuhan ketika menciptakan dunia , itu tanpa publikasi dan tanpa bicara. Ia bekerja dan bekerja tanpa lelah, hal itulah yang ingin kami contoh dan terapkan,” ujarnya. Usai pembuatan Sanganan Lanlanan, para anggota Kedongmas Pura Kehen terlihat beriringan membawa dulang. Mereka berbaris untuk melaksanakan prosesi mendak sanganan. “Siapa yang berhak mendak atau membawa Sanganan ke Pura Kehen? Ya tetap para Dahaa Khusus, mereka ada 7 orang kan, dua diantaranya membawa sanganan sisanya membawa tirta suci dan dipendak oleh puluhan Kedongmas wanita,” terangnya.  Jarak antara pura Nataran Puri dan Pura Kehen tidaklah begitu jauh, hanya 80 meter. Ketika tiba di Pura Kehen, seluruh banten dan sanganan diletakan di Bale Penibangan yang terletak di mandala utama. “Setelah semua ditata, nanti para pemaksanan akan mendak timbangan pingit kemudian melaksanakan prosesi metimbang Sanganan Lanlanan,” ujarnya.

Prosesi metimbang Sanganan Lanlanan dilakukan oleh Jero Mangku Catu dan disaksikan Jero Gede Kehen dan Jero Mangku Penyarikan. “Sudah kita saksikan bersama kan, ketika tadi ditimbang sanganan ternyata lebih berat dari pada batu pingitnya. Itu artinya tiga tahun mendatang kondisi Bangli niscaya akan makmur, dan prosesi upacara Usaba Dewa ini berlangsung sukses,” ungkapnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia