Jumat, 03 Apr 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Begini Tata Cara Penanganan Jenazah dengan Riwayat Penyakit Menular

30 Oktober 2018, 11: 56: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Begini Tata Cara Penanganan Jenazah dengan Riwayat Penyakit Menular

BERI PETUNJUK: Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Banyak masyarakat yang masih takut melaksanakan prosesi Ngaben untuk jenazah yang memiliki riwayat penyakit menular. Bahkan, tak hanya sekadar takut, terkadang masyarakat juga berlaku diskriminasi. Lantas bagaimana seharusnya menangani jenazah dengan riwayat penyakit menular saat diaben agar aman?

Polemik pelaksanaan Ngaben bagi jenazah  yang sudah dinyatakan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)  ataupun memiliki riwayat penyakit menular lainnya, memang dinilai serba salah. Pasalnya, di satu sisi kekhawatiran masyarakat akan penularan penyakit memang cukup mengkhawatirkan. Namun di sisi lain, secara agama prosesi Pangabenan wajib dilaksanakan oleh anak dan keluarga almarhum untuk mengantarkannya ke alam Nirwana. Menurut Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Dudut Rustyadi, akhir pekan kemarin, masyarakat tidak perlu khawatir dengan penularan penyakit, jika penanganan jenazah  dilakukan dengan benar.

“Jenazah ODHA dengan inveksi HIV AIDS atau penyakit AIDS tidak menular hanya karena menyentuh jenazah. Yang menular itu adalah penyakit infeksi yang biasanya timbul karena virus HIV,” jelasnya.

Dudut mengungkapkan, banyak masyarakat yang masih salah kaprah. “Memang kita wajib berhati hati, namun bukan berarti dengan cara mendiskriminasi. Dari segi forensik kedokteran ada aturan standar  cara yang benar penanganan jenazah dengan penyakit menular. Seperti penggunaan alat pelindung diri sederhana dan upaya lainnya,” terangnya.


Dudut menjelaskan, ketika akan memandikan jenazah dengan riwayat penyakit menular, masyarakat harus menggunakan alat pelindung diri sederhana, yaitu berupa sarung tangan, masker dan apron, agar air danur atau air jenazah tidak terciprat. “Jenazah yang memiliki penyakit menular idealnya harus disuntik Formalin terlebih dahulu, sebelum dibawa pulang pihak keluarga untuk kemudian diaben atau dimakamkan. Karena dengan Formalin, semua virus ataupun bakteri yang ada pada jenazah akan mati. Jadi meminimalisasi penularan,” tegasnya. Ia mengingatkan penggunaan alat pelindung diri sederhana haruslah satu kali pemakaian.

“Sarung tangan dan masker harus sekali pakai. Kalau apron bisa dicuci dengan air Klorin dulu sebelum digunakan kembali,” terangnya.


Selain pemberian Formalin pada jenazah, Dudut juga menambahkan, sebaiknya pada lubang dan luka yang terdapat di jenazah ditutup dengan kapas dan handsaplas anti air. “Nah, jika masih ragu, walaupun sudah diberi Formalin,  keluarga bisa memberi kapas pada lubang telinga, lubang hidung, anus, dan mata untuk menghindari cairan yang keluar dari tubuh jenazah,” ungkapnya. Selain itu, ia juga mengingatkan untuk menyiapkan cairan Klorin agar bakteri yang ada di bagian luar jenazah benar – benar mati. “Siapkan cairan Klorin juga untuk dibasuhkan ke suluruh tubuh jenazah agar bakteri dari penyakitnya benar – benar mati. Jika sudah dilakukan sesuai prosedur, walaupun itu penyakit menular biasa, ataupun penyakit Flu Burung dan HIV AIDS, saya rasa tidak perlu takut dan khawatir. Prosesi Ngaben bisa dilakukan sebagaimana mestinya,” tandasnya.


Di tempat terpisah, Sulinggih dari soroh Pande, Ida Sire Empu Dharma Sunu mengatakan,  banyak alternatif yang bisa dilakukan ketika menghadapi penolakan. “Ngaben itu kewajiban anak kepada orang tuanya. Apapun keadaannya kita harus tetap melaksanakan kewajiban itu. Seperti kata dokter, penyakit tidak akan menular jika penanganannya benar. Nah jika masyarakat masih merasa keberatan, Kremasi adalah solusi alternatif yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Baginya, kekhawatiran masyarakat akan tertular penyakit bisa dimaklumi, hal ini disebabkan karena minimnya edukasi tentang penanganan jenazah menular.

“Ya tidak semua orang tahu, penyakit HIV menularnya lewat hubungan seksual, dan penggunaan jarum suntik bersama. Yang mereka tahu penyakit itu berbahaya. Makanya, tidak heran mereka bersikap begitu. Tapi untuk urusan  ini saya imbau jangan mendiskriminasi, manyama brayalah sebagaimana mestinya. Jika takut lakukan kremasi dengan banten selayaknya, setelah jadi abu, nganyutin juga seperti seharusnya. Nyegara Gunungnya juga sebagaimana mestinya, jangan membeda bedakan. Karena dari segi agama seluruh prosesinya sama, tidak boleh membeda - bedakan,” tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia