Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jika Banten Alit Sudah Patut, Kenapa Ada Utama? Ini Penjelasannya

01 November 2018, 11: 12: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jika Banten Alit Sudah Patut, Kenapa Ada Utama? Ini Penjelasannya

Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam Lontar Sarwa Bebantenan dijelaskan tiga kategori Banten, yaitu Banten Alit, Banten Madya dan Banten Utama. Jika ketiga kategori memiliki makna dan inti yang sama, mengapa Banten dibedakan lagi?

Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali, Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika menjelaskan, dahulu Banten tidak sekompleks saat ini. Dahulu Banten dibuat sebagai pelengkap sarana upacara, bukan sebagai inti upacara. “Banten besar yang ada saat ini  banyak dipengaruhi oleh Desa, Kala, dan Patra. Jika berdasar lontar, sebenarnya tidak sebanyak itu. Semakin hari Banten semakin berkembang, banyak yang diimprovisasi, banyak  ditambahkan di sana – sini. Makanya, Banten saat ini sangat mahal,” terang Pasek Swastika kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.

Ia menerangkan, yang membuat Banten berkembang dari Banten Alit menjadi Banten Madya, ataupun Banten Madya menjadi Banten Utama adalah ayabannya. “Sebenarnya inti dari ketiga kategori itu sama. Maknanya sama, yang berbeda hanya Ayabannya saja. Jika ada tambahan Banten Ayaban, maka Banten Utama lainnya pasti akan mengikuti, untuk menyeimbangkan antara Banten Ayaban dengan Banten  utamanya,” terangnya.


Banten Ayaban yang dimaksud memiliki beberapa kategori, yaitu Banten Tumpeng Telu, Tumpeng Lima,Tumpeng Siya, Solas, Pitulas, Selikur, dan seterusnya. Dicontohkannya, Banten Piodalan saat ini sering menambahkan Banten Ayaban, yaitu menggunakan Dapetan, Nadi Bebantenan, Jelih Munggah, Sekartaman – Pulogembal, dan Bebangkit.

"Banten Pamlaspasan juga begitu, mengikuti berapa jumlah Tumpeng pada Banten Ayabannya. Kemudian semakin lama akhirnya Banten itu berkembang menjadi Banten Padudusan Alit atau Padudusan Agung serta Manawa Ratna,” ungkapnya.

Lantas, apa yang menjadi patokan memilih kategori Banten? “Patokannya ya sesuaikan dengan kemampuan. Kalau kita mampu yang Alit, kenapa harus menggunakan Banten Utama? Kalau ada lebih uang bisa ambil yang Madya. Jangan sampai cuma mau melaspas di rumah sampai mengambil prosesi Padudusan Agung seperti yang dilaksanakan di pura besar. Itu kan sangat berlebihan,” tandasnys.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia