Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Remaja Kurang Peduli, Serati Banten Minim Peminat

01 November 2018, 12: 39: 54 WIB | editor : I Putu Suyatra

Remaja Kurang Peduli, Serati Banten Minim Peminat

Jero Gede Suwena Putus Upadhesa (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP), soroti fenomena pergeseran budaya melajah majahitan (membuat Banten) yang terjadi saat ini. Apa yang melatarbelakangi masalah ini, sehingga remaja putri, juga kaum ibu muda seperti enggan menekuninya.

Serati Banten adalah sebuah profesi unik yang khusus mendalami tentang beragam Banten (sesajen) dan keperluan upakara lainnya. Profesi ini umumnya ditekuni oleh sameton yang ada di griya. Namun kini, profesi tersebut nyaris menghilang. Pasalnya, minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan profesi itu semakin jauh berkurang. Melihat kecenderungan ini, Bendesa Agung MUDP Bali, Jero Gede Suwena Putus Upadhesa mengaku prihatin.

Menurutnya, dalam ajaran agama Hindu dikenal Tatwa, Susila, dan Upakara, sangat penting harus diketahui generasi muda saat ini. “Profesi  Serati banyak jenisnya, ada Serati Undagi, Serati Banten, dan Serati lainnya. Khusus bagi yang berkecimpung urusan Banten, mereka disebut Serati Banten atau anak – anak sekarang menyebutnya tukang banten,” ujarnya.
Tugas Serati Banten adalah membuat upakara sesuai dengan dresta. Ia harus tahu bagaimana membuat Banten dengan berbagai fungsi dan kategori. “Banten itu banyak jenisnya, ada banten Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusia Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Ada juga beberapa kategori, seperti Banten Alit, Madya, dan Utama. Jadi, seorang Serati Banten harus tau dresta dan aturan terkait Banten,” terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.


Di era digital, lanjutnya, tantangan terhadap budaya sangat berpengaruh terhadap generasi muda. Terutama bagi remaja putri, sangat sedikit  berminat belajar membuat Banten. "Untuk menanggulangi hal itu, kami dari Majelis Utama Desa Pakraman dan bekerja sama dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, sering membuat pasraman kilat ketika  libur sekolah,” ungkapnya.


Ditegaskannya, Banten merupakan identitas agama Hindu di Bali. Sebab, Banten merupakan sebuah simbol bakti kepada Tuhan . “Misi utama kita sebagai generasi tua adalah mengikutsertakan anak – anak kita dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan dan kebudayaan Hindu, terutama dalam pembuatan Banten sebagai sarana upakara. Kalau kita saja semua serba beli, secara otomatis kita memberi contoh anak – anak kita,” tegasnya. 


Menurutnya, masyarakat Hindu seharusnya jengah ketika ada saudara non Hindu justru lebih pintar matanding Banten dibandingkan yang beragama Hindu sendiri. “Jengah seharusnya, mereka yang bukan beragama Hindu saja bisa membuat sarana upakara, dan kita yang tahu betul apa makna Banten justru membeli dari mereka. Malu dong, itu identitas agama kita, tapi kita sendiri bergantung dengan orang lain untuk menghadap Tuhan,” ujarnya.


Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua PHDI Provinsi Bali, Pinandita Drs I Ketut Pasek Swastika. Menurutnya, tidak ada yang salah ketika Banten dijadikan komoditi dagang oleh masyarakat non Hindu. “Memang, fenomena banyak pedagang Canang yang saat ini berasal dari non Hindu. Itu tidak salah, asalkan Canang atau Banten yang mereka jajakan sudah sesuai dengan aturan," ujarnya.


Pasek Swastika mencontohkan,  bunga yang digunakan haruslah suci atau sukla. Kemudian kelengkapan Canangnya diperhatikan, apakah sudah lengkap berisi beras, tebu, dan pisang, atau bentuk durasnya sudah sesuai. "Jika sebuah Canang tidak dilengkapi beras, tebu, dan pisang, itu bukan Canang namanya, melainkan rangkaian bunga,” tegasnya.


Pasek Swastika tidak menyalahkan masyarakat non Hindu mencari nafkah dari berjualan Banten. “Ya mereka tidak salah juga, karena kebiasaan kita sebagai orang Hindu Bali saat ini lebih kearah konsumtif. Artinya, kita yang memberikan kesempatan, padahal dalam lontar sudah diterangkan dengan jelas. "Jangan membeli Banten dengan bermewah – mewahan, buatlah Banten dari apa yang ada di sekitar kita. Kalau di halaman cuma ada dua jenis bunga untuk membuat Canang, ya gunakan dua jenis bunga itu saja. Tidak perlu berlebihan hanya untuk gengsi,” tegasnya.


Menyikapi minimnya minat remaja putri untuk belajar membuat Banten, Pasek Swastika menilai  sangat penting regenerasi Serati muda harus segera diupayakan. “Pengkaderan regenerasi Serati Banten memang sangat penting, tanggung jawab ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah ataupun Parisadha semata. Semua golongan tetap harus ikut mendukung,” ungkapnya. Yang dimaksud mendukung, lanjutnya, adalah proses pengkaderan dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah atau keluarga, lingkungan pasemetonan atau soroh  dan majelis atau Parisadha. “Semua pihak harus ikut ambil-alih, tak perlu sampai jadi Serati Banten, paling tidak belajar dan bisa membuat Banten sederhana ketika rahinan  sudah bagus.
Dari rumah kita ajarkan putra putri untuk membuat Canang,  Banten Dapetan atau Ajuman. Karena membuat Banten bukan hanya pekerjaan wanita, anak laki – laki pun harus bisa,” tegasnya.


Selain diajarkan melalui lingkungan keluarga, dan lingkungan soroh, belajar majahitan juga bisa dilakukan di lingkungan sekolah.  Dikatakannya, dahulu di era 90- an, ada pelajaran muatan lokal majahitan, namun sekarang sekolah – sekolah mulai menghilangkan mata pelajaran muatan lokal itu. Lantas, bagaimana kita berharap generasi tertarik kalau pihak sekolahnya saja tidak peduli.  Kedepannya setiap sekolah harus memiliki materi muatan lokal majahitan,” ungkapnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia