Senin, 19 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Features

Belajar di Luar Kelas; Seru, tapi Suara Gurunya Kurang Kedengaran

Kamis, 01 Nov 2018 21:36 | editor : I Putu Suyatra

Belajar di Luar Kelas; Seru, tapi Suara Gurunya Kurang Kedengaran

MENIKMATI: Tampak siswa di SMP Negeri 9 Denpasar menikmati pelaksasaan Outdoor Clasroom Day (OCDay), Kamis kemarin (1/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebanyak 18 Sekolah di Denpasar serentak melakukan kegiatan Outdoor Clasroom Day (OCDay), Kamis (1/11).  Pembelajaran yang berlangsung selama tiga jam tersebut membuat suasana baru bagi siswa dan para guru yang mengajar. Seperti pelaksanaannya di SMP Negeri 9 Denpasar, salah satu siswa mengaku bahwa saat guru menerangkan kurang kedengaran jika di luar kelas.

Seorang siswa kelas VII SMP Negeri 9 Denpasar bernama Wayan Wahyu Suputra mengaku belajar di luar kelas baru pertama kali ia ikuti. Selain menambah ilmu, dia mengaku bisa sambil menikmati suasana baru di sekitarnya. “Ini merupakan pengalaman pertama kami belajar di sekolah tapi di luar kelas. Sangat seru sekali tapi sayang suara gurunya menjadi kecil kedengarannya . Mungkin karena ada di alam,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Dalam kesempatan itu, dia juga mengaku biasanya kalau belajar di luar kelas pasti pandangan dapat hukuman dari guru. Entah datang terlambat ataupun lupa mengerjakan tugas-tugas yang semestinya dikumpul. Namun belajar di luar kelas kali ini sebagai sebuah inovasi baru yang menurutnya agar bisa dilakukan seminggu sekali.

Pada tempat yang sama, salah satu guru Bahasa Inggris di sekolah setempat, Ni Wayan Sumeni menjelaskan siswanya belajar biasa di luar kelas. Yaitu selayaknya belajar seperti di dalam kelas, hanya saja pindah tempatnya saja. Dia mengatakan hanya perlu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dengan alam saja, lantaran mengajar di dalam dan di luar kelas sangat berbeda. Yakni memerlukan konsentrasi yang lebih.

“Kalau di sini, siswanya kami bagi. Mengingat jumlah siswanya kan banyak, sehingga kami sulit mencari tempat di luar ruangan. Kalau dipaksakan semua di luar kasihan mereka harus duduk lesehan di tanah,” tandasnya.

Lanjut dia, pembagiannya terdiri atas tiga sesi. Jam pelajaran satu sampai tiga, siswa yang belajar di luar adalah siswa kelas VII. Jam pelajaran keempat sampai lima siswa kelas VIII, sedangkan siswa kelas IX pada jam pelajaran keenam dan tujuh. Sedangkan jumlah keseluruhan siswanya sebanyak 1.044 dari 27  kelas yang ada.

“Makanya untuk semua mata pelajaran ini kami lakukan di luar kelas dengan sistem belajar kelompok dan dibagi sesuai kelasnya,” tandas dia.

Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Drs I Wayan Gunawan mengaku memang ada 18 sekolah yang melaksanakan OCDay tersebut.  Langkah itu sebagai salah satu memperingati Hari Anak Internasional yang jatuh pada bulan November ini. Selain  itu juga sebagai mewujudkan sekolah ramah anak.

“Pelaksanaannya sekitar tiga jam pembelajaran di luar kelas, tujuannya supaya anak tidak menjadi jenuh. Karena dari alam juga kita dapat menumbuhkembangkan kreativitas anak. Mulai dari alam mereka akan memiliki sebuah inovasi maupun inspirasi,” terang dia.

Melihat pembelajaran itu sangat positif, meski suara guru kedengaran kecil pihaknya akan menerapkan di sekolah-sekolah lain. Apalagi ia melihat hal itu sangat positif dalam penguatan pendidikan karakter anak. “Ini sebagai inovasi dan memang sangat positif dalam penguatan pendidikan karakter anak itu sendiri,” imbuhnya.

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia