Rabu, 22 May 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tiga Kawasan Zona Merah Intrusi Air Laut, Bali Butuh Bendungan

04 November 2018, 20: 16: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga Kawasan Zona Merah Intrusi Air Laut, Bali Butuh Bendungan

Ilustrasi (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Aktivitas akomodasi pariwisata di wilayah pesisir dan permukiman, dianggap terlalu leluasa menyedot air dengan sumur. Akibatnya semakin banyak terjadi intrusi air laut. Atau masuknya air laut ke rongga tanah. Ini yang membuat air yang disedot terasa asin. Bahkan untuk kawasan Sanur, Kuta, dan Nusa Dua sudah masuk zona merah.

Masalah ini dikemukakan oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Bali – Penida Ketut Jayada saat melakukan presentasi di hadapan Gubernur Bali Wayan Koster dan Jajaran Komisi V DPR RI. Jayada mengatakan Bali akan mengalami masalah air yang serius. Terutama di wilayah  Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan  (Sarbagita) yang mengalami defisit 5 meter kubik per detik. Bahkan ada yang sudah masuk zona merah intrusi air asin. Yaitu Sanur, Kuta dan Nusa Dua.

“Sudah masuk zona merah, lantaran airnya asin akibat intrusi air laut,” jelas Jayada.

Dia mengatakan zona merah ini, dampak dari pengeboran air bawah tanah (ABT) yang sangat berlebihan. Ini yang membuat Sanur, Kuta dan Nusa Dua sudah terjadi intrusi air laut. Dengan kondisi ini, mestinya pengeboran sudah mesti dibatasi. “Namun ini kewenangan ESDM, yang bisa melakukan pengendalian pengeboran ABT,” kata Jayada.

Dia juga mengatakan, untuk mendapatkan jalan keluar masalah ini harus dibangun lebih banyak lagi bendungan sehingga bisa lebih maksimal memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dengan begitu, bisa melarang menggunakan sumur bor.

Dia mengatakan, layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) khususnya di Kota Denpasar saat ini baru 48 persen menggunakan air PDAM. Sehingga 64 persen memakai ABT dengan sumur bor. “Tingkat layanan PDAM  khusus untuk Denpasar hanya 48 persen. Itu sangat rendah. Jadi ada 64 persen penduduk Kota Denpasar yang tidak terlayani PDAM. Memang tidak ribut karena hampir semua rumah-rumah di Bali khususnya di Denpasar pakai sumur. Ini bahaya,” urainya.

Dia mengatakan, menjawab masalah ini akan membangun bendungan di dua lokasi. Pertama Bendungan Sidan, Petang, Badung dan Bendungan Tamblang di Buleleng. “Untuk menampung air sungai dan air hujan agar tidak terbuang ke laut secara percuma,” sambungnya.

Sayangnya, dengan terbangunnya dua bendungan itu belum juga bisa memenuhi defisit air di Bali. Karena bendungan Sidan hanya mempu memberikan  air sekitar 1,7 meter kubik per detik. Sehingga harus membangun bendungan lagi untuk mencukupi kebutuhan air di Bali.  Jayada menuturkan seharusnya memanfaatkan Tukad Unda karena bisa memberikan air 1,5 meter kubik per detik. Karena Ia  menyebut total air yang dibutuhkan di Bali 10 meter kubik per detik.

“Mesti dibangun lagi bendungan, untuk bisa memberikan pasokan air, tidak hanya mengandalkan ABT,” katanya.

Atas pemaparan ini baik dari Komisi V dan Gubernur Bali, sepakat untuk memberikan perhatian serius terkait pengelolaan air di Bali. 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia