Rabu, 21 Nov 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

HRS, dari Indonesia hingga Arab Saudi

Oleh: Andi Amin*

Jumat, 09 Nov 2018 12:46 | editor : I Putu Suyatra

HRS, dari Indonesia hingga Arab Saudi

Habib Rizieq (ISTIMEWA)

MUHAMMAD Rizieq Shihab Imam besar front pembela islam (FPI) atau yang lebih dikenal sebagai Habib Rizieq Shihab kembali meramaikan layar kaca Indonesia di tempat pelariannya Arab Saudi. Habib yang sangat kontroversial ini mulanya terbang ke Arab Saudi setelah tersandung kasus sms ponografi pada 2017 lalu.

Namun berdasarkan kuasa hukum Habib Rizieq saat itu Kapitra Ampera tujuan sang habib ke Arab Saudi adalah untuk menjalankan ibadah umrah, menyelesaikan program doktor hingga mengunjungi anaknya di Yaman, bukan takut dan kabur dari kasus yang menjeratnya. Anehnya hingga lebih dari satu tahun berlalu sang habib tak kunjung kembali ke tanah air. Berkali-kali sepanjang tahun 2017 hingga 2018 kabar akan kembalinya Rizieq Shihab ke Indonesa santer beredar, namun hal itu sebatas kabar burung yang tak kunjung terjadi. Enggan kembali ke tanah air ternyata habib ini beberapa kali keluar masuk Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia seakan dibuat sebagai penyebab takutnya seorang warga negara kembali ke negaranya. Karena tak kunjung terealisasinya kepulangan Rizieq Shihab sering dikatakan karena takut dipersekusi oleh pihak keamanan Indonesia. Kejadian ini sungguh kontradiktif sebenarnya dengan pernyataan kuasa hukumnya bahwa habib tidak takut untuk kembali ke Indonesia. Sebenarnya jika Rizieq Shihab tidak merasa bersalah lalu untuk apa merasa takut kembali ke Indonesia? sesederhana itu logikanya, namun faktanya sang habib tidak kunjung kembali.

Alih-alih sang habib asik hidup di negara orang dan tak menyadari memiliki batas tinggal di Arab Saudi. Kini sang imam besar diperiksa oleh keamanan Arab Saudi karena kasus overstay dan pemasangan bendera yang terlarang di Arab Saudi. Ya, bendera bertuliskan kalimat Tauhid terpasang di luar rumah HRS.

Menjadi lucu karena tuduhan yang diberikan oleh pihak FPI dan pendukung HRS bahwa diperiksanya HRS karena ulah dan operasi Intelijen Indonesia. Apakah Ia tak sadar akan kesalahannya?. Jika melihat kebelakang HRS adalah penggerak massa dari jauh pada Aksi Bela Kalimat Tauhid 211 lalu. Dari tempatnya Arab Saudi Ia memobilisasi masa bahkan memprovokasi pengikutnya. Kemudian Masyarakat Indonesia yang sadar menantangnya untuk mengibarkan bendera serupa di Arab Saudi. Wajar bukan jika sang penggerak massa yang selama in gagah berani menerima tantangan tersebut. Kemudian memasang bendera yang juga Ia serukan untuk dikibarkan oleh seluruh pengikutnya.

Secara kasat mata dan tak perlu analisa yang dalam seharusnya kita sadar, bendera yang terus dikibarkan di Indonesia itu mendapat larangan dari negara pusat keislaman. Artinya apa? Masyarakat Indonesia telah dipermainkan untuk melakukakn tindakan terlarang yang ujungnya akan memecah umat.

Hingga kini seluruh pendukung HRS menyatakan tuduhan adanya operasi tersembunyi dibalik pemeriksaan HRS. Namun jika dicermati, seakan ada permainan politik yang sangatlah besar di kubu HRS dan pendukungnya. Pasalnya beberapa waktu lau capres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan ketua umum PAN Amien Rais mengunjungi  HRS. bukan hanya mereka pihak-pihak pendukung Prabowo juga bergantian mengunjungi HRS. untuk apa? Sudah jelas rencana poliitk yang manis dan licin coba dilakukan oleh kubu ini. Mereka yang sangat masiv membawa isu politik identiitas menjadikanya untuk menyerang dan menjatuhkan pemerintahannya sendiri.

Sayangnya dengan rencana memanfaatkan HRS yang jauh di negeri orang melalui permainan isu bendera Tauhid, kini sang habib kena batunya. Sebagai orang yang sangat gencar menyerukan pengibaran bendera Tauhid HRS kini harus menanggung resikonya. Memang benar kata pepatah sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Begitulah posisi HRS saat ini dihadapkan dengan keamanan Arab Saudi yang dikenal sangat tegas dan tanpa ampun.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan terus berusaha memulangkan dan membantu HRS untuk keperluan penyelidikan dan membebaskannya dari masalah hukum. Tuduhan pihak HRS kepada Pemerintah Indonesia seakan seperti kacang lupa kulitnya. Memang sudah menjadi kewajiban negara untuk membela warga negaranya dil luar negeri dengan sekuat tenaga. Namun walaupun seakan sudah dikerjai oleh HRS, perlakuan khusus untuk HRS diberikan. Buktinya adalah beberapa persoalan yang menjeratnya telah di SP3 kan atau dicabut untuk membuatnya merasa aman kembali ke Indonesia.

Semoga masyarakat dapat dengan cermat dan jernih melihat persoalan ini dan tidak ikut terprovokasi isu yang akan memecah belah persatuan Indonesia. Kuncinya adalah percaya pada pemerintah dan serahkan semua kepada penegak hukum, karena sudah ada mekanisme sedemikian adilnya untuk memutuskan suatu perkara.

*) Pemerhati Sosial Politik

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia