Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Dapat Untung, Sejumlah Pengusaha Minta Bali Kerja Sama dengan Mafia

12 November 2018, 21: 09: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dapat Untung, Sejumlah Pengusaha Minta Bali Kerja Sama dengan Mafia

SAMPAIKAN ASPIRASI: Handi, salah satu pengusaha yang mendatangi DPRD Bali, Senin (12/11). (KETUT ARI TEJA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Puluhan orang yang mengaku bekerjasama dan mendapat subsidi dari para “Mafia Tiongkok” mendatangi DPRD Bali, Senin (12/11). Mereka datang dan meminta Bali bekerja sama dengan para mafia tersebut karena uangnya banyak. Itu dibuktikan dengan usaha mereka yang mendapat untung dari para mafia itu. Tapi hal itu langsung dimentahkan oleh Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta. Menurut Parta, yang dibutuhkan adalah mereka yang mau menjaga Bali.

Sekitar 50 orang datang ke DPRD Bali. Mereka adalah pemilik travel agent OKB Kris alias Rusli Wisanto, Pengusaha yang bergerak di Nusa Penida Putu Darmaya, Pemilik Desa Rafting Made Setiawan, Tokoh Pramuwisata Tiokong Handi, termasuk pegawai – pegawai rumah makan, yang pemiliknya orang Tiongkok seperti Great Hot Shark Hot Pot dan lainnya. Mereka diterima oleh Ketua Komisi IV DPRD Bali Nyoman Parta, Anggota Komisi Setiawan dan Wayan Sutena.

Ungkapan menarik dan mengakui bahwa aktivitas mereka disubsidi oleh jaringan toko - toko milik orang Tiongkok itu datang dari Kris.

“Saya merasakan dengan langkah penutupan ini, saya langsung rugi dari satu penerbangan Rp 600 juta. Karena toko – toko itu langsung menyetop subsidinya. Sedangkan saya sudah kontrak dengan travel agent Tiongkok,” keluh Kris.

Dia mengatakan, toko – toko jaringan Mafia Tiongkok itu memang mensubsidi bisa sampai Rp 2,5 juta per kepala. Dengan catatan mereka wajib masuk toko dan berbelanja.

“Satu kepala bisa Rp 2,5 juta disubsidi oleh toko, setelah ada wacana penutupan, akhirnya langsung subsidi dicabut, sepihak, saya rugi saat pesawat lending Rp 600 juta, dan akan ada lanjutanya lagi,” ujar Kris.

Dengan penjelasan ini, Parta langsung menohok dengan mengatakan kenapa bisa sampai toko berani mensubsidi sebesar itu. “Kok bisa toko subsidi sebanyak itu? Ada apa di balik ini?” tanya Parta, ingin mengungkap permainan toko – toko tersebut.

Namun Kris mengatakan, itu terkait strategi toko – toko tersebut. Terkait dengan kerugian yang disebutkan, oleh Kris itu dia mengaku bingung. Sehingga dirinya berharap toko – toko ini segera dibuka. “Saya rugi, dengan kondisi ini saya berdoa agar pesawat dari Tiongkok yang subsidinya dicabut agar jatuh sebelum mendarat di Bali,” ujar Kris seenaknya.

Kondisi ini membuat Parta langsung menegur Kris. Parta mengatakan tidak boleh seperti itu. “Jangan gitu, ndak boleh seperti itu. Kok mendoakan yang jelek, biar pesawat jatuh,” cetus Parta.

Akhirnya Kris minta maaf. Namun Parta terus menyerang, dengan mengatakan bahwa Kris rugi itu akibat bekerjasama dengan jaringan usaha ilegal, jaringan usaha bermasalah. “Kenapa mau kerjasama dengan toko – toko yang tidak ada izin, binis bermasalah. Ditutup di Tiongkok, Thailand ke Bali juga bermasalah. Kalaupun sekarang disebut mau bangun di Manado, Bintan, nanti di sana juga bermasalah,” kata Parta.

Bahkan ketika permohonan beberapa orang dituruti dengan tidak menutup, nanti kedepannya akan bermasalah lagi. Dengan kondisi ini Parta, mengharapkan agar semua pihak mendukung langkah yang diambil pihak DPRD Bali. “Sudah berizin travel bapak, kenapa tidak mengeluh ke ASITA,” tanya Parta. “Saya ada izin, tapi saya tidak bergabung ke ASITA,” jawabnya enteng.

Kemudian yang menarik, lagi adalah penjelasan Handi. Dia mengulas bahwa usaha – usaha yang berkembang di Bali memang milik jaringan mafia Tiongkok dan Mafia Hongkong. “Memang mereka jaringan mafia, namun kita di Bali semestinya bekerjasama dengan baik dengan mafia itu. Karena uangnya banyak sekali,” kata Handi.

Pria asal Pangkal Pinang, yang mengaku sudah ber KTP Bali, itu mengatakan, walaupun mafia (pemain) tetap bisa memberikan dampak ekonomi bagi Bali. “Mafia itu bangun toko, bangun jaringan, kemudian subsidi ke wisatawan ke Bali. Kemudian banyak wisatawan Tiongkok datang, ini yang membuat pariwisata Bali hidup,” urainya.

“Jadi Bali perlu mafia ini, uangnya mereka triliun dan bisnisnya mereka membangun jaringan toko model di Bali, di seluruh Dunia,” kata dia.

Atas kondisi ini Parta mengatakan, Bali tidak perlu pemain, pebisnis nakal namun perlu yang bagus. “Kalau jenis mafia, dia untung kemudian setelah banyak untung pergi. Kami perlu yang mau menjaga Bali, menjaga dan merawat budaya Bali,” kata Parta menanggapi.

Sedangkan Setiawan selaku pemilik Desa Rafting mengatakan bahwa, mereka perlu kepastian terkait kapan selesai penataan. “Kami ingin tahu, kapan masalah ini selesai. Kapan bisa tuntas masalah ini, biar ada kejelasan terkait bisnis ini,” kata Setiawan.

Parta menyebutkan, semakin cepat semakin baik. Akhirnya menyimpulkan pertemuan, dengan memastikan DPRD Bali tetap dengan sikap bahwa meminta agar Gubernur Bali, Bupati dan Walikota untuk menutup usaha tak berizin terkait jaringan toko Tiongkok. Kemudian terkait yang berizin, dengan posisi sudah banyak masalah dan merusak citra pariwisata Bali, juga agar ditutup semuanya. Kemudian segera lakukan penataan untuk bisa nanti ada perbaikan mendasar terkait bisnis seperti ini.

“Kami tidak ada niat lain, selain untuk kebaikan Bali kedepan. mari dukung sama – sama, untuk ditutup dulu kemudian ditata, untuk lebih bagus dan bisa beraktivitas lagi, dengan ketentuan aturan berlaku,” pungkas Parta.

Sedangkan pihak yang membawa aspirasi mengatakan, bahwa 16 November 2018 sudah ditutup semua. “Semua sudah tutup, saat ini sebenarnya sudah lebih banyak tutup. 16 November akan tutup semua, ini instruksi dari ASITA dan Gubernur,” tegas Kris dibenarkan oleh Putu Darmaya, Setiawan dan lainya. 

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia