Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Kreasi Keliru, Tari Pendet Tak Pantas Dibuat Lelucon

13 November 2018, 12: 40: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kreasi Keliru, Tari Pendet Tak Pantas Dibuat Lelucon

KELIRU: Mementaskan tarian Pendet, tarian baku untuk sebuah banyolan atau lelucon, dinilai keliru. Kreasi lelucon dalam tarian baku, secara tidak langsung akan menghilangkan karakter atau tujuan asli dari tarian tersebut. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Tarian merupakan sebuah ekspresi seni yang digambarkan lewat gerakan tubuh, lirikan mata dan sinkronisasi gerakan dengan nada gambelan. Tarian juga membawa makna tersirat yang dibawakan lewat gerak penarinya. Namun, tak jarang tarian khusus akhirnya dibawakan  sembarang dengan tujuan sebagai ajang lucu - lucuan.

Senin diistilahkan sebagai kegiatan tanpa batas. Seorang seniman dapat mengeksplorasi rasa dan karsanya lewat beragam bentuk karya seni, mulai dari seni lukis, seni tarik suara, seni ukir, dan seni tari. Namun, bagaimana jika bentuk kebebasan tanpa batas tersebut kebablasan atau keluar tanpa batas? Dosen sekaligus Budayawan, Komang Indra Wirawan Ssn M fil H, sangat tidak setuju dengan model tari serius yang akhirnya dibikin banyolan.


Wirawan mengritisi  sekaligus mengatakan tidak pantas adanya video Tari Pendet yang ditarikan oleh laki - laki yang membawa pisang dan ditarikan secara sembarangan. Pasalnya, Tari Pendet dahulu dibuat sebagai sarana persembahan dan berkembang menjadi tari pertunjukan.


Ketika tarian tersebut masih dalam batasan pakem, lanjutnya, tentunya tidak boleh dibawakan dengan cara sembarangan dengan tujuan lucu - lucuan. "Memang, dalam melakukan aktivitas kesenian ada istilah tanpa batas. Apapun itu bentuk seninya, sang seniman bebas mengekspresikan jiwa, rasa dan raganya dalam seni. Namun, yang terjadi belakangan banyak pelaku seni yang tidak pas memposisikan karya seninya sehingga terkesan melecehkan,"ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (12/11) kemarin. Tak disanggahnya, belakangan banyak pelaku seni membawakan tarian baku atau tarian yang memiliki pakem dengan cara sembarangan (diluar pakem tari yang ada), dengan tujuan sebagai ajang lucu - lucuan. 

"Boleh saja membawakan sebuah tari dengan disisipi unsur babanyolan. Tapi jangan menggunakan tarian yang baku atau sudah memiliki pakem. Dicontohkannya, dalam video yang disebar di media sosial,  sejumlah pria berpakaian seperti penari Pendet, membawakan tarian Pendet dan gambelannya pun Tari Pendet. Artinya, secara tidak langsung mereka merusak pakem Tari Pendet.  "Tari Pendet itu dibuat dengan tujuan sebagai sarana persembahan.  Secara tidak langsung, kita sendiri yang tidak bisa menghargai budaya dan warisan nenek moyang," ujarnya.


Wirawan menegaskan, boleh saja para pelaku seni menampilkan pertunjukan sebagai hiburan, tapi tidak boleh menggunakan tarian yang baku. " Buatlah tarian baru yang tidak memiliki pakem khusus seperti Pendet, tarian dan gambelannya dibuat memang khusus untuk pertunjukan yang bertujuan untuk babanyolan. Selain menghindari pandangan miring, dengan membuat tarian sendiri, kita secara tidak langsung menghargai karya seni orang lain. Apakah kita senang jika karya kita dirusak dan dibuat lucu lucuan,"  tanyanya.


Dalam video berdurasi satu menit tersebut, terlihat para lelaki mengenakan pakaian Tari Pendet dengan improvisasi menggunakan buah pisang. Di tengah -tengah pertunjukan, para penari lelaki tersebut melahap pisang susu yang sedari awal dilahapnya. Tak hanya mengenakan pakaian khas penari Pendet, mereka juga menggunakan gambelan dan bokoran berisi bunga khas pakem Tari Pendet. "Menurut saya cara seperti itu keliru, karena si seniman tidak pas memposisikan diri mementaskan tarian Pendet, tarian baku untuk sebuah banyolan atau lelucon. Cara  tersebut secara tidak langsung akan menghilangkan karakter atau tujuan asli dari tarian tersebut.Sebaiknya buat tarian yang memang khusus untuk hiburan,tanpa merusak tatanan yang sudah ada," tegasnya.


Ia juga mengimbau kepada para pelaku seni untuk tidak keluar dari proses ruang dan waktu. " Seni itu proses rasa, tapi kita juga harus bisa memposisikan diri. Tidak serta merta demi kebebasan jadi kebablasan.  Apapun bisa dipentaskan, dengan  syarat proses ruang dan waktu dilakoni dengan baik dan benar,dengan kondisi pantes bisa lan dadi aksamayang," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia