Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Pilih Shortcut atau Toilet Gratis 24 Jam di Jalur Singaraja-Denpasar?

Oleh: Made Adnyana Ole

17 November 2018, 07: 45: 13 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pilih Shortcut atau Toilet Gratis 24 Jam di Jalur Singaraja-Denpasar?

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

PILIH mana, shortcut atau  toilet gratis 24 jam di jalaur raya Singaraja-Denpasar? Jika pertanyaan konyol yang bobotnya tak seimbang itu diajukan kepada saya, jawaban saya adalah toilet gratis 24 jam. Sebentar, jangan protes dulu.

Sebagai orang yang sering bolak-balik Singaraja-Denpasar atau Singaraja-Tabanan, saya lebih sering dipusingkan oleh toilet ketimbang oleh jalan berliku. Jalan berliku dengan jarak tempuh yang lama bisa diatasi dengan cara mengatur waktu. Jika punya banyak waktu, jalan berliku bisa dinikmati secara romantis dengan gas motor tipis-tipis sembari merasakan hembusan angin dan pemandangan bukit yang indah. Jika tidak punya waktu lama, dan harus tiba di suatu tempat dengan jam yang tepat, maka bangunlah lebih awal dan berangkat lebih awal dari rumah.

Tapi kebutuhan akan toilet tak bisa diatasi dengan cara mengatur waktu. Sekarang ingin kencing, ya secepatnya harus dapat toilet. Keinginan untuk kencing tak bisa diduga. Sementara toilet tak begitu mudah bisa ditemukan di jalur Singaraja-Denpasar, terutama pada malam hari. Saya, sebagai laki-laki, bisa saja dengan menutup rasa malu, untuk kencing sembarang di tepi jalan, di pinggir kebun, atau di dalam semak-semak hutan. Tapi istri saya dan anak perempuan saya yang baru menginjak remaja, selalu bikin saya pusing jika mereka kebelet ingin kencing. Jika kebelet kencing, dua perempuan yang saya sayangi itu, harus secepatnya bertemu toilet, dan harus kencing di toilet yang bersih dengan air yang lancar. Apa tak bikin pusing?

Bayangkan saja, di puncak Wanagiri, di wilayah gerombolan kera itu, tempat dagang sate dan bakso berjejer-jejer, tak juga ditemukan toilet. Padahal tempat itu adalah tempat istirahat bagi pengendara dari arah Singaraja maupun dari arah Denpasar, tempat mereka berhenti sejenak setelah capek memutar stang gas motor atau menginjak rem dan kopling mobil. Di lokasi itu seakan-akan hanya ada tempat untuk makan, tak ada tempat untuk buang air. Padahal makan dan buang air, dalam sebuah perjalanan yang panjang, adalah dua kebutuhan yang seimbang.

Memang, memang, ada toilet di restoran, di SPBU dan di warung modern. Tapi, perlu menekan perasaan secara ekstra jika harus masuk SPBU hanya untuk kencing tanpa beli bensin. Harus menutup rasa malu jika terpaksa masuk restoran tapi takut makan dengan harga cukup mahal. Atau, apa tidak malu masuk toko modern tanpa setidaknya mengambil camilan? Apalagi penjaganya dengan amat ramah menyambut kita dengan ucapan merdu, “Selamat datang, selamat berbelanja!” Saya tak pernah dengar penjaga toko modern bilang, “Selamat datang, selamat buang air kecil!”

Jika lewat tengah malam, bahkan SPBU, restoran, dan toko modern itu pun jarang yang buka di jalur raya Denpasar-Singaraja. Hanya ada terang di sejumlah tempat, seperti di Pasar Baturiti dan di deretan dagang kacang di Pasar Candikung. Selebihnya gelap, dan tak ada tempat nyaman untuk bisa buang air kecil.

Lalu, apakah hanya karena hal-hal sepele semacam itu maka toilet dianggap lebih penting dari jalan shortcut di jalur Denpasar-Singaraja? Jangan marah dulu, Pak, Bu. Mari lupakan sejenak tentang toilet, mari ngobrol soal shortcut.

Pembangunan jalur shortcut, atau jalan baru, atau jalan apa pun namanya, yang dianggap lebih bagus dari jalan lawas, -- yang mendekatkan jarak antara Buleleng dan Denpasar via Bedugul -- sudah sah, resmi, dan dimulai. Upacara peletakan batu pertamanya sudah digelar dengan gegap-gembira. Yang paling gembira tentu saja politisi. Tentu, karena shortcut dianggap sebagai salah satu proyek yang bisa membuat Bali Utara dan Bali Selatan jadi seimbang, adil dan merata. Di Pilkada Bali, bukankah  keseimbangan utara-selatan sudah sejak lama jadi bahan kampanye yang tak habis-habis? 

Tak ada suka-cita melebihi suka-cita seorang politisi saat ia bisa memenuhi janji-janji kampanyenya dengan sukses, lulus dan mulus. Apalagi jika ia sukses memenuhi janji kampanye kepada warga Buleleng. Karena siapa pun pasti sadar, di setiap Pilkada Bali, besarnya jumlah penduduk di Kabupaten Buleleng selalu dihitung dengan kalkulator politik sebagai faktor penentu kemenangan seorang calon gubernur.

Maka, jika untuk hitungan-hitungan jumlah pemilih dalam Pilkada, penduduk Buleleng memang terkesan jadi lebih istimewa. Untuk itulah tim kampanye harus menyiapkan materi kampanye yang lebih istimewa juga, jikalau berhadapan dengan massa pencoblos di Buleleng. Dipilihlah tema besar: keseimbangan Bali Utara dan Bali Selatan. Materi pembangunan yang dikampanyekan terkesan monumental yang selalu dipenuhi ekspektasi tentang kemajuan dan kesejahteraan yang dimimpi-mimpikan semua orang. 

Saking seringnya disebut-sebut dari musim pilkada ke musim pilkada berikutnya, warga Buleleng bisa menyebutkan dengan pasih wacana-wacana kampanye itu. Selain shortcut, ada wacana bandara internasional, pelabuhan kapal pesiar, dan pelabuhan cargo, dan banyak lagi. Meski wacana itu terbukti susah-payah terwujud jadi nyata, tapi wacana itu terus diucapkan semudah membelokkan lidah untuk menelan ludah. Maka, jika terwujud satu saja, seperti shortcut itu, maka kegembiraan pun meledak, seakan-akan besok keseimbangan utara-selatan langsung terwujud, sementara di sisi lain kadang kita melupakan hal-hal sepele, seperti toilet gratis 24 jam yang kadang benar-benar kita butuhkan untuk kesehatan dan kelancaran dalam perjalanan.

Untuk itulah, kadang saya ingin mendengar ada caleg pada Pileg 2019 ini kampanye dengan santai dengan janji program yang ringan saja, yang mudah dibuat dan gampang dipenuhi tapi benar-benar dibutuhkan warga. Misalnya membangun tempat pengolahan sampah di setiap desa. Jangan ikut-ikutan menjanjikan bandara internasional yang tak pernah bisa dipahami secara rinci bagaimana cara membangunnya, apalagi membangun di atas laut atau di udara.

Untuk itu, bisa ditiru inisiatif warga yang berumah di pinggir jalan Singaraja-Denpasar. Mereka lebih bisa menyerap aspirasi dan menduga-duga dengan baik apa kebutuhan warga yang sering lewat di jalur itu. Mereka paham, warga perlu berhenti untuk kencing, maka ramai-ramailah mereka membangun toilet swasta di emper rumah, lalu memasang tulisan besar-besar di pinggir jalan: “TOILET”. Namanya juga toilet swasta, jika masuk ke situ, ingatlah bayar. Tarifnya macam-macam, Rp 1.000 atau Rp 2.000. 

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia