Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Babi Guling Men Rebo, Buka Tiap Rabu, Bebas Tambah Kulit Sampai Puas

17 November 2018, 07: 49: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Babi Guling Men Rebo, Buka Tiap Rabu, Bebas Tambah Kulit Sampai Puas

DISERBU: Nasi Babi Guling Men Rebo saat diserbu pembeli, Rabu (14/11). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Menu Nasi Babi Guling memang menjadi primadona di Bali. Hampir setiap sudut daerah di Bali ada warung yang menyediakan Nasi Babi Guling. Namun warung Nasi Babi Guling yang satu ini tetap dicari oleh para pelanggannya, meskipun hanya buka setiap hari Rabu saja.

Men Rebo, begitulah warung Nasi Babi Guling ini dikenal. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Tepatnya di pinggir jalan utama Penyalin-Kerambitan memasuki Banjar Selingsing Kelod, Desa Pangkung Karung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.

Disebut Men Rebo karena warung ini hanya menyediakan menu Babi Guling setiap hari Rabu saja dimana orang Bali lebih mudah menyebut hari Rebo. Citarasa Babi Guling yang bumbunya begitu meresap dan kulit Babi Guling yang renyah membuat Nasi Babi Guling Men Rebo selalu menjadi incaran para pelanggan. Sehingga tak heran, ketika hari Rabu tiba antrian pembeli akan mengular apalagi ketika jam makan siang.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pemilik warung Men Rebo, Ni Wayan Sulami, 62, menuturkan jika usaha warung Nasi Babi Guling tersebut baru ia mulai sekitar tiga tahun yang lalu. Dimana sebelumnya, ia hanya berjualan rujak, tipat dan makanan ringan di warung yang ada tepat di depan rumahnya. “Baru tiga tahun ini coba jualan nasi, kalau dulu jualan rujak, lontong, es,” ungkapnya Rabu (14/11).

Sejatinya, Mbah (Nenek, Red) Sulami berjualan nasi setiap hari, namun hanya berjualan Nasi Babi Guling setiap hari Rabu saja. Sedangkan hari lainnya ia berjualan Nasi Be Genyol. Jika pada hari Rabu ia berjualan Nasi Babi Guling mulai pukul 11.00 Wita, pada hari lainnya ia berjualan Nasi Be Genyol mulai pukul 16.00 Wita hingga pukul 20.00 Wita. “Kalau Nasi Be Guling biasanya buka dari jam 11.00 sampai habisnya itu biasanya jam 20.00 Wita,” imbuhnya.

Dalam menyiapkan masakan, Mbah Sulami dibantu suaminya I Made Sudiarta, 70. Mereka berdua akan bangun pukul 04.00 Wita untuk mulai menyiapkan makanan yang akan mereka jual. Tentunya mereka berdua juga harus nampah celeng yang kemudian diguling oleh Pekak Sudiarta sebelum dijual. Sedangkan Mbah Sulami menyiapkan menu lainnya berupa be gorengan, be balung kuah, hingga lawar.

Meskipun sudah renta, tenaga keduanya masih cukup bugar untuk menyiapkan berbagai masakan. Bahkan Pekak Sudiarta mampu mengguling babi dengan berat kisaran 60 hingga 90 kilogram setiap hari Rabu. Untuk babi yang mereka gunakan sebagai Babi Guling kebanyakan merupakan babi yang mereka pelihara langsung. “Tetapi kalau tidak ada kadang beli langsung babinya, lalu kita potong dan guling di rumah,” sambung Mbah Sulami.

Tentunya yang membuat masakan Mbah Sulami semakin sedap adalah cara memasak yang masih tradisional yakni menggunakan tungku kayu bakar. Babi pun diguling cukup lama yakni 4 hingga 5 jam agar matangnya merata dan kulitnya renyah. Dalam satu porsi Nasi Guling Men Rebo terdapat daging Babi Guling, be gorengan yang terdiri dari jeroan babi goreng, hati goreng, darah goreng, kuah balung, lawar dan sambal, serta yang tak boleh ketinggalan adalah kulit Babi Guling yang renyah.

Satu porsi Nasi Babi Guling campur dibandrol dengan harga Rp 20.000 sedangkan Nasi Babi Guling yang nasi dan lauknya dipisah dihargai Rp 25.000. Tetapi bagi yang ingin mendapatkan kulit Babi Guling lebih bisa request kepada Mbah Sulami, cukup dengan menambah Rp 10.000 saja. Dalam sehari, 200 hingga 300 porsi Nasi Babi Guling Men Rebo ludes terjual.

Salah seorang pelanggan Nasi Babi Guling Men Rebo, Pandu Ari Wiguna, asal Sakenan, Tabanan mengatakan jika dirinya memang sudah sering kali menikmati nasi di warung sederhana namun tak pernah sepi pembeli tersebut. Menurutnya yang membuat Nasi Babi Guling Men Rebo berbeda terletak pada rasa kulit Babi Guling yang renyah dan daging Babi Guling yang bumbunya meresap.

“Apalagi bebas tambah kulit dan balung, cuma ya harus antri,” ujarnya.

Ditambahkannya, ia bersama kawa-kawannya datang sekitar pukul 11.00 Wita ke warung Men Rebo dengan maksud mendapatkan antrian pertama, namun tak disangka sesampainya di warung antrian sudah panjang sehingga membuat mereka harus menunggu sampai 45 menit. “Memang banyak yang suka jadi banyak yang antri, jadi harus sabar,” tandasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia