Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Warga Umbalan Pantang Nikahi Warga Bonyoh, yang Melanggar Kasepekang

17 November 2018, 11: 46: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Warga Umbalan Pantang Nikahi Warga Bonyoh, yang Melanggar Kasepekang

WAYAN TEKEK: Bendesa Desa Pakraman Umbalan, Bangli, I Wayan Tekek dan warganya, sangat meyakini jika pantangan dilanggar akan ada sanksi sekala dan niskala. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Tiap desa di Bali memiliki Awig – awig (aturan) tertulis dan tak tertulis yang dilaksanakan secara turun temurun. Salah satunya seperti aturan tidak diperbolehkannya terjadi pernikahan antara Warga Desa Umbalan dengan Warga Desa Bonyoh, Kintamani, Bangli. Mengapa harus ada aturan unik  demikian?

Bendesa Desa Pakraman Umbalan, Bangli, I Wayan Tekek mengatakan, aturan tidak boleh menikah warga  Desa Umbalan dengan warga Desa Bonyoh itu, terkait sejarah asal usul masyarakat Umbalan. Dalam kisah berdirinya Desa Umbalan, lanjutnya,  dikatakan leluhur masyarakat Umbalan berasal dari Desa Bonyoh, Kintamani. Maka sebab itu, seluruh tradisi dan budaya di Desa Umbalan hampir serupa dengan tradisi dan kebiasaan yang ada di Desa Adat Bonyoh.

“Dahulu nenek moyang kami berasal dari Desa Bonyoh Kintamani. Kalau tidak salah Ibu dari leluhur kami yang berasal dari sana. Mungkin karena itu, antara kami dengan masyarakat Desa Bonyoh masih ada ikatan saudara. Jadi, tidak diperkenankan untuk menikah antara satu sama lainnya,” jelas  Wayan Tekek kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan lalu. 


Adanya hubungan persaudaraan ini juga diperkuat dengan adanya tradisi tangkil yang dilakukan warga Desa Bonyoh  ketika Pujawali di Pura Desa Umbalan. “Tiap Pujawali di Pura Desa Umbalan, masyarakat Desa Bonyoh selalu datang membawa gambelan. Bhatara di Bonyoh juga tedun dan ikut mamargi di sini. Begitu juga sebaliknya, ketika ada Pujawali atau Piodalan di Pura Desa Bonyoh, maka warga kami pun berduyun – duyun datang tangkil juga dengan membawa gambelan,” ujarnya.


Wayan Tekek mengungkapkan, secara niskala konon Ida Bhatara Sasuhunan di Desa Umbalan ngamenyanang Ida Bhatara di Desa Bonyoh. Maka dari itu, muncullah aturan tidak boleh menikah antara kedua warga desa tersebut. “Ibaratnya desa kami dan Desa Bonyoh itu bersaudara. Menikah dengan saudara kan dianggap salah. Meskipun secara genetik sudah jauh hubungannya, tapi secara spiritual tidak. Warga Desa Bonyoh bagi kami tetaplah penua atau keluarga jauh,” terangnya.


Lantas, bagaimana jika terjadi pernikahan antar kedua warga desa tanpa disengaja? Ditegaskannya, sanksi secara adat terbilang lebih ringan dibanding sanksi niskala. “Kalau yang melanggar aturan tidak boleh berpoligami biasanya dicabut statusnya sebagai warga desa. Nah begitu pun dengan aturan tidak boleh menikah dengan warga Bonyoh, akan ada sanksi adat dan sanksi niskala. Kalau sanksi adat biasanya akan dikucilkan atau  Kasepekang. Sanksi niskalanya, kehidupan rumah tangganya akan hancur berantakan dan umur pernikahannya pun hanya seumur jagung,” terangnya.


Wayan Tekek mengakui memang pernah hampir terjadi pernikahan antara pemuda Desa Umbalan dengan gadis dari Desa Bonyoh. Namun setelah diketahui silsilahnya, akhirnya pernikahan tersebut dibatalkan.


Dikatakan Wayan Tekek, pemudanya berasal dari Desa Umbalan, pacarnya berasal dari Desa Bonyoh, namun sudah lama menetap bersama orang tuanya di Kota Denpasar. Setelah berpacaran selama dua tahun, akhirnya mereka memutuskan menikah. Ketika pertemuan kedua keluarga, baru diketahui ternyata keluarga si gadis berasal dari Desa Bonyoh, dan keluarga si gadis juga baru mengetahui kalau kekasih anaknya berasal dari Desa Umbalan.

“Mereka baru sama – sama tahu, karena selama ini mereka tinggal di Denpasar. Setelah tahu, akhirnya kedua keluarga memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan. Memang di awal, kedua calon mempelai mengaku tidak rela, tapi setelah dijelaskan akhirnya mereka mengiklaskan,” ujarnya. 
Lantas, apa yang akan terjadi jika benar – benar terjadi pernikahan atara kedua warga desa? Bendesa yang juga berprofesi sebagai praktisi ini menjelaskan, secara niskala biasanya pernikahan tersebut tidak akan berlangsung lama. “Ada saja bencananya, tak hanya bagi kedua mempelai, bagi keluarga kedua belah pihak pun akan merasakan,” tuturnya.


Bencana yang dimaksud seperti mengalami sakit, cekcok yang tak berkesudahan, atau salah satu akan meninggal dunia. “Ya katanya bisa jadi salah satu akan meninggal dahulu, atau cekcok dan sakit. Namanya saja niskala, kita tak tahu apa yang terjadi. Itu kehendak niskala,” tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia