Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

De Javu, Intuisi Bagian dari Karma Phala

18 November 2018, 10: 07: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

De Javu, Intuisi Bagian dari Karma Phala

Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pernahkah Anda mengalami De Javu? Sebuah pengalaman dimana Anda merasa sangat familiar dengan sebuah tempat, padahal baru pertama kali datang ke sana. Atau rasa familiar ketika bertemu seseorang yang baru saja dikenal. Peristiwa ini dalam ajaran Hindu dikaitan dengan ajaran Punarbhawa atau Reinkarnasi, benarkah?

De Javu atau Paramnesia berasal dari bahasa Yunani yang berarti ingatan. "Secara ilmiah De Javu terjadi karena adanya gelombang alpha yang dihantarkan kepada otak dalam jangka waktu tertentu. Gelombang ini berbentuk aliran listrik yang dikirim dan dibaca otak secara otomatis. Bangun, jika dikaji secara ajaran Hindu, De Javu konon merupakan memori dari kehidupan sebelumnya atau Reinkarnasi,"  papar  Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (14/11).

Menurut Sulinggih yang juga dosen IHDN Denpasar ini, De Javu ada kaitannya dengan ajaran Phunarbhawa (Reinkarnasi) yang terjadi pada Atman. Atman yang telah mengalami Reinkarnasi berkali – kali umumnya akan membawa ingatan khusus yang baginya berharga dari kehidupan masa lampau. “Kita di Hindu sangat percaya adanya Punarbhawa atau Reinkarnasi. Atman bereinkarnasi berdasarkan Karma ( tingkah laku) yang telah diperbuat. Ketika sang Atman mengalami Reinkarnasi yang berulang – ulang, maka terkadang ia akan merasa De Javu atau merasa pernah bertemu, dan berkunjung pada tempat tertentu,” jelasnya.

Punarbhawa berasal dari kata Punar yang berarti lagi, sedangkan Bhawa berarti menjelma atau terlahir. Punarbhawa atau Reinkarnasi berarti kelahiran kembali yang berdasarkan Karma atau buah perbuatan. “Memang ada kaitannya, yang mereka sebut De Javu sebenarnya adalah memori atau ingatan Sang Atman dalam menjalani kehidupan sebelumnya. Tak hanya Karma yang melekat pada Sang Atman, terkadang memori tertentu atau ingatan yang dianggap berharga juga dibawa hingga kelahiran berikutnya,” tuturnya. 

Dikatakannya, ingatan yang dimaksud tak serta merta selalu muncul, namun ingatan yang dianggap berharga itu muncul ketika menemukan faktor pemicu. “Tidak selalu kita bawa ingatan itu, biasanya ingatan itu ada di bawah sadar kita. Nah itu akan muncul ketika ada faktor pemicunya, seperti ada di tempat yang sama, atau bertemu seseorang yang mirip dengan seseorang di masa lalu kita,” ujarnya.

Lantas, mengapa kita hanya mengingat memori tersebut ketika bertemu faktor pemicunya? Dikatakannya, otak manusia memiliki kapasitas memori  yang terbatas. Memori manusia sangat terbatas. Ditambahkannya, ada sebuah penelitian baru – baru ini menemukan kapasitas memori manusia hanya 1 Petabyte atau setara dengan 10 juta Gigabyte yang digunakan sepanjang masa hidupnya.

"Jika komputer memorinya habis, bisa diganti dengan yang lebih besar. Namun, kalau manusia tidak bisa seperti komputer. Maka itu, ingatan – ingatan yang berasal dari bawah sadar biasanya akan muncul hanya pada saat ada faktor pemicu. Dan, itupun hanya akan muncul sepotong – sepotong dari uraian kejadiannya,” ungkapnya.

Dikaji dari ajaran Punarbhawa, lanjutnya,  seseorang yang telah meninggal dunia akan mengalami Stula Sarira atau pelepasan badan jasmani yang kemudian akan menuju Surga atau Neraka. Setelah waktu tertentu, Sang Atman akan menjalani kelahiran kembali yang disebut Punarbhawa atau Reinkarnasi.

Atman yang  bereinkarnasi masih dalam bentuk embrio atau bayi dalam kandungan umumnya masih membawa ingatan kehidupan masa lalunya secara utuh. “Memang bayi yang masih dalam kandungan dikatakan masih membawa ingatan dari kehidupan masa lalunya. Hal itu juga dijelaskan dalam kitab Garbha Upanisad,” ujarnya.


Dalam Kitab Garbha Upanisad dijelaskan, bahwa ketika bayi dalam kandungan berumur 0 hingga 9 bulan, sang bayi dapat mengingat kehidupan masa lalunya. Ingatan tersebut dikatakan sebagai intuisi yang akan menuntunnya sesuai karma perbuatan. “Nah De Javu itu sebenarnya bagian dari intuisi yang dimiliki masing – masing manusia sebagai bagian dari Karma Phala atau buah dari perbuatan,” tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia