Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Pentas 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah, Jadi Hujan Air Mata

18 November 2018, 19: 25: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pentas 11 Ibu, 11 Panggung, 11 Kisah, Jadi Hujan Air Mata

PENTAS: Tini Wahyuni dalam pementasan 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah, Sabtu malam (17/11). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah memasuki pentas ke-9 pada Sabtu lalu (17/11). Kali ini sang aktor adalah Tini Wahyuni. Ia membawakan kisah “Kinanti Cahaya Hidupku”. Dalam pentasnya yang dilangsungkan di rumah Tini Wahyuni Jalan Ngurah Rai Nomor 25 Singaraja, Tini seolah membagi kepahitan dari perceraian yang sempat membuatnya linglung.

Pentas kali ini menjadi sebuah refleksi perjalanan seorang Tini Wahyuni sebagai perempuan, sebagai ibu, dan sebagai manusia yang berevolusi dari waktu ke waktu. Seperti dikatakan sutradara, Kadek Sonia Piscayanti. Ibu selama ini senantiasa menjadi pusat kekuatan keluarga, selalu melindungi keluarga dan selalu berbuat sebaik mungkin untuk keluarga.

“Selama ini kaum ibu selalu mengurusi segala tetek bengek kehidupan. Sehingga lupa bahwa ada sesuatu yang berharga dari dirinya yang patut didengar, patut dibagi. Kami berharap publik mendengar pula dengan jernih,” ujar Sonia.

Sementara bagi sang aktor, Tini Wahyuni, alasannya berbagi melalui project ini, ada dua. Pertama, ia menyebut tujuannya adalah untuk mendengar, berbagi, dan mengizinkan menjadi diri sendiri. Selanjutnya alasan kedua, Tini menilai bila project teater adalah sebuah terapi, bagi diri dan bagi orang lain yang mengalami kisah sepertinya.

“Dengan mendengar cerita saya, barangkali orang dapat mengambil pelajaran bermakna tentang hidup, perceraian dan kematian,” ujar Tini, Sabtu malam.

Pementasan sang aktor seolah merekam seluruh perjalanan hidupnya yang kini berada di titik kulminasi. Perceraiannya dua kali sangat banyak memberinya waktu belajar. Sempat kehilangan hak asuh Kinanti anak tunggalnya sempat membuatnya limbung.

“Dalam kesunyian itu saya selalu merindukan Kinanti. Saya dilarang bertemu Kinanti. Saya hampa. Saya ingin menyapanya. Suatu hari saya menelpon ke rumah ayahnya, Kinanti mengangkat telepon. Dia menyangka saya kekasih ayahnya, dia bercerita banyak tentang hari-harinya. Saya mendengar dan masih menahan diri, mengatakan Kin, ini Mama. Kinanti menutup telpon,” katanya.

Tini juga meninggalkan dunia dokter yang digelutinya. Ia kini menjadi seniman pelukis, penulis dan penyendiri. Namun Ibu Tini menyadari bahwa kini ia memang lebih nyaman sendiri.

“Perceraian membuat saya limbung dan hilang arah. Sebagai ibu, tak ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan kesempatan menumbuhkan anak. Saya mencoba berdamai, namun perdamaian itu terasa sangat jauh. Namun kembali Gibran menyadarkan saya bahwa Kinanti adalah anak saya namun bukan milik saya. Ia adalah anak semesta. Yang senantiasa akan dimiliki oleh semesta. Dalam kesunyian itu saya belajar mengenal diri sendiri,” ucapnya dalam pementasan tersebut.

Kisah Tini pun seolah membawa pesan cerita, nilai-nilai dan catatan-catatan penting untuk dilihat kembali, diacu kembali, atau direfleksi, dan bahkan didebat kembali. Sebab bukan semata cerita itu inti persoalannya, namun nilai-nilai di balik cerita itu.

Di sisi lain, Tini Wahyuni adalah seorang yang unik dengan kepribadian INTJ. Yaitu Introversion, Intuition, Thinking and Judgment. Secara umum orang dengan kepribadian ini bersifat penyendiri, suka berpikir sendiri dan menganalisa sendiri dan memutuskan sendiri bahkan menghakimi sendiri.

Ia sadar dengan kelemahan kepribadian ini yang cenderung membuatnya tertutup dan sinis pada dunia baru. Namun saat bermain peran ini, Tini Wahyuni berevolusi menjadi pribadi yang damai dengan bantuan proses yoga dan meditasi yang dijalaninya. Ia bisa berbagi kisah dan bahkan menganggap bahwa berbagi kisah adalah sebuah terapi. Ia berevolusi menjadi manusia yang lebih baik.

Tak ayal, pementasan itu menjadi hujan air mata bagi penonton yang mengetahui kisah Tini Wahyuni. Anaknya, Kinanti Praditha terlihat terharu dan memeluk Mamanya. Beberapa temannya dari alumni SMAN 1 Singaraja angkatan 1983 juga memberi kesaksian betapa tangguhnya Tini Wahyuni. Bahkan menangis memeluk Tini Wahyuni. Suasana haru tak dapat dibendung.

Naomi Srikandi, seorang seniman teater menegaskan bahwa teater adalah ruang alternatif saling mendengar di antara perempuan, ruang aman dan nyaman untuk berbagi. Bagi Naomi, Sonia selaku sutradara sudah mampu membawakan gagasan itu tidak hanya sebagai gagasan di kepala. Namun sebagai ruang nyata yang terjadi dalam proses pembuatan teater ini.

“Saya pribadi sangat mendukung gagasan ini dan berharap teater dengan pendekatan documenter ini menjadi kegiatan berkelanjutan,” singkatnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia