Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali

Ada Nasi Goreng Hijau di Tukad Bindu, Transaksinya Pakai Uang Kepeng

18 November 2018, 19: 50: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Nasi Goreng Hijau di Tukad Bindu, Transaksinya Pakai Uang Kepeng

HIJAU: Nasi goreng hijau, salah satu kuliner yang ada di Peken Nusantara, Tukad Bindu, Denpasar, Minggu (18/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Nasi goreng umumnya berwarna merah kecokelatan, namun berbeda dengan apa yang disajikan di Peken Nusantara, Tukad Bindu, Denpasar, Minggu (18/11). Salah satu stand kuliner menyediakan nasi goreng hijau yang dibuat dengan pewarna alami dan aman bagi kesehatan. Pemilik stand, Wayan Sutama mengaku sejak Desember 2017 telah menjalankan inovasinya tersebut.

Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) mewawancarainya, pria asal Pejeng, Gianyar, ini mengaku membuat nasi goreng hijau untuk membuat penemuan baru. Khususnya pada menu kuliner modern dengan mengadopsi unsur tradisional. “Saya buat nasi goreng hijau ini sejak akhir 2017. Karena berpikiran untuk mengadopsi unsur tradisional juga. Kalau campuran pewarna hijau umumnya kan pada bubur sumsum, jadi sekarang kita bawa ke nasi goreng,” jelasnya.

Dia mengatakan pewarna itu menggunakan daun basil, lantaran sangat berpengaruh terhadap rasa nasi dan aormanya sendiri. Berbeda jika dengan menggunakan daun pandan atau daun suji dianggap rasanya terlalu wangi dan tidak cocok untuk nasi. Sehingga ia sendiri telah beberapa kali mencoba campuran warnanya, kemudian yang paling tepat ditemukan menggunakan daun basil tersebut.

Lanjut Sutama, satu porsi nasi goreng hijau tersebut seharga Rp 20 ribu, sedangkan selain di Peken Nusantara biasanya ia berjualan di Kedai Kemula Jalan Gatot Subroto Tengah, Denpasar. “Proses pembuatannya sama seperti membuat nasi goreng biasa. Bedanya hanya pada warna yang hijau ini, selain itu perbedaan juga ada di kualitas nasinya karena dicampur daun basil. Nasinya lebih empuk, begitu juga dengan aromanya lebih enak,” ungkap Sutama.

Pada tempat yang sama, salah satu panitia Peken Nusantara, Boby Andalan menjelaskan kegiatan itu dilakukan di Tukad Bindu lantaran untuk mempromosikan destinasi wisata lokal. Selain itu juga untuk mempromosikan pariwisata, kuliner lokal secara digital.  “Kita bentuk pasar-pasar ini dan kuliner lokalnya, karena transaksi di sini menggunakan uang lokal atau uang kepeng. Kalau ingin berbelanja jadi harus ditukar dulu uangnya di stand panitia, jadi tidak menggunakan uang langsung,” terang dia.

Penggunaan uang kepeng tersebut disediakan oleh pihaknya untuk pecahan mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 50 ribu. Boby sengaja menggunakan sistem uang kepeng hanya untuk menarik perhatian pengunjung saja, dan sebatas kombinasi dengan uang tradisional. Sedangkan seluruh stand kuliner di sana ia mengaku digratiskan semuanya. Bahkan diberikan tempat, stand termasuk juga modal.

“Melalui Pekan Nusantara ini juga kita harapkan mengembangkan perekonomian lokal dengan produknya masing-masing. Selain kita sediakan tempat, juga kita berikan modal sebesar Rp 500 ribu. Sedangkan peken ini  buka setiap hari minggu, diadakan di tempat ini juga dari pukul 08.00 sampai pukul 19.00,” imbuhnya. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia