Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Sempat Muntah Darah di Rutan, Terpidana Korupsi KPPE Meninggal

19 November 2018, 09: 18: 23 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sempat Muntah Darah di Rutan, Terpidana Korupsi KPPE Meninggal

MENINGGAL: I Ketut Kardita saat menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Denpasar beberapa bulan lalu. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Kabar tragis datang dari terpidana kasus korupsi dana Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KPPE) senilai Rp 95 juta, I Ketut Kardita,46. Pasca divonis bersalah dan dihukum selama setahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar pertengahan September 2018 lalu, kehidupannya berubah drastis.

Yang paling miris, hanya berselang sebulan pasca divonis, Kardita justru meninggal dunia. Dia sempat muntah darah hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Seperti dituturkan Edy Hartaka, mantan pengacara Kardita selama menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor.

"Dia sakit keras. Di rutan dia sempat muntah darah sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Tidak lama kemudian dia meninggal dunia," tutur Edy, kemarin (18/11).

Sebetulnya, sambung Edy, sejak menjalani proses sidang, almarhum Kardita sudah menderita sakit. Bahkan sempat mengajukan izin berobat kepada majelis hakim. Namun hakim saat itu meminta dilakukan vonis sekalian. Dengan pertimbangan jarak antara Denpasar dan Singaraja yang relatif jauh.

"Belum lagi anak-anaknya sekarang yang SD dan SMP putus sekolah. Karena gak tahan di-bully teman-temannya," imbuh Edy seraya menegaskan kembali bahwa Kardita sejatinya tidak bersalah.

Sekadar mengingat, pada 19 September 2018 lalu Kardita menjalani sidang putusan di Pengadilan Tipikor Denpasar. Oleh pimpinan sidang kala itu, Hakim Angeliky Handajani Day, Ketua Kelompok Tani Ternak Sari Biji di Banjar Dinas Penulisan, Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng itu dinilai terbukti secara meyakinkan bersalah melakukan tidak pidana korupsi sebagaimana dakwaan subsider.

Kemudian hakim memutuskan hukuman selama satu tahun penjara bagi Kardita. Serta denda sebesar Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan. Dan yang terakhir, Kardita diwajibkan membayar ganti kerugian negara yang besarnya Rp 95 juta.

Bila ganti rugi tidak dibayarkan sejak satu bulan setelah putusan itu ditetapkan, maka harta benda terdakwa akan disita untuk menutupi kerugian itu. Atau, bila harta bendanya tidak mencukupi, maka diganti dengan kurungan selama enam bulan.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia