Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Kolom

Perlukah Reuni 212 Digelar?

19 November 2018, 10: 05: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perlukah Reuni 212 Digelar?

Ilustrasi (ISTIMEWA)

SEJARAH aksi 212

Aksi 212 merupakan sebuah aksi yang diawali oleh sebuah perhelatan politik di negeri ini.  Sebuah proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta di tahun 2016 mencatat sebuah sejarah tentang berkumpulnya ratusan ribu umat Islam secara bersamaan.

Dipicu oleh pidato salah satu calon Gubernur DKI waktu itu yaitu Basuki Tjahaya Purnama tentang surat Al Maidah ayat 3, kemudian aksi bela Islam bergulir hingga ke aksi 212 yang terjadi di tanggal 2 Desember 2017.

Masyarakat muslim dari seluruh penjuru negeri mendatangi ibu kota untuk turut bergabung dalam aksi ini.

Tujuan aksi 212

Apa sebenarnya tujuan dari terselenggaranya aksi 212?

Tidak lebih dan tidak bukan adalah untuk mendesak agar kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama (sering dipanggil dengan nama Ahok) diadili.

Desakan kuat massa itulah kemudian yang menaikkan kasus hingga ke ranah pengadilan. 

Meskipun sebenarnya dakwaan yang dilakukan menimbulkan banyak polemik pro dan kontra namun pada akhirnya Majelis Hakim yang diketuai oleh Hakin Dwiarso Budi Santiarto memutuskan bahwa Ahok bersalah melakukan penodaan agama Islam.

Keputusan majelis hakim tersebut pun menuai pro kontra di banyak pihak. 

Pendukung Ahok  kemudian melakukan aksi damai dengan mengirimkan ribuan karangan bunga di balai kota Jakarta.

Adanya aksi tersebut kemudian turut berperan dalam memenangkan pasangan calon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017 – 2022.

Yang turut dalam aksi 212

Aksi 212 ini banyak diikuti oleh berbagai ormas Islam di Indonesia, namun yang memotori salah satunya adalah pimpinan FPI (Front Pembela Islam), Habib Rizieq Syihab.

Beberapa tokoh nasional yang juga turut meramaikan aksi ini diantaranya adalah : Amien Rais, Eggi Sudjana, Ahmad Dhani, dll.

Perjalanan 1 tahun aksi 212                                            

Ternyata tidak berhenti sampai disini kisah tentang aksi 212.  Meskipun tuntutan akan proses pengadilan hingga keputusan pengadilan menyatakan Ahok bersalah, ternyata kelompok ini ingin terus hidup dan dikenang.

Dalam upaya tersebutlah kemudian kelompok penggerak aksi tersebut membentuk kelompok Persaudaraan Alumni 212 atau sering disingkat dengan  nama PA 212.

Terdapat banyak inisiasi lanjutan yang dilakukan oleh para alumni aksi 212 tersebut.  Didaerah-daerah ada beberapa unit usaha yang dibuat oleh para alumni ini dengan menggunakan 212 sebagai nama usahanya.

Hingga yang terbaru adalah adanya rencana reuni aksi 212.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah reuni ini diperlukan?

Rencana akan diadakannya reuni 212, perlukah?

Negara ini, sebagai sebuah negara besar yang memiliki keanekaragaman suku bangsa tertinggi di dunia memberikan perlindungan terhadap kebebasan menyampaikan aspirasi dan berpendapat.

Demikian pula dengan adanya aspirasi alumni 212 yang menghendaki adanya sebuah seremoni yang mengenang keberhasilan perjuangan mereka 2 tahun lalu.

Akan tetapi, sebagai sebuah perjuangan yang tentunya diharapkan membawa perubahan ke arah yang lebih baik, perlu menyampaikan pola pikir alternatif.

Apakah pola pikir alternatif itu?

Tentu saja analisa dengan manfaat dan mudharat dalam setiap kegiatan.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah reuni 212 ini akan memberikan manfaat yang lebih banyak, atau justru mudharat yang lebih banyak.

Tentu saja kacamata yang digunakan hendaknya kacamata masyarakat umum yang nantinya juga akan terdampak kegiatan tersebut.  Bukan hanya kacamata penyelenggara yang tentunya melihat kebaikan-kebaikan di dalam acara tersebut.

Efek Yang Dimungkinkan Timbul Dengan Adanya Rencana Reuni 212

1.       Menambah kemacetan jalan

Jakarta sebagai sebuah ibukota negara termasuk kota yang agendanya padat.  Termasuk agenda pengumpulan massa dalam bentuk unjuk rasa/demonstrasi yang diselenggarakan oleh warga kotanya.

Dan  yang menarik adalah, kota ini juga termasuk kota dengan tingkat kemacetan yang sangat tinggi.

Tingginya tingkat kemacetan ini membuat warga kotanya setiap hari menghabiskan waktu lebih banyak di dalam kendaraan dari pada di tempat lain.

Karena tingkat kemacetan yang tinggi ini pulalah yang menjadikan kota ini giat membangun sarana transportasi alternatif.

Tujuannya salah satunya adalah untuk mengurangi tingkat kemacetan jalannya.

Dapat dibayangkan bukan?

Untuk memenuhi kebutuhan jalan raya untuk kegiatan sehari-haripun, jalanan di Jakarta sudah macet luar biasa. 

Apalagi bagaimana jika ditambah dengan kegiatan-kegiatan pengumpulan massa yang berdampak pada jalan rayanya?

Tidakkah kegiatan tersebut akan meningkatkan tingkat stres warga Jakarta yang memang sudah terkenal tinggi diakibatkan oleh persoalan macet ini?

Ada berapa banyak warga yang terdampak dan akan merasakan akibat tersebut?

2.       Potensi adanya penyusup yang menimbulkan kerusuhan

Bukan hanya urusan kemacetan yang semakin tinggi, persoalan keamanan pun seringkali menjadi kekhawatiran warga.

Berkumpulnya banyak orang seringkali menimbulkan ancaman adanya gangguan keamanan atau kerusuhan yang sulit dikendalikan.

Dan kerusuhan ini tentu saja dapat memberikan dampak negatif ke penduduk setempat dan peserta acara.

Apalagi disaat menjelang pemilu yang seringkali memberikan celah adanya provokator, maka berkumpulnya banyak orang memberikan ancaman keamanan tersendiri.

Bukan aspirasi berkumpulnya yang sepertinya perlu dipertimbangkan lagi...namun perlu sebuah alternatif cerdas, dimana kegiatan berkumpulnya banyak orang dipastikan tidak akan menimbulkan dampak negatif kepada msyarakat.

3.       Membuka peluang meningkatnya persoalan keberagaman antar agama

Sebagai sebuah negera dengan keberagaman tinggi sebagaimana yang telah di sebutkan di atas, tentu saja adanya reuni dari kegiatan yang terbentuk karena adanya persoalan penodaan agama, memiliki potensi untuk kembali menguatkan persoalan perbedaan agama.

Perbedaan agama yang memang dilindungi oleh negara pun memiliki potensi konflik panjang yang mengancam stabilitas keamanan.

Secara logis sebenarnya, ketika tuntunan terhadap aksi tersebut telah dipenuhi, maka akan lebih baik apabila persoalan tersebut tidak diungkit-ungkit kembali.

Apalagi di posisi menjelang tahun politik yang tentunya potensi-potensi konflik bisa mungkin muncul demi kepentikan tertentu.

Dengan melihat kondisi yang demikian, akan lebih bijak apabila semua pihak menjaga situasi tetap damai dan tenang. Karena disitulah bukti dari kecintaan kita terhadap negeri ini. (*)

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia