Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Diversifikasi Tingkatkan Daya Saing Kerajinan Anyaman Daun Lontar

19 November 2018, 10: 55: 25 WIB | editor : I Putu Suyatra

Diversifikasi Tingkatkan Daya Saing Kerajinan Anyaman Daun Lontar

PEMBINAAN: Ketua Program Pengembangan Produk Ekspor dari Tim Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr Ir Ni Putu Pandawani M Si, bersama Gde Bayu Surya Parwita SE MM dan Putu Ayu Paramita Dharmayanti S Pd M Pd, melaksanakan pembinaan perajin di Gianyar. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, GIANYAR - Usaha perluasan pengadaan produk kerajinan di Kabupaten Gianyar, khususnya sebagai penunjang kepariwisataan di Bali, beberapa dasawarsa belakangan ini semakin mendapat harapan baru yang cenderung mengarah pada tujuan komersial. "Lewat beragam inovasi, bahan baku diubah  menjadi  barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dengan mengolahnya menjadi barang kerajinan yang bisa menembus pasar ekspor," papar Pembina yang juga Ketua Program Pengembangan Produk Ekspor dari Tim Universitas Mahasaraswati Denpasar Dr Ir  Ni Putu Pandawani M Si kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Gianyar, pekan kemarin.


Pandawani yang juga dosen di Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar ini, mengakui bahwa permasalahan yang dihadapi perajin dalam usaha pengembangan sangat bervariasi, mulai dari sumber daya manusia dan kompetensi perajin, kemudian teknologi, pemasaran, dan permodalan. "Pada era persaingan global yang terjadi saat ini, agar produk tetap dapat diterima di pasaran dalam dan luar negeri, para perajin dituntut mampu menciptakan produk dengan memadukan potensi alam dengan keterampilan yang dimiliki,  sehingga  kreativitas, inovasi desain, dan keahlian para perajin menjadi sangat penting mendapat perhatian untuk ditingkatkan," urai Pandawani yang didampingi Tim Pelaksana Program Gde Bayu Surya Parwita SE MM dan Putu Ayu Paramita Dharmayanti S Pd M Pd.


Dijelaskannya, bertitik tolak dari hal tersebut dan sebagai respon Perguruan Tinggi terhadap kondisi tersebut, maka melalui Program Iptek bagi Produk Ekspor (IbPE) yang pendanaannya dari Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti, pihaknya dari Tim Universitas Mahasaraswati Denpasar, telah melakukan berbagai usaha pembinaan dan pendampingan, khususnya pada kelompok usaha kerajinan anyaman.


Salah satu yang menjadi mitra program adalah Cahaya Palm, yakni sebuah usaha kecil menengah yang berlokasi di Banjar Pasedana, Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh,  Kabupaten Gianyar, Bali.
Cahaya Palm yang dimiliki Kadek Susila Putra ini, merupakan usaha kecil menengah yang bergerak di bidang kerajinan beragam anyaman dengan bahan baku utama daun lontar dan pandan, dengan produk berbagai model tas, dompet, kipas, dan model lainnya.


"Dalam kegiatan pendampingan, Tim Pelaksana Program bersama mitra terus berinovasi untuk meningkatkan daya saing lewat diversifikasi produk,  membuat berbagai variasi model  baru yang mempunyai daya tarik tersendiri," terang Pandawani yang diamini Gde Bayu Surya Parwita dan Putu Ayu Paramita Dharmayanti.


Dalam perjalanan panjang berinovasi, akhirnya ditemukan satu model diversifikasi produk anyaman yang cukup menjanjikan untuk pengembangan dan keberlanjutan usaha, yakni melalui proses dan teknik Decoupage produk. "Metode penerapan Ipteks dalam program ini dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan dengan pendekatan model entrepreneurship capacity building dengan tujuan utama peningkatan keterampilan perajin dalam diversifikasi produk yang pada akhirnya akan bermuara pada  produktivitas dan peningkatan tujuan pemasaran serta pendapatan usaha," bebernya.


Pelatihan dilakukan secara bertahap dan diberikan kepada semua anggota perajin, disesuaikan dengan waktu kesiapan perajin agar tidak mengganggu aktivitas dalam berproduksi. "Pelatihan diberikan oleh Tim Pelaksana Program dengan bantuan perajin yang telah berhasil dan berpengalaman dalam proses Decoupage," imbuhnya.


Decoupage merupakan seni menghias benda dengan cara menempelkan potongan kain atau kertas pada permukaan benda, menggunakan lem khusus, kemudian dilapisi dengan pernis atau pelitur.


Bahan baku pembuatan kerajinan Decoupage terdiri dari lem khusus, kuas, cairan pernis, dan tissue. Bahan utama yang diperlukan dalam proses decoupage produk anyaman ini adalah tissue. "Ternyata tissue bisa juga dipakai sebagai bahan dasar untuk membuat kerajinan agar tampak indah dan anggun serta memiliki nilai seni. Tissue yang digunakan bukanlah tissue biasa, tetapi tissue khusus yang disebut Servietten.  Dua jenis kertas tissue yang dipakai masing-masing buatan Cina dan Eropa," paparnya.


Ditambahkannya, kegiatan pelatihan berjalan dengan baik dan perajin sangat bersemangat mengikuti sampai bisa mendapatkan hasil Decoupage yang rapi dan menarik.
Setelah diproses Decoupage,  tas atau dompet dari anyaman daun lontar dan pandan yang awalnya terlihat biasa saja, kini tampak berbeda dengan tambahan motif bunga-bunga berwarna cerah pada bagian permukaannya. Begitu juga pada kipas anyaman bambu yang sudah diberi sentuhan Decoupage, tampak lebih anggun dan bernilai seni. Selain itu, produk yang  dibuat memiliki keunikan tersendiri, seperti pada anyaman tas, kedua sisi tas mempunyai gambar atau motif yang berbeda, dan ini yang disukai konsumen.


Dijelaskan Pandawani, dengan dikembangkannya produk dengan kreasi Decoupage, untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri  dan ekspor, mitra program Cahaya Palm kini sudah menambah 8 orang tenaga kerja  yang khusus menangani ketersediaan berbagai jenis produk anyaman. "Mitra program di samping menerima pesanan produk anyaman yang telah dihiasi Deco, juga menerima permintaan berbagai produk anyaman yang belum dimodifikasi dari beberapa pedagang souvenir di sekitar kota wisata Gianyar," urainya.


Penjualan produk kerajinan yang telah diberi sentuhan Decoupage, lanjutnya, meningkat hingga 200% dibandingkan dengan yang belum diberi sentuhan Decoupage, sehingga terjadi peningkatan pendapatan usaha. Negara tujuan ekspor juga meningkat, yang awalnya lima negara tujuan menjadi tujuh negara tujuan, yaitu  Belanda, Australia, Inggris, Jepang, Hawai,  Amerika, dan  Jerman.


Diakui Tim Pelaksana Program Universitas Mshasaraswati Denpasar , kerajinan anyaman memiliki daya tarik tinggi karena bahan bakunya yang khas dari daerah asal perajin, memiliki nilai artistik motif, warna, serta bahannya, dan mudah didaur ulang. Kerajinan anyaman juga harus terus dilestarikan dan dikembangkan oleh berbagai komunitas perajin. "Dari hasil program ini dapat disimak bahwa perajin sangat antusias menerima teknologi baru yang bermanfaat bagi kemajuan usahanya. Diversifikasi produk dengan sentuhan seni Decoupage pada berbagai model produk kerajinan anyaman dapat memberikan nilai tambah produk, baik dalam penampilan dan nilai jual," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia