Rabu, 24 Apr 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Soal Toko Tiongkok, Kariyasa: Ibarat Izin Daun Sirih, tapi Jual Ganja

21 November 2018, 10: 26: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Soal Toko Tiongkok, Kariyasa: Ibarat Izin Daun Sirih, tapi Jual Ganja

BAHAS MAFIA: Sekretaris Komisi III DPRD Bali Ketut Kariyasa Adnyana saat menyerahkan masukan tertulis kepada Gubernur Bali Wayan Koster. (KETUT ARI TEJA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sekretaris Komisi III DPRD Bali Ketut Kariyasa Adnyana mengatakan penutupan toko-toko jaringan Tiongkok itu bukan kesalahan. Karena baginya, saat ini bukan menutup toko yang berizin. Namun menutup yang berizin namun sudah melakukan kesalahan.

“Ibaratnya, kasi izin usaha untuk menjual daun sirih. Namun malah yang dijual daun ganja. Sudah ada praktik nakal, ada kejahatan, ada pelanggaran pidana di dalamnya. Ini yang membuat yang berizinpun harus ditutup, apalagi yang tidak berizin,” tegasnya.

Kariyasa menyampaikan beberapa masukan, secara tertulis setelah nanti semua ditutup. Yaitu dengan melakukan penataan secara cepat. Yang pertama adalah, membentuk Tim Khusus lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah), melibatkan Tim Ahli dan komponen pariwisata. Tim Khusus ini yang nantinya merumuskan syarat – syarat terhadap aktivitas took model jaringan Tiongkok. “Jika memang jaringan ini ingin membangun usaha, agar memenuhi syarat – syarat yang ditentukan,” sebutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ketika memang ada investasi asing, agar masuk lewat PMA (Penanaman Modal Asing).  Melatih masyarakat local atau masyarakat Indonesia, untuk menjadi penjaga toko yang mampu berkomunikasi mandarin yang bagus. Bukan menggunakan TKA (Tenaga Kerja Asing) untuk menjadi penjaga toko, ini menyalahi aturan. Wajib memasukan hasil UMKM Bali minimal 40 persen. Jikapun ada barang import, mesti sesuai mekanisme yang berlaku. “Bukan malah barang Tiongkok, diganti kemasannya agar terlihat barang Bali,” kata Caleg DPR RI Dapil Bali dari PDIP ini.

Tidak ada lagi pemaksaan, penipuan, dalam menawarkan barang. Dan mesti dipastikan, jika barang dari Tiongkok dijelaskan memang dari Tiongkok. Bukan menyebut dan mengganti kemasan seolah barang produk Bali. Misalnya ketika menjual batu mulia, berhiasan mahal disebut hasil tambang Kalimantan, namun diragukan keasliannya. Ini yang merusak citra Bali, ketika di negaranya mereka tahu, mereka ditipu. (lebih jelas baca grafis). “Tidak menggunakan symbol – symbol negara, seperti stempel burung garuda dan lainnya. Wajib setiap berwisata ke Beli, jangan hanya berwisata ke toko. Wisatawan Tiongkok mesti diajak ke objek objek wisata di Bali,” kata Kariyasa Adnyana. “Saya sudah serahkan ke Pak Koster, secara tertulis agar menjadi bahan kajian beliau. Dan dukungan ke beliau biar segera menutup total aktivitas jaringan Tiongkok,” pungkasnya.  

Masukan setelah Jaringan Tiongkok Ditutup

1.     Bentuk Tim Khusus lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah), melibatkan Tim Ahli dan komponen pariwisata. Tim Khusus ini yang nantinya merumuskan syarat – syarat terhadap aktivitas toko model jaringan Tiongkok.

2.     Jika memang jaringan ini ingin membangun usaha, agar memenuhi syarat – syarat yang ditentukan.

3.     Ketika memang ada investasi asing, agar masuk lewat PMA (Penanaman Modal Asing).

4.     Melatih masyarakat lokal atau masyarakat Indonesia, untuk menjadi penjaga toko yang mampu berkomunikasi mandarin yang bagus. Bukan menggunakan TKA (Tenaga Kerja Asing) untuk menjadi penjaga toko, ini menyalahi aturan.

5.     Wajib memasukan hasil UMKM Bali minimal 40 persen. Jikapun ada barang import, mesti sesuai mekanisme yang berlaku.

6.     Memenuhi segala bentuk perizinan dan mekanisme aturan yang berlaku.

7.     Tidak ada lagi pemaksaan, penipuan, dalam menawarkan barang. Dan mesti dipastikan, jika barang dari Tiongkok dijelaskan memang dari Tiongkok. Bukan menyebut dan mengganti kemasan seolah barang produk Bali. Misalnya ketika menjual batu mulia, berhiasan mahal disebut hasil tambang Kalimantan, namun diragukan keasliannya. Ini yang merusak citra Bali, ketika di negaranya mereka tahu, mereka ditipu.

8.     Tidak menggunakan simbol – symbol negara, seperti stempel burung garuda dan lainnya.

9. Wajib setiap berwisata ke Beli, jangan hanya berwisata ke toko. Wisatawan Tiongkok mesti diajak ke objek objek wisata di Bali.

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia