Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Permintaan Meningkat, Perajin Gedek Kewalahan Penuhi Pesanan

21 November 2018, 12: 32: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Permintaan Meningkat, Perajin Gedek Kewalahan Penuhi Pesanan

PERAJIN: Seorang ibu rumah tangga (IRT) sedang menganyam bilah –bilah bambu dijadikan gedek di Banjar Tegal, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Selasa (20/11) kemarin. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, TABANAN – Meningkatnya permintaan konsumen membuat perajin gedek (anyaman dari bambu,Red) atau yang biasa disebut Bedeg di Banjar Tegal, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, kewalahan memenuhi pesanan. Terlebih rata-rata perajin merupakan ibu rumah tangga (IRT) yang menginjak usia lansia. Sehingga tenaganya sudah tak lagi seperti saat muda dulu.

Seperti halnya yang disampaikan Ni Nyoman Nyambrug, 60, seorang penganyam gedek. Menurutnya, saat ini pesanan bedeg mulai meningkat sehingga dirinya mengaku kewalahan. Peningkatan permintaan akan bedeg terjadi usai bencana gempa yang terjadi belakangan ini.

“Permintaan memang bertambah, tetapi saya tidak bisa mengejar karena sudah tidak kuat, jadi saya bekerja semampunya saja," ujarnya saat ditemui Bali Express Selasa (20/11) kemarin.

Ditambahkan, ia sudah hampir 20 tahun lebih menggeluti profesi sebagai perajin bedeg. Hasilnya lumayan untuk membantu perekonomian keluarganya. Wanita itu menyebtukan harga bedeg saat ini dengan ukuran 3 x 2 meter yang 5 lembar dijual Rp 230.000 . Perlembarnya seharga Rp 50.000. 

Selanjutnya, hasil kerajinan tangan dari bambu ini dikumpulkan di koperasi banjar. Barulah kemudian dipasarkan ke wilayah –wilayah di Bali. Namun untuk saat ini bedeg y buatannya sudah ada yang memesan tinggal dibawa ke lokasi pemesanannya.

“Sehari saya hanya bisa kerjakan dua lembar dari membelah bambu hingga menganyam,” imbuhnya.

Perajin lain, Ni Nyoman Karmi, 60 menambahkan, di Banjar Tegal ada sekitar 150 anggota perajin bedeg. Sebagian besar merupakan ibu-ibu rumah tangga. Untuk bahan bedeg sendiri bahannya bambu tali. Yang bahannya bisa dengan mudah didapatkan di sekitaran desa ini.

 “Untuk bahan kami tidak membeli bambu dalam bijian. Tetapi dalam bentuk satu ikat bambu dengan jumlah 30 biji batang bambu. Seharga Rp 500.000,” sambungnya.

Dari 30 bambu, mampu menghasilkan 20 lembar bedeg dengan harga Rp 920.000. Dengan keuntungan yang bisa didapat sekitar Rp 420.000. Namun Rp 20.000 masuk kekas koperasi. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia