Rabu, 26 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Pantaskan Amien Rais Disebut Bapak Demokrasi?

Oleh: Annisa Medina*

29 November 2018, 02: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pantaskan Amien Rais Disebut Bapak Demokrasi?

Amien Rais (ISTIMEWA)

Share this      

DINASTI politik tidak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga terjadi di beberapa negara lain. Apa itu dinasti politik? Dinasti politik merupakan sebuah serangkaian strategi politik manusia yang bertujuan untuk memperoleh kekuasaan, agar kekuasaan tersebut tetap berada di pihaknya dengan cara mewariskan kekuasaan yang sudah dimiliki kepada orang lain yang mempunyai hubungan keluarga dengan pemegang kekuasaan sebelumnya. Tentu menjadi hal yang biasa ada beberapa keluarga yang punya pangaruh kuat dalam politik suatu negara. Filipina mengalami hal tersebut sejak negara itu lahir. Nama-nama seperti Macapagal, Aguilar, Cojuangco, Aquino, Magsaysay, dan puluhan keluarga lain mendominasi politik Filipina selama puluhan tahun. Sistem politik boleh berganti, namun keluarga-keluarga tersebut tetap punya pengaruh di sistem politik. Awal pergerakannya, mereka menguasai dari sektor provinsi kemudian meluas mendominasi politik nasional.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagaimana di banyak negara, keluarga politik Indonesia ada yang hanya kuat di daerah-daerah. Di Banten, Ratu Atut adalah titisan dari dinasti keturunan Haji Tubagus Chasan Sochib. Di Sulawesi Selatan ada Syahrul Yasin Limpo.Kekuatan politik keluarga di Indonesia sudah berlangsung lama. Dinasti Suharto yang sudah lama terbentuk dan sempat tenggelam karena kejatuhan Suharto pada 1998 silam kini pelan-pelan juga mulai bangkit kembali. Juga dinasti Djojohadikusumo, yang mendominasi partai Gerindra dan sekarang mendudukkan beberapa anggota keluarganya di parlemen. Belum lama ini bangkit adalah dinastinya Sarwo Edhie. Lewat menantunya Yudhoyono mereka mulai mendominasi percaturan politik Indonesia sepuluh tahun belakangan. Tak ketinggalan pula dinasti keluarga Sukarno, yang dikomandoi oleh Megawati.

Baru muncul di tingkat nasional adalah keluarga Amien Rais yang memenangkan koalisinya di DPR dan MPR. Amien adalah pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) yang sedang membangun sebuah dinasti politik. Dia punya pengaruh terhadap Hatta Rajasa dan secara tidak langsung juga punya relasi kuat dengan keluarga Yudhoyono. Selain itu, anak Amien juga duduk di DPR mewakili PAN. Tapi tidak ada yang lebih penting dari kedudukan Zulkifli Hassan, mantan menteri kehutanan di bawah Yudhoyono, dan sekarang menjadi ketua MPR. Saat ini, ia dengan pengaruh kuatnya mendukung Zulkifli Hasan menjadi Ketua Umum PAN. Seperti diketahui, Zulikifli adalah besan Amien Rais. Berdasarkan skenario di Kongres PAN nantinya, jika Zulkifli jadi Ketua Umum, maka Sekjend akan dijabat putra tertua Amien Rais, yaitu Hanafi Rais. Amien Rais pun nampaknya ingin membangun opini publik bahwa seorang ketua umum partai sebaiknya satu periode saja. Padahal di kalangan arus bawah suara Hatta Rajasa sangat kuat.

Skenario Amien ingin menjadikan PAN sebagai kerajaan keluarganya ini sudah diketahui beberapa kader terutama kalangan muda. Melihat proses awal Zulkifli Hasan terpilih menjadi Ketua Umum PAN. Sehingga posisi ini memberikan basis yang sangat kuat untuk Amien Rais sebagai 'king maker' dalam politik nasional. Dia akan sangat berperanan jika terjadi krisis politik. Nantinya ia akan dengan mudah mempengaruhi keluarga jauh-dekatnya ini jika ia ingin menggulingkan Jokowi. Nyatanya, dia memang pernah 'meramalkan' bahwa usia pemerintahan Jokowi hanya setahun. Hal tersebut terbukti dengan apa yang pernah dia lakukan terhadap pemerintahan Megawati dan Gus Dur ketika menjabat presiden.

Amien Rais kembali memiliki semua kartu bagus untuk menjadi king of maker. Bahkan Prabowo tidak memiliki pengaruh sebesar Amien Rais. Dia telah terbukti sangat piawai memainkan 'micro politics,' memainkan percaturan politik di antara para elit. Amien Rais sangat lemah dalam politik elektoral. Dia tidak pernah terpilih untuk jabatan publik kenegaraan. Dia memang pernah menjadi ketua Muhamadiyah dan pendiri PAN. Tapi itu bukan jabatan publik yang dimenangkan lewat kontestasi pemilihan yang pluralis. Secara eletoral dia tidak menarik. Itu barangkali yang menyebabkan dia lebih nyaman dalam sistem seperti sistem Orde Baru, dimana politik ditentukan lewat percaturan di antara para elit. Itulah yang sedang ingin dibentuk olehnya. Politicking, manuver, lobbying, ketika situasi kritis, bahkan seorang politisi pun lari kepada keluarganya. Karena keluarga adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Itulah sebabnya, Yudhoyono memasang anggota keluarganya di pucuk pimpinan DPR. Tentunya, Amien Rais  memiliki semua itu, Bahkah yang paling lengkap. Setelah Hanafi Rais, Putri Amien Rais, Hanum Rais juga sedang merintis karir terjun ke dunia politik dengan tetap mengandalkan karisma dan campur tangan sang ayah.

Kemungkinan ada tiga dampak jika Amien Rais tetap paksakan Hanafi Rais jadi Wakil Ketua DPR. Yaitu, ada penolakan dari internal yang membuat internal PAN menjadi tidak nyaman, penolakan pemilih PAN karena PAN kehilangan orientasinya, dan PAN bermasalah di internal dan juga eksternal. Dampak tersebut adalah bakal ada penolakan dari internal yang membuat internal PAN menjadi tidak nyaman, penolakan pemilih PAN karena PAN kehilangan orientasinya dan PAN bermasalah di internal dan juga eksternal.

Di sisi lain, dengan anggapan bahwa ia punya pengaruh kuat, belum lama ini Amien Rais mengeluarkan pernyataan memaksa Muhammadiyah untuk mengambil sikap politik organisasi dalam Pilpres 2019. Ia mengatakan, akan menjewer Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir jika organisasinya tidak bersikap pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang .Seharusnya Amien tidak bisa mengintervensi Muhammadiyah. Muhammadiyah tentunya pasti punya mekanisme internal sehingga seharusnya tidak boleh diintervensi. Amien seolah merendahkan Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir. Amien menyatakan akan menjewer Haedar bila menyerahkan pilihan kepada setiap pribadi warga Muhammadiyah di Pilpres 2019.

Langkah Amien Rais tersebut bisa membuat PAN diasumsikan sebagai partai konservatif. Ia mempraktikan antidemokrasi dan tidak kompetitif serta mengabaikan mekanisme internal PAN yang selama ini diidentikan sebagai partai terbuka. Dengan mendorong anaknya, Amien Rais telah melupakan apa yang dikritiknya ketika menurunkan rezim Soeharto terkait politik dinasti. Langkah Amien tersebut bisa dibaca sebagai bentuk inkonsistensi Amien untuk membangun politik yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Tentu tujuan Amien Rais dalam mendikte sikap politik Muhammadiyah adalah cara yang digunakan untuk memperoleh kantong suara dalam menghadapi pilpres mendatang. Hal tersebut tentu tidak bisa dibiarkan mengingat Muhammadiyah sebenarnya punya mekanisme sendiri dan tidak bisa diintervensi serta nantinya akan mencederai Muhammadiyah sebagai Ormas Islam yang selama ini Menjadi pedoman sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia dalam beribadah. Hal itu membuktikan bahwa Amien Rais tidak pantas disebut bapak demokrasi karena ia pun tidak menerapkan prinsip prinsip demokrasi yang sebenarnya. (*)

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial Politik

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia