Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Atasi Sampah Kiriman, Komunitas Peduli Sampah Kewalahan

02 Desember 2018, 20: 41: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Atasi Sampah Kiriman, Komunitas Peduli Sampah Kewalahan

SAMPAH: Tampak sampah kiriman yang memenuhi Pantai Biaung, Denpasar, Minggu (2/12). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sampah kiriman yang datang sewaktu-waktu di sepanjang pantai wilayah Kota Denpasar membuat petugas kebersihan kelabakan. Bukan itu saja. Komunitas yang ada dan kerap turun membantu juga menjadi kewalahan. Hal itu diungkapkan oleh Plt Kepala Bidang Pemerdayaan Nelayan kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Denpasar, AA Putri Citrawati saat diwawancarai Minggu (2/12).

Perempuan yang selaku anggota salah satu komunitas peduli sampah itu juga mengaku saat ini sampah kiriman memang ada di beberapa pantai di Denpasar. Sehingga membuat pihaknya lebih gencar lagi melakukan bersih-bersih pantai dan memberikan edukasi kepada masyarakat. “Saat ini baru ada tiga komunitas peduli sampah, Trash Hero, Malu Dong, sama Komunitas Nuduk Sampah Plastik (KNSP). Kalau kami bertiga saja sudah pasti tidak mampu kalau tidak dibantu dari kesadaran masyarakat sendiri,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Setiap minggu ia menjelaskan selalu ada komunitas yang menggelar bhakti sosial dengan membersihkan pantai, khususnya sampah kiriman dan menanam pohon. Dengan demikian Kota Denpasar yang terkenal dengan pariwisata pantainya akan tetap menjadi nyaman untuk dikunjungi. Sedangkan pantai yang menjadi langganan sampah kiriman ia memaparkan dari Pantai Biaung, Padanggalak, Sanur, dan Pantai Mertasari.

Sampai saat ini, ketiga komunitas yang ada itu belum secara terjadwal melakukan kegiatan di sepanjang pantai tersebut. Pasalnya terbatas dengan anggota maupun kegiatan yang sama di tempat lain. Meski demikian, menurut dia hendaknya komponen masyarakat tetap membantu dalam melanjutkan kegiatan tersebut. Terlebih membantu dalam berhenti membuang sampah di sungai, lantaran sampah yang ada di sungai sudah tidak dipungkiri lagi sampainya di pantai juga.

“Kalau dilihat sampah kiriman itu berasal dari rumah tangga di sungai-sungai itu sudah mengurang saat ini, ketimbang dari tahun-tahun sebelumnya. Tetapi bukan berarti tidak ada, sampah dari sungai tetap ada hanya saja sudah mengurang. Sekarang kita hanya lebih tangani sampah kiriman di tepi pantai dari laut itu sendiri,” ungkap perempuan asal Blahbatuh Gianyar tersebut.

Selain komunitas sendiri, Citrawati menjelaskan memang terkadang ada yang membantunya dari masyarakat maupun instansi pemerintahan dan siswa. Seperti pelaksanaan bhakti sosial yang biasanya dilakukan setiap akhir pekan. Dengan dilibatkannya komponen masyarakat, ia berharap agar kesadaran masyarkat lebih meningkat lagi dan malu jika membuang sampah sebarangan.

Lanjut dia, untuk mengatasi sampah plastik pada pertengahan Desember ini pihaknya juga akan mencoba mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Sedangkan sampah yang organik sudah tentu dapat dijadikan kompos maupun barang daur ulang. Dengan mesin itu diharakannya pemilahan sampah juga dilakukan dengan baik oleh masyarakat.

Saat ditemui di Pantai Biaung, salah satu warga yang sedang berolahraga,I Nyoman Sada mengaku sampah yang ada saat itu sudah lebih sedikit. Lantaran sejak dua hari lalu kawasan pantai di sana mendapat sampah kiriman. Diterangkan air laut yang pasang membuat sampah-sampah itu kembali lagi ke laut disapu oleh ombak.

“Kalau kemarin Pak ke sini baru bisa lihat bagaimana tumpukan sampahnya. Ada yang kayu gelontongan sama plastik-plastik yang sudah lumutan karena terlalu lama ada di perairan,” terangnya. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia