Sabtu, 15 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Mau Musnahkan Desti, Coba ke Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis

07 Desember 2018, 10: 22: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mau Musnahkan Desti, Coba ke Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis

SOLAS: Pancoran Solas di di Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis di Banjar Cacab Jangkahan, Desa Biaung, Penebel, Tabanan, diyakini memiliki multifungsi bagi yang malukat. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Malukat sebagai wisata spiritual  belakangan ini mulai digemari. Selain untuk pembersihan diri, ada juga yang malukat di lokasi tertentu untuk memohon tamba atau obat. Di Bali ada banyak lokasi Panglukatan, begitu pun di Kabupaten Tabanan. Salah satunya adalah di Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis.

Tempat Malukat di Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis di Banjar Cacab Jangkahan, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Tabanan, terbilang baru dikenal masyarakat luas, lantaran sebelumnya hanya diketahui  warga desa setempat saja. Namun, seiring berjalannya waktu, kawasan ini ditata dan mulai banyak diketahui masyarakat luas sehingga berbondong-bondong tangkil untuk Malukat.

Tak sulit untuk menemukan lokasi Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis ini. Berjarak sekitar 36 kilometer dari Denpasar, pamedek yang hendak tangkil cukup menempuh waktu sekitar satu jam dengan kendaraan. Ketika sampai di Desa Biaung, pamedek cukup menanyakan pada warga setempat letak pura, dan pasti akan ditunjukkan karena lokasinya berada di pinggir jalan. Pamedek tinggal menghubungi nomor telepon Jero Mangku yang terpasang di depan pura, apabila saat itu pura dalam keadaan sepi.

Kepala Bali Express (Jawa Pos Group), Jero Mangku Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis, I Wayan Sudartayasa menceritakan,  dahulu hanya ada satu pancoran di lokasi yang dikenal masyarakat setempat dengan Pancoran Rejasa. Disebut Pancoran Rejasa karena di lokasi tersebut memang terdapat sebuah pohon Rejasa. “Aura magis di lokasi ini memang luar biasa, apalagi dulu belum ditata seperti ini, jadi lokasinya dikenal angker,” ujarnya.

Terlebih masyarakat setempat sering kali melihat hal-hal yang aneh di sekitar lokasi, mulai dari penampakan kera, hingga kasa (kain kafan) yang melayang. Sejatinya Pancoran Rejasa ini berkaitan dengan Beji Agung dan Pancoran Solas yang ada di utara lokasi. “Jadi, di kawasan ini memang ada sumber mata air, di Utara ada Beji Agung yang jadi tempat masucian Ida Betara, kemudian ada Pancoran Solas untuk pitra yadnya, dan terakhir ada Pancoran Rejasa ini yang konon letaknya paling angker,” paparnya.

Pancoran Rejasa tersebut berada di lahan pribadi milik masyarakat setempat, yang kemudian dibeli oleh salah seorang tokoh spiritual karena memang lahan tersebut tidak bisa digarap oleh pemilik lahan sebelumnya. “Karena melihat ada sumber mata air suci, akhirnya dilakukan prosesi Nangiang Ida Sasuhunan yang malinggih di sini, sehingga dinamakan Beji Sudamala Lembah Tulis,” imbuhnya.

Selanjutnya, Beji Sudalama Lembah Tulis ini mulai ditata sekitar tiga tahun lalu, dan akhirnya dibuka untuk umum sekitar 2,5 tahun lalu. Setelah penataan,  Pancoran Rejasa itu kemudian dijadikan Pancoran Solas dengan berbagai macam fungsi. Pancoran Panglukatan Panca Baya berfungsi melebur segala marabahaya yang ada di dalam diri manusia. Kemudian pancuran sebagai Pemunah Desti, yakni untuk melebur desti atau Ilmu Hitam. Ada juga yang berfungsi Pangenteg Bayu, agar jiwa dan rohani selalu tetap pendirian dan tidak berubah-ubah. Selanjutnya untuk Keharmonisan, yakni  menjaga keharmonisan dalam keluarga dan rumah tangga. Kegunaan lainnya diyakini membuka pintu rezeki atau Murah Rezeki, agar senantiasa diberikan rezeki dari berbagai penjuru. Fungsi lainnya memohon Dirgahayu, agar selamat sentausa dimana pun berada, dan  ada untuk  Kewibawaan, agar bijaksana dan berwibawa. Sedangkan Pancoran Tirta Sudamala, lanjutnya, berfungsi agar mala di dalam diri dimusnahkan. Di Pengasih Kanjeng Ratu untuk memohon kemakmuran, dan  di Tirta Dalem Sidakarya berfungsi untuk pamuput karya atau pekerjaan agar tuntas. Di Kasidhian Tamba Ida Ratu Dalem Ped, yakni memohon tamba atau obat.

Pamedek yang datang untuk malukat cukup membawa Pajati serta Canang. Pamedek terlebih dahulu matur piuning pada Pancoran Solas, selanjutnya melakukan panglukatan yang dimulai dari pancoran paling selatan. Tentunya dengan menggunakan pakaian adat. Jika sudah selesai, pamedek bisa mengganti pakaian di tempat ganti yang sudah disediakan, kemudian barulah menghaturkan persembahyangan di Palinggih Taman Beji Sudamala Lembah Tulis. “Biasanya rahina seperti Purnama, Tilem, dan hari libur ramai yang tangkil. Tetapi sehari-hari juga ada,” papar Mangku Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis, Jero Mangku I Wayan Sudartayasa.
Di Pura Taman Beji Sudamala Lembah Tulis terdapat dua buah palinggih utama, yakni Palinggih Ratu Ngurah Agung Shakti dan Ratu Niang Betari Danu Taman Beji dengan dua buah patung berwujud Ratu Niang Shakti dan Ratu Ngurah Agung Taman Beji serta piyasan. Sedangkan di areal madya mandala, tepatnya di sebelah barat pancoran juga terdapat sebuah palinggih, yakni Palinggih Ratu Ngurah Manik Ulun Pangkung. Sedangkan saat akan memasuki areal utama mandala terdapat dua buah patung berwujud Ratu Gede Mas Mecaling Dalem Pauman dan Ratu Ngurah Agung Shakti Dalam Pauman.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia