Kamis, 13 Dec 2018
baliexpress
icon featured
Features

Hadiri Diskusi Enjok Enjing Kaje Kelod, Ini Janji Koster

07 Desember 2018, 21: 53: 00 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hadiri Diskusi Enjok Enjing Kaje Kelod, Ini Janji Koster

BERJANJI: Koster saat menghadiri acara diskusi KJB di Gedung Mr. Ketut Pudja, Singaraja Jumat (7/12) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Enjok Enjing Kaje Kelod (ketimpangan selatan-utara, Red) Part 2, edisi Menagih Janji menjadi tema dalam diskusi akhir tahun yang digelar Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) pada Jumat (7/12). Tema ini dipilih untuk mengkritisi ketimpangan pembangunan Bali Selatan dengan utara. Terlebih, janji pemerataan Utara-Selatan sempat terlontar saat Wayan Koster berkampanye jelang Pilgub Bali pada Januari 2018 lalu di Taman Kota Singaraja.

Setelah terpilih menjadi orang nomor satu di Bali, masyarakat Buleleng berharap Wayan Koster segera merealisasikan janji politiknya saat masa kampanye. Mulai dari janji pembangunan transmisi televisi, shortcut, pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang, proteksi buah lokal agar masuk hotel, jaminan kesehatan, hingga pembangunan Bandara Buleleng.

Menurut Koster jika Bandara Buleleng sudah pasti akan dibangun di wilayah Kubutambahan. Namun, apakah dibangun di darat ataupun di laut, Koster belum  berani memastikan. Pihaknya pun meminta masyarakat Buleleng untuk sedikit bersabar menunggu kepastian tersebut.

“Bandara ya sudah pasti. Soal lokasi sudah pasti di timur (Kubutambahan, Red). Penlokanya sabar dikit. Nanti, saatnya saya ngomong,” ujar Koster dalam acara diskusi akhir tahun Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) pada Jumat (7/12) di Gedung Mr. Ketut Pudja.

Koster mengklaim selama ini pihaknya sudah melakukan pertemuan secara intensif dengan pihak terkait. Bahkan, dalam waktu dekat ijin penentuan lokasi akan segera dilakukan. “Oleh karena itu saya harap kita harus solid. Pertama yang solid adalah Buleleng. Jangan saling jelekin, mau di darat atau di laut. Saya tidak berpihak kepada siapapun, yang penting terwujud. Saya akan selektif dengan investor,” imbuhnya disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Selain rencana pembangunan bandara, Koster juga sempat menyinggung proyek shortcut yang sedang berjalan, utamanya di titik 5-6 yang menghubungkan Singaraja-Bedugul, di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Proyek yang menelan anggaran sebesar Rp 145 miliar tersebut diprioritaskan tuntas Desember tahun 2019 mendatang.

Selanjutnya jika sudah tuntas, pembangunan short cut akan terus berlanjut. Bahkan ia meyakini, mega proyek ini akan menuntaskan total 10 titik hingga tahun 2021 mendatang dengan prediksi anggaran sebesar Rp 1,2 triliun

“Shortcut harus selesai tahun 2021 yang 10 titik. Anggarannya mencapai Rp 1,2 Triliun termasuk pembebasan lahan. Kalau sudah tuntas, maka jalan akan lebih nyaman, lebar bertambah, kemiringan berkurang. Dan waktu tempuh antara Singaraja-Denpasar yang awalnya 2 jam menjadi 1,5 jam. Tentu dampaknya perekonomian akan menjadi lancar,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana berharap pemerataan pembangunan Bali Utara segera terwujud. Terlebih realisasi pembangunan shortcut titik 5-6 sudah dimulai. Bupati Agus optimis ketimpangan Utara-Selatan segera teratasi dengan aksesibilitas yang memadai.

“Kenapa saya ngotot shortcut titik 5-6? Tetapi ketika berbicara keberpihakan Buleleng maka saya ngotot 5-6. Takutnya kalau shortcut titik 3-4 (Baturiti) lebih dulu nantinya berhenti di sana. Sehingga Buleleng tetap terlewatkan,” ujarnya.

Begitu juga masalah proteksi buah lokal yang dihasilkan petani Buleleng. Bupati Suradnyana menyebut pembangunan Pasar Banyuasari diharapkan menjadi solusinya. “Dengan sharing biaya Rp 25 miliar pemprov Bali,  Rp 25 miliar Badung dan Rp 50 miliar dari Buleleng maka pasar Banyuasri segera terwujud. Petani tidak kebingungan menjual buah lokal. Bahkan diproteksi bisa masuk hotel untuk dinikmati wisatawan,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia