Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Matinya Politisi Baju Kaos, Hidupnya Politisi Bansos

Oleh: Made Adnyana Ole

08 Desember 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Matinya Politisi Baju Kaos, Hidupnya Politisi Bansos

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BANYAK politisi sukses gara-gara baju kaos. Mereka membagikan baju kaos sebanyak-banyaknya, hingga  namanya jadi dikenang sebagai politisi murah hati, terkenal, dan punya kans besar meraup suara saat Pemilu. Tapi, itu dulu. Dulu, ketika sebagian besar orang belum tahu banyak seluk-beluk politik, tak paham betul soal visi-misi pembangunan, dan ekspektasi kesejahteraan mereka masih sebatas bisa makan dan minum.  

Kini, di zaman milenial, di zaman generasi Z, baju kaos benar-benar dipandang sebagai simbol jati diri, tak ada urusan dengan politik-politikan. Anak-anak muda zaman kini, yang suaranya selalu diperebutkan pada setiap Pemilu, bahkan seperti punya partai sendiri, sesuka-suka mereka mereka bikin baju kaos bersama anggota ‘partainya’ dengan kata-kata yang mereka pahami. Mau diisi kata-kata, “Sing Punyah Sing Mulih”, kita mau apa?

Jadi, jika pada masa-masa Pemilu 2019 ini masih ada politisi yang mengandalkan baju kaos untuk menarik dukungan, jangan harap bakal sukses. Jangan-jangan anak muda balik menghadiahkan baju kaos pada politisi itu dengan kata-kata mencolok di bagian dada, semisal “Loe Siapa?” atau “Pak Tua, Sudahlah!”.

Pada suatu masa, dulu, memang pernah baju kaos dipandang sungguh-sungguh sebagai benda ideologis dan simbol politik yang amat keramat oleh anak-anak muda. Baju kaos dibutuhkan selaku benda berharga demi membuktikan diri sebagai pendukung salah satu politisi atau pendukung salah satu partai politik. Pada awal-awal zaman Reformasi misalnya, sebelum PDI secara resmi berubah nama menjadi PDI Perjuangan, anak-anak muda zaman itu bahkan rela membeli sendiri baju kaos bertuliskan PDI Pro-Mega, sebagai bentuk dukungan mereka kepada pimpinan PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mereka idolakan saat itu.

Jika membeli saja mereka berani, apalagi diberi cuma-cuma. Maka beramai-ramai politisi membagi-bagikan baju kaos Pro-Mega untuk menunjukkan diri sebagai politisi royal yang tahu kebutuhan warga. Seakan mereka yakin, siapa yang bisa membagikan kaos gratis lebih banyak dari yang lain, maka dialah dapat dukungan lebih melimpah. Bayangkan jika politisi itu sekaligus juga owner perusahaan garmen atau perusahaan konveksi, hampir dipastikan mereka akan lebih terkenal dari yang lain karena lebih mudah memproduksi baju kaos untuk dibagi-bagi secara gratis.

Syahdan, ada satu cerita tentang politisi baju kaos yang akhirnya jadi politisi besar hanya gara-gara datang membagikan baju kaos pada saat yang tepat. Kedengarannya seperti fiksi, tapi percayalah, ini cerita menarik. Sebutlah namanya, Politisi Kita. Awalnya, nama dia tak dikenal di dunia politik, tak pernah jadi pengurus partai, tak pernah bergaul dengan orang politik. Tapi, namanya tiba-tiba muncul pada masa-masa akhir kekuasaan Orde Baru dan makin mencorong pada masa awal Orde Reformasi.

Suatu saat, partai politik hendak menggelar demo, semacam show of force,  untuk menunjukkan betapa besar jumlah pendukung partai itu menjelang Pemilu. Partai hendak mengerahkan sekitar 30 ribu orang. Untuk itu, pengurus partai setidaknya  perlu 20 ribu baju kaos, selain tentu saja 20 ribu nasi bungkus. Tapi apalah daya, kondisi keuangan partai tidaklah segemuk sekarang. Para politisinya tidaklah kaya raya seperti zaman sekarang. Tak ada yang bisa menyediakan baju kaos dan nasi bungkus dalam jumlah banyak, dalam waktu yang cepat.

Pada saat itulah Politisi Kita muncul. Ia membawa apa yang dibutuhkan massa: 30 ribu baju kaos bergambar partai dan 30 ribu nasi bungkus. Massa pun bersorak, “Horeeee, hidup Pak Politisi Kita!” Dan, sejak itulah nama dia dikenang, dikenal luas, dan selalu disebut-sebut sebagai pahlawan partai, bahkan namanya jauh lebih terkenal ketimbang politisi lain yang sejak dulu kala membesarkan partai secara susah payah. Politisi Kita pun akhirnya menjadi politisi besar dan berkali-kali pada masa Pemilu dan Pilkada ia dengan mudah mendapatkan kursi jabatan penting.

Tapi, sekali lagi, itu cerita dulu. Kini ceritanya beda. Jika ada seorang politisi ke mana-mana tampak menenteng bungkusan baju kaos, seseorang mungkin akan bertanya: “Sejak kapan beralih profesi jadi penjual kaos, Pak?” Tentu saja, karena yang dijual pada pemilu zaman mileneal ini adalah program, terutama program yang membuat kehidupan warga menjadi lebih baik, dan anak-anak muda bisa memandang masa depan dengan lebih cerah.

Baju kaos di zaman milenial seakan kehilangan kesaktian politiknya bukan saja karena telah menjadi benda lumrah yang bisa dibikin oleh siapa saja, tapi karena ideologi yang melekat pada baju kaos partai di zaman ini bukan lagi ideologi perjuangan, sebagaimana pernah terjadi pada akhir masa Orde Baru dan awal masa Orde Reformasi.

Warga kini sadar bahwa perjuangan untuk menjadikan hidup lebih baik dan lebih sejahtera harus diarahkan pada tindakan-tindakan nyata, seperti mendapatkan modal untuk berjualan, mendapatkan bibit dan pupuk yang murah untuk bertani, atau mendapatkan pendidikan dengan baik. Untuk anak muda zaman milenial, perjuangan diartikan sebagai tindakan-tindakan kreatif agar mereka bisa bersaing di dunia internasional.

Jadi, perjuangan itu, bukan lagi dilakukan secara hura-hura di lapangan umum, sambil memamerkan jumlah massa dengan warna baju kaos yang sama, lalu setelah itu makan nasi bungkus bersama-sama. Maka kampanye Pemilu pun dirancang lebih efektif melalui dialog, diskusi, dan bedah visi-misi, sehingga baju kaos tak punya tempat untuk dipamerkan di jalanan.

Tapi, tunggu dulu. Jika dipikir-pikir, matinya politisi baju kaos kini tampaknya digantikan dengan hidupnya politisi Bansos. Seperti juga baju kaos pada zaman dahulu, Bansos kini juga dianggap sakti sebagai senjata meraih dukungan. Siapa yang bisa membagikan Bansos lebih banyak, maka dialah kemungkinan besar mendapat dukungan lebih banyak. Untuk itulah, Politisi Kita, yang dulu jadi politisi baju kaos, kini ternyata tetap hidup. Tak mati-mati. Setelah dicek, ternyata dia punya Bansos lebih banyak dari yang lain.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia