Minggu, 17 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pasikepan; Bagai Dua Sisi Mata Pisau

08 Desember 2018, 16: 51: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pasikepan; Bagai Dua Sisi Mata Pisau

DIBAKAR: Deretan pasikepan menjalani proses pembakaran setelah tidak dipergunakan. (PASRAMAN IDA NAK LINGSIR FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pasikepan atau yang biasa disebut jimat merupakan benda atau media yang digunakan untuk tujuan tertentu pemiliknya. Umumnya pasikepan digunakan untuk memenuhi atau mencapai keinginan. Seperti meningkatkan kewibawaan, pengasih-asih, penjaga keselamatan dan tolak bala. Namun tidak banyak yang tahu, penggunaan pasikepan ternyata bisa sangat berbahaya. Terutama bagi mereka yang tidak bisa memelihara dan menjaganya.

Pasikepan memiliki banyak bentuk, jenis dan fungsi yang berbeda. Pada umumnya pasikepan menggunakan rerajahan berupa tulisan atau pola gambar tertentu yang diisi mantra agar keinginan sang pemilik tercapai. Biasanya pasikepan memiliki banyak pantangan dan aturan. Seperti tidak boleh dibawa ke tempat tertentu, harus diasapi atau dibantenin setiap purnama dan tilem.

Namun pasikepan tak hanya membutuhkan banten setiap waktu tertentu. Pasikepan jika tidak dibawa secara benar akan menghisap energy sang pemakai secara perlahan. Hal itu yang dijelaskan pemilik Pasraman Ida Lingsir, Ida Lingsir Mpu Gni Jaya pada Kamis (6/12) lalu.

“Banyak pemedek yang datang membawa masalah yang sama. Mereka merasa tidak nyaman, pikiran selalu tidak tenang, dirumah atau di kantor, merasa selalu gelisah. Setelah melukat mereka tenang, tapi masih merasakan kegelisahan yang sama. Setelah diselidiki ternyata mereka memakai pasikepan atau jimat. Dicoba beberapa hari melepas, katanya mereka mulai merasa tenang dan nyaman,” terang Ida Gni Jaya.

Dijelaskan, beberapa pasikepan yang digunakan para pemedek berbentuk kotak berupa kantong yang berisi kertas atau kain kasa berisi rerajahan. “Bentuknya macam-macam. Ada yang berbentuk seperti kalung bayi, ada yang berbentuk kantong kecil, ada yang berbentuk cincin akik dan banyak lagi,” terangnya.

Lantas mengapa pasikepan dikatakan berbahaya. Menurutnya pasikepan merupakan sebuah alat yang berisi mantra tertentu yang digunakan untuk mencapai sebuah keinginan. “Jadi secara sekala memang bentuknya hanya sebuah benda. Tapi secara niskala, rerajahan itu sebenarnya hanya sebuah simbol untuk mengikat mereka yang tak terlihat agar dapat mencapai keinginan. Misalnya sebagai penglaris, katanya sbeagai penjaga dan lainnya,” tuturnya.

Dia menambahkan, penggunaan pasikepan yang tidak tepat terkadang membawa efek negatif bagi pemakainya. “Menggunakan pasikepan itu tidak sembarangan, ada pantangan dan kewajibannya juga. Kalau pantangan bermacam-macam, ada yang tidak boleh dibawa ke toilet, ada yang tidak boleh dibawa ke pura dan lainnya. Kewajibannya juga bermacam-macam. Ada yang harus di olesi minyak khusus. Ada yang harus diasapi setiap kajang kliwon. Ada juga yang harus di bantenin tiap purnama. Tergantung instruksi baliannya,” ungkapnya terkekeh.

Dia bercerita, salah satu pemedek datang dengan anaknya yang selalu tantrum (marah dan berteriak-teriak). “Katanya sifat anak itu diluar batas kenakalan anak seumurnya. Makanya mereka datang untuk mebayuh. Ketika dibayuh disini, dia terlihat tenang. Namun setelah berganti baju, dia kembali ngamuk tanpa sebab yang jelas. Sambil memegang dadanya,” ujarnya.

Merasa curiga akan perilaku anak itu, dirinya pun bertanya sembari memeriksa bagian dadanya. “Dia selalu memegang bagian tengah ulu hatinya sambil meringis. Saya curiga, mungkin ada luka disana, makanya reaksinya begitu. Ternyata bukan luka tapi sebuah pasikepan kecil,” ungkapnya.

Sempat berdiskusi dengan kedua orang tuanya, katanya pasikepan itu untuk menjaga si anak dari gangguan ilmu hitam. “Tidak ada yang bisa melindungi kecuali rajin sembahyang. Semahal apapun sebuah pasikepan, tidak akan banyak membantu. Karena pasikepan itu karya manusia pasti ada celah. Sedangkan Tuhan, Tuhan tidak pernah memiliki celah,” ujarnya.

Lantas apa yang membuat anak kecil tersebut merasa gelisah dan sakit. Menurutnya, orang tua si anak mungkin tidak dapat merawat pasikepan itu sesuai aturan sang pembuat. Sehingga pasikepan itu justru menyerap energi si pengguna. “Yah bagaimanapun, barang-barang begitu kan butuh energi juga. Makanya diisi ulang lewat prosesi dibantenin di hari-hari tertentu. Jika tidak mendapat makanan. Jadinya dia menyerap energi penggunanya,” paparnya.

Sebagai solusi, ayah tiga orang anak ini menjelaskan, bisa dilakukan dengan tidak menggunakan pasikepan tersebut. “Kalau bisa jangan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sebab itu kan lebih ke niskala. Sesuatu yang tidak terlihat. Lebih baik mebakti ke merajan, sembahyang yang rajin. Kalau mau sukses rajin sembahyang dan bekerja. Pasti sukses kok,” sarannya.

“Jika terlanjur menggunakan pasikepan, tergantung si pemakai sekarang. Kalau dia merasa tidak nyaman dan ingin melepas ya lepaskan. Jika tidak ya sudah tetap gunakan. Itu pilihan,” jelasnya.

Menurutnya melepaskan pasikepan yang sudah lama digunakan tidaklah mudah. “Karena tidak bisa cuma dibuang. Harus dibakar. Ketika akan melepas, pengguna sebaiknya melukat dulu tanpa pasikepannya ya. Setelah melukat hingga bersih, langsung mebakti ke merajan, minta dilindungi dan selalu dituntun. Setelah itu baru dibakar pasikepannya,” paparnya.

Terakhir dia berpesan, agar masyarakat lebih cerdas dalam menggunakan perlengkapan yang berhubungan dengan niskala. “Percaya boleh, tapi harus dipikirkan juga dampaknya. Kembali lagi itu semua tergantung pilihan,” pungkasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia