Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Cerita Rumah Longsor yang Tewaskan 4 Orang

Saat Ikut Evakuasi, Wirama Tak Tahu si Korban Adalah Temannya

09 Desember 2018, 20: 17: 19 WIB | editor : I Putu Suyatra

Saat Ikut Evakuasi, Wirama Tak Tahu si Korban Adalah Temannya

LIHAT LOKASI: Warga hilir mudik mendatangi lokasi kejadian longsor yang rengut empat nyawa di Banjar Sasih, Batubulan. (WIDIADNYANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Selain kehilangan istri dan tiga anaknya yang tertimbun longsor Sabtu pagi (8/12), I Made Oktara Dwi Palguna, alias Ade 30 juga harus merelakan rumahnya di Gang Taman Beji IV, Banjar Sasih, Batubulan, Gianyar, hanyut. Di balik lokasi kejadian itu, ternyata rumah tersebut dibangun di atas tanah uruk dengan senderan yang sudah 4 kali jebol.

Sehari setelah musibah longsor dan menggerus rumah di Gang Taman Beji IV, Banjar Sasih, Desa Batubulan, Gianyar, perlahan masalah pembangunan awal di lahan rumah tersebut mulai terbuka. Dimana sebelum rumah tersebut dibangun, atau sekitar tahun 2013 hingga 2015, pondasi yang menjadi benteng bawah rumah tersebut dari terjangan aliran sungai ternyata sudah 3 hingga 4 kali jebol. Hal itu dikatakan langsung Kelian Dinas Banjar Sasih Ketut Wirama, 42, saat ditemui di rumahnya Minggu (9/12).

“Lokasi itu dulu sebenarnya saya tahu betul. Karena di sana saya kerap mancing sekitar tahun 2013 sampai 2015, sebelum saya menjadi kelian. Seingat saya, sebelum ada rumah, saat proses penyenderan setidaknya sudah 4 kali itu jebol,” ucapnya.

Selain itu, ketika sudah dibangun rumah pun, saat proses pembangunan rumah itu dia tahu juga sempat retak-retak. Dia meyakini hal itu tak lepas dari lokasi tanah yang memang labil lantaran berupa tanah urugan. Mengingat ketika masih persawahan, posisinya tanah tidak terlalu tinggi.

“Saat awal dibangun rumah, juga temboknya sempat retak-retak. Makanya dibongkar lagi, dan dibangun ulang,” sambungnya.

Tidak hanya itu, adanya rumpun bambu yang roboh tepat di tengah sungai, juga diyakini Wirama pengaruh pada robohnya rumah itu. Dimana saat rumpun bambu itu roboh dan melintang di tepat tengah sungai, kemudian batang-batangnya menutupi aliran sungai di sisi timurnya, maka aliran sungai langsung menghantam ke arah barat (bawah rumah korban).

“Dugaan saya seperti itu. Memang sih, batang-batang bambu sempat dipotong-potong dan aliran sungai kembali ke timur. Tapi pas hujan dan airnya besar, alirannya juga kembali menghantam ke barat,” ungkapnya.

Namun yang membuat dia terkejut, korban IMade Oktara Dwi Paguna, 30, sejatinya dia kenal betul. Korban yang dia sebut merupakan pegawai BRI, kerap berkomunikasi dan bertemu dengannya, ketika korban masih tinggal bersama kakaknya di Perum Bumi Sasih Asri Blok 2C. Bahkan korban sempat bertanya kepadanya, dimana ada rumah dengan harga lebih murah di daerah Sasih. Lantaran Wirama tahu, korban sudah betah tinggal di Sasih.

“Dulu sewaktu dia baru punya dua anak, dia masih tinggal sama kakaknya di (Perum) Bumi Sasih Asri Blok 2C. Saya kenal betul dengan dia, dan kerap saling sapa ketika bertemu di jalan. Tapi saya lama tidak berkomunikasi dengannya. Karena terakhir dia datang ke sini (rumahnya), saat istrinya hamil anak ketiga, dan dia masih tinggal sama kakaknya. Juga sempat nanya, dimana kira-kira di Sasih ada rumah yang lebih murah,” paparnya.

Makanya dirinya begitu terkejut, ketika melihat di facebook, kalau korban merupakan orang yang dia kenal. Walaupun kepindahan korban dari Perum Bumi Sasih Asri Blok 2c, ke rumah yang mengalami longsor tidak dia ketahui sama sekali.

“Saat pagi kejadian, saya sebenarnya ikut angkat dia dari bawah. Cuma saya tidak ngeh kalau itu dia, wajahnya penuh darah. Pas buka facebook saat istirahat di atas (lokasi kejadian), saya baru tahu kalau itu dia,” paparnya.

“Kalau saya tahu dia beli rumah itu, saya pasti suruh dia pindah. Karena saya tahu betul bagaimana lokasi tersebut,” sesalnya.

Disinggung mengenai perizinan atas rumah tersebut, dirinya mengakui kalau terkait perizinan ada dinas terkait. Pihaknya sebatas memberikan pengantar kepada pihak pengembang.

“Rumah itu sepertinya dibangun pengembang. Karena biasanya pengembang hanya minta pengantar ke sini, sedangkan perizinan ada di (Dinas) Perizinan,” imbuhnya.

Selain itu, Senin ini (10/12) dirinya sendiri akan langsung ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mengecek data kependudukan korban. Sebab dia mengakui, sejak Sabtu (8/12) hingga Minggu (9/12), dia sudah mengobrak-abrik setiap data kependudukan yang dia miliki, namun tidak ditemukan atas nama korban.

“Dari kemarin saya sudah cari datanya. Pamannya juga datang cari datanya. Tapi tidak ketemu. Padahal setiap gang di wilayah Sasih, saya ada pegang salinan KK (Kartu Keluarganya),” terangnya menunjukkan tumpukan fotocopy KK yang dibendel sesuai gang tempat tinggal penduduk pendatang.

“Mengenai upacara, masih dikoordinasikan sama Bendesa. Saya juga belum dapat informsi resmi dari Bendesa dan Kelian Adat, kapan akan dilaksanakan upacara,” katanya.

Sementara itu, pantauan di lokasi menunjukkan, warga terus hilir mudik untuk melihat titik longsornya rumah korban. Beberapa diantaranya hanya mampu terenyuh membayangkan, bagaimana lima korban tergerus bersama bangunan rumahnya ke dalam sungai.

Bahkan beberapa ibu-ibu, tak henti-hentinya menyatakan rasa ibanya terhadap ketiga anak-anak yang turut menjadi korban. Terlebih ketika melihat sejumlah peralatan anak-anak, seperti tas. 

Seperti diketahui, rumah longsor di Sabtu pagi (8/12) itu menewaskan empat orang korban. Mereka adalah Ni Made Lintang Ayu Widnerti, 33 (ibu), Ni Putu Delta Larasati Palguna, 6 (anak pertama), Made Dian Aditya Palguna, 4 (anak kedua) dan Nyoman Adi Anggara Palguna, 2 (anak ketiga). Sedangkan I Made Oktara Dwi Palguna, alias Ade 30 (ayah) masih dalam perawatan di RS Sanglah. Para korban ini tertimbun rumahnya sendiri yang longsor ke sungai.

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia