Selasa, 22 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Features
Cerita Tewasnya Rea Andika di Pangkung Tibah

Penolong, tapi Tak Minta Tolong, malah Senyum Saat Digulung Ombak

10 Desember 2018, 20: 12: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Penolong, tapi Tak Minta Tolong, malah Senyum Saat Digulung Ombak

DUKA: Ni Wayan Sumitri menunjukkan foto putranya yang tewas terseret ombak di Pantai Pangkung Tibah, Kediri, Tabanan, Senin (10/12). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - I Kadek Rea Andika, 13, pelajar kelas VIII SMPN 2 Kediri yang terseret ombak di Pantai Pangkung Tibah, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Tabanan, Minggu sore (9/12) akhirnya ditemukan. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia Senin pagi (10/12) sekitar pukul 06.41 Wita. Itu membuat keluarga korban shock. Terlebih semasa hidupnya korban dikenal sebagai anak yang ringan tangan dan tidak pernah melawan orang tuanya.

Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh salah seorang warga bernama I Wayan Sukaja saat berjalan-jalan dipinggir pantai. Jenazah korban ditemukan di pesisir pantai dengan menggunakan celana dalam berwarna hitam dan beberapa bagian kulit sudah mengelupas. Selanjutnya saksi memberitahu tim Rescue SAR yang sejak Minggu sore standby di lokasi untuk kemudian mengevakuasi korban menggunakan kantong jenazah. Atas permintaan keluarga korban, jenazah pun langsung dibawa ke rumah duka.

Jenazah korban tiba di rumah duka yang berlokasi di Banjar Badung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, sekitar pukul 07.30 Wita yang langsung dibersihkan dan selanjutnya disemayamkan ke Bale Dangin rumahnya. Satu per satu sanak saudara pun datang untuk membantu mempersiapkan sarana upakara untuk korban.

Sang ibu, Ni Wayan Sumitri, 35, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya atas kepergian anak nomor tiganya tersebut. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Sumitri menuturkan jika sama sekali tidak pernah menyangka jika anaknya yang kalem dan penolong tersebut pergi meninggalkannya dengan cara yang sangat tragis. Apalagi di hari peristiwa itu terjadi, tepatnya Minggu pagi, korban memang minta dibangunkan karena hendak yoga di pantai. Namun karena pagi itu hujan, Sumitri tidak membangunkan Rea, tetapi korban tetap pergi ke pantai.

“Waktu dia bilang mau yoga itu, siangnya dia sempat pulang. Bahkan waktu saya mau berangkat kerja dia bilang agar saya hati-hati di jalan,” ungkapnya.

Tak disangka, pesan itu merupakan pesan terakhir Rea untuk sang ibu yang sudah empat tahun belakangan ini menjadi orang tua tunggal bagi korban dan saudara-saudaranya. Sekitar pukul 16.00 Wita, Sumitri lalu mendapatkan kabar bahwa korban hilang terseret ombak. Sehingga tanpa fikir panjang, dirinya izin dari tempatnya bekerja dan langsung pulang. Padahal Sumitri merupakan karyawan yang baru bekerja selama satu minggu.

“Padahal malam sebelumnya, dia seperti biasa bercanda dengan adiknya, karena dia memang suka ngempu. Sama sekali tidak ada firasat,” lanjutnya sembari mengusap air mata yang terus mengalir dipipinya.

Sebelum korban ditemukan, pihak keluarga juga sempat menghaturkan Pakelem bebek selem (hitam, Red) dengan harapan korban segera ditemukan. Bahkan beberapa orang sanak saudara korban sampai menginap di Pantai Pangkung Tibah selama proses pencarian. Hanya saja takdir berkata lain, Rea ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan menyisaka duka mendalam bagi sang ibu. Karena menurutnya selama ini, korban merupakan sosok remaja yang penurut, rajin mebanten, kalem, dan tidak pernah menolak apabila dimintai tolong oleh dirinya atau keluarga lainnya. Di sekolah, korban juga aktif di bidang non akademik, seperti sering kali mengikuti lomba voly, serta gerak jalan.

Cerita lain muncul dari penuturan sang kakak kandung, I Putu Anggadita, 16, yang saat kejadian juga ada di lokasi. Remaja kelas IX ini mengatakan bahwa sebelum korban hilang terseret ombak, ia sempat berupaya menolong sang adik, meskipun korban tidak meminta tolong. “Dia tidak minta tolong tetapi memang terseret ombak, saya tarik tangan adik saya tetapi terlepas. Dia kayak orang pasrah dan saya lihat dia tersenyum,” ungkapnya yang nampak masih shock atas peristiwa tersebut.

Ia pun menambahkan jika awalnya ia tidak ada janji untuk mandi bersama sang adik di pantai. Namun saat dirinya bersama lima orang temannya berada di pantai, tiba-tiba saja Rea datang dan ikut mandi. Hanya saja, pada Sabtu malam Anggadita memang sempat bermimpi bermain-main bersama korban di pantai, tetapi hal itu hanya dianggap bunga tidur semata.

Terhadap jenazah korban selanjutnya akan dilakukan prosesi Penguburan Senin (10/12) karena kondisi jenazah yang tidak memungkinkan untuk menunggu waktu lebih lama lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua orang remaja terseret ombak di Pantai Pangkung Tibah, Desa Pangkuh Tibah, Kecamatan Kediri, Tabanan, sekitar pukul 15.00 wita, Minggu (9/12). Satu orang berhasil diselamatkan sementara satu orang lagi menghilang ditelan ombak.

Berdasarkan informasi di lapangan, peristiwa itu bermula ketika enam orang remaja pergi ke Pantai Pangkung Tibah untuk mandi sekitar pukul 15.00 wita. Mereka adalah I Putu Agus Mahendra, 13, asal Banjar Pamesan, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, I Putu Anggadita, 16, asal Banjar Badung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, Gunawan Febrian, 14, asal Banjar Badung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan, Komang Rio Prianta, 14, Komang Mertadana, 14, dan I Kadek Arya Wiguna, 14, asal Banjar Pamesan, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan. Mereka merupakan siswa kelas 2 dan 3 SMPN 2 Kediri.

Sesampainya di pantai mereka berenam tidak langsung mandi melainkan sempat bermain ukelele yang dibawa dan berbelanja pada warung yang ada di pinggir pantai. Menurut salah satu remaja yang ikut mandi, I Kadek Arya Wiguna, 14, tiga puluh menit kemudian datang korban I Kadek Rea Andika, 13, yang tidak lain merupakan adik kandung dari saksi I Putu Anggadita yang juga ikut dalam rombongan.

Saat itu korban sempat ditegur oleh saksi Gunawan yang menanyakan kenapa datang dari arah sawah dan berjalan kaki. "Saat itu korban Rea menjawab kalau dia terpaksa memarkirkan sepeda motornya agak jauh dari pantai karena tidak bawa uang untuk bayar parkir. Katanya parkir di belokan di utara," ungkapnya.

Setelah itu korban langsung membuka baju dan berlari ke arah pantai untuk mandi. Ketika itu saksi Wiguna sendiri masih berada di warung, sedangkan teman-teman lainnya sudah lebih dahulu mulai mandi. "Kemudian saya buka baju dan buka celana, pas mau mandi saya tanya sama teman saya Anggadita mana Rea (korban, Red) dan Agus Mahendra karena adik sepupu saya ini tidak bisa berenang, dan dijawab oleh Angga kalau mereka berdua sudah di dalam," tuturnya.

Saat itu Wiguna melihat Rea dan Agus sudah berada cukup di dalam sekitar 50 meter dari pesisir pantai. Bahkan ia sudah tak mendengar lagi suara dari kedua korban namun mereka nampak seperti orang tenggelam sehingga Wiguna bersama Anggadita langsung meminta pertolongan ke Pantai Kedungu yang ada di timur Pantai Pangkung Tibah.

"Adik sepupu saya yang Agus ini tidak bisa berenang malah Rea bisa berenang makanya saya langsung minta bantuan sama orang surfing di Pantai Kedungu," papar siswa SMPN 2 Kediri tersebut.

Dan akhirnya korban Agus Mahendra berhasil diselamatkan sedangkan korban Rea menghilang digulung ombak. 

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia