Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Beji Saraswati Gulingan; Tempat Malukat Nunas Anak hingga Karir

11 Desember 2018, 10: 58: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Beji Saraswati Gulingan; Tempat Malukat Nunas Anak hingga Karir

SEBELAS: Sebelas pancoran yang ada diyakini punya khasiat khusus, juga syarat yang dibawa malukat harus 11, baik warna bunga dan jenis dan warna dupanya. Jero Mangku Gede Wena ngayah di Pura Beji Saraswati sejak 18 tahun lalu (foto kiri). (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Ada yang menarik dari Pura Beji Saraswati yang terletak di Banjar Babakan, Desa Adat Gulingan, Mengwi, Badung. Pasalnya pura beji yang memiliki 11 pancoran itu jika ingin melukat harus membawa sebelas warna bunga berbeda dan 11 warna dupa berbeda.

Pura Beji Saraswati yang terletak sekitar 100 meter di belakang Pura Desa dan Puseh, Desa Pakraman Gulingan, Mengwi, Badung, lingkungannya asri. Ada puluhan tangga berundak dan berdekatan dengan sungai, membuat suasana di sekitar pura begitu tenang. Suara aliran sungai, pepohonan yang rimbun ditambah wangi semerbak dupa, membuat siapapun yang datang merasa damai. "Pura yang telah ada sejak abad VII ini merupakan stana Dewi Saraswati. Tempat pertapaan atau patilasan Sang Dewi," papar pemangku Pura Beji Saraswati yang juga
pengempon pura, Jero Mangku Gede Wena.

Dikatakan pria yang akrab disapa Jero Mangku Desa ini, Pura Beji Saraswati merupakan pura kuno yang disungsung masyarakat Desa Pakraman Gulingan. "Ngayah sebagai mangku di pura ini sudah turun temurun sejak nenek, orang tua, dan kini turun ke saya wajib ngayah," ujar Jero Mangku Desa kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Sejak 1962 ia sudah mulai ikut membantu orang tuanya membersihkan dan ngayah ketika piodalan. "Mulai tahu ada wajib ngayah sejak 1962. Namun, resmi ngayah jadi mangku Pura Beji sejak tahun 2000," tegasnya.

Jika biasanya Pura Beji distanakan Dewa Wisnu atau Ratu Niang sebagai pangiring, lalu mengapa di Pura Beji Saraswati distanakan Dewi Saraswati? Mangku berperawakan tambun ini menjelaskan, ada beberapa mitos terkait nama dan asal usul pura tersebut. "Dulu katanya ketika Bali masih hutan belantara, di hari turunnya ilmu pengetahuan, Dewi Saraswati memilih tempat ini sebagai tempat mayoga.


Nah, karena tekunnya beliau beryoga, muncullah sebelas mata air, dan hingga saat ini sebelas mata air itu dipercaya sebagai simbol pengetahuan yang selalu mengalir,"jelasnya.
Sejak dahulu, lanjutnya, Pura Beji Saraswati digunakan sebagai tempat pasiraman dan patirtaan Ida Bhatara yang malinggih di Pura Kahyangan Tiga Desa Gulingan. "Secara fungsional tirta di sini digunakan dalam berbagai upacara dewa yadnya dan manusia yadnya. Dewa yadnya ketika mendak tirta untuk piodalan. Untuk manusia yadnyanya biasanya digunakan untuk malukat," terangnya.


Pujawali Pura Beji Saraswati Pancoran Solas  digelar setiap Purnama Kapat, berbarengan dengan piodalan di Pura Desa dan Puseh Desa Gulingan. " Tidak ada prosesi khusus tiap piodalan, tapi kalau mau malukat baru khusus upakaranya," terangnya.


Upakara khusus yang dimaksud adalah setiap kali akan malukat, pamedek diharapkan membawa tipat kelan dua soroh, 11 warna bunga yang berbeda, 11 warna dupa yang berbeda. "Kalau malukat di sini ada dua cara. Yang utama dan yang madya. Kalau utama, pamedek membawa tipat kelan  2 soroh, 11 warna bunga berbeda, dan 11 warna dupa yang berbeda juga. Kalau madya tetap membawa tipat kelan dua soroh dan pajati, lalu bunga panca warna dan dupa biasa juga bisa," terangnya.


Lalu, mengapa harus membawa 11 warna bunga dan dupa berbeda? Menurut
Jero Mangku Desa, syarat  itu telah berlangsung sejak bertahun tahun. "Memang sudah begitu aturannya, mungkin karena ada 11 pancoran, satu warna mewakili satu pancoran," jelasnya.

Ditanbahkannya, jika pamedek ingin meaukat di Pura Beji Saraswati Pancoran Solas, sebaiknya membasuh badan dahulu di pancoran yang terletak di bawah pura. "Basuh dulu di bawah pura, tepat di pinggir sungai ada dua pancoran.

Setelah itu, baru malukat di sebelas pancoran yang ada di mandala tengah. Setelah malukat haturkan satu tipat kelan di sumber mata air, satu lagi di palinggih pura utama," ungkapnya.


Usai melukat pamedek dituntun menuju mandala utama untuk bersembahyang. "Kalau mau malukat sebaiknya dipuput pemangkunya langsung, karena ketika sembahyang itulah pamedek harus mengutarakan  permohonannya. Harus secara ikhlas dan berserah pada beliau," ujarnya.

Setelah usai sembahyang, kemudian pamedek nunas wasupada Ida Bhatara agar permohonannya tercapai. "Runtutannya seperti itu, tidak boleh diloncati urutannya, karena masuk pura harus dalam keadaan suci," tegasnya.


Larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar, lanjutnya, tidak diperkenankan membawa kain atau pakaian yang kotor atau bekas cuntaka. Ibu hamil juga tidak boleh memasuki pura karena dianggap masih kotor.


Dikatakannya, setiap pancoran memiliki khasiat yang berbeda beda. Ada yang untuk pembersihan mala, untuk nunas anak hingga permohonan kelancaran soal pekerjaan. "Paling banyak yang datang untuk melebur mala atau membersihkan kotor sekala niskala . Tapi ada juga yang datang dengan tujuan kelancaran karir, termasuk mereka yang bertarung untuk kursi caleg,"
ujarnya.


Ditanya soal kejadian mistis, Jero Mangku Desa tak menyanggah ada kejadian unik. "Pernah ada pamedek yang mengaku melihat belut hitam besar di telaga yang ada di mandala tengah pura. Kalau dilogikakan bagaimana bisa ada belut di tengah telaga, padahal telaga dengan sungai jaraknya sangat jauh di atas.  Hanya  orang tertentu saja yang bisa melihatnya," terangnya.

Pura Beji Saraswati ramai dikunjungi ketika purnama dan rahina Saraswati. "Kalau purnama biasa ramai, tapi menjelang malam sudah mulai sepi. Nah, kalau hari Saraswati pamedek datang  makemit," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia