Selasa, 26 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Features
Nasi Lawar Men Surya di Taman Ayun, Mengwi

Tiga Jam Habiskan 50 Kg Daging Babi, Be Base Genep Bikin Nagih

11 Desember 2018, 21: 05: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tiga Jam Habiskan 50 Kg Daging Babi, Be Base Genep Bikin Nagih

LAYANI PEMBELI: Warung Nasi Lawar Men Surya di daerah Taman Ayun, Mengwi, bukanya hanya tiga jam, dari pukul 15.00 – 18.00. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MENGWI - Jika berkunjung ke objek wisata Taman Ayun yang terletak di daerah Mengwi, Badung, jangan lupa mencicipi nasi lawar Men Surya. Bukanya mulai pukul 15.00 hingga menjelang petang. Nasi Lawar legendaris ini yang ada sejak 1988, ini begitu digemari penikmatnya, hingga rela mengantri lama untuk mendapatkan seporsi nasi lawar. Apa istimewanya nasi lawar buatannya?

Sore itu warung nasi lawar yang terletak sekitar 500 sebelah timur Pura Taman Ayun, tepatnya di depan Jalan Soka, Desa Gulingan, Mengwi, tersebut terlihat ramai. Dengan cekatan dua wanita paro baya melayani para pembeli yang terus menerus datang. Warung sederhana yang hanya menempati bale pesandekan, itu buka dari pukul 15.00 sore hingga menjelang petang. Pasalnya sebelum pukul 18.00 sore semua dagangannya sudah habis terjual. Selain rasanya yang terkenal enak, harga yang dibandrol pun terbilang cukup murah. Dengan Rp 5000 hingga 15.000 per porsi, sudah bisa menikmati nasi lawar Men Surya.

Hal itu yang diungkapkan Men Surya ketika Bali Express (Jawa Pos Group) berkunjung mencicipi Nasi Lawar miliknya. Usaha yang dijalankan turun temurun itu dikerjakan bersama keluarga besarnya. "Sudah bertahun tahun kami menjalani pekerjaan ini. Hanya dibantu anak dan cucu astungkara berkalan hingga sekarang," ujarnya.

Dengan menghidangkan berbagai lauk pendamping, warung sederhana yang terletak 500 meter dari objek wisata Taman Ayun, ini tak pernah sepi. Tempat duduk sederhana yang terletak di belakang meja saji pun terlihat sesak oleh pelanggan yang tengah menikmati nasi lawar. "Astungkara selalu ramai tiap sore," ungkapnya.

Dengan cekatan ia menerangkan lauk pendamping yang ia suguhkan kepada pembeli. "Lengkap dik, ada krupuk usus, ada sate babi, ada kuah balung, ada bale celeng base genep dan masih banyak lagi," ujarnya.

Men Surya mengaku karena tempat yang terbatas, banyak pelanggannya lebih memilih membungkus. "Ya tempatnya kecil jadi banyak yang minta dibungkus saja katanya. Ada yang beli hanya lawarnya saja, ada yang diborong lawar dengan lauknya lengkap. Ada juga yang memesan lengkap dengan nasinya," terangnya.

Lalu berapa kilogram daging yang disiapkan untuk berjualan setiap hari? Menurutnya 50 kg daging babi yang digunakan selalu habis setiap hari. "Nah untuk daging kami nampah (menyembelih, Red) sendiri, biasanya paling sedikit 50 kg daging babi pasti habis. Kalau sudah habis hari itu ya kami langsung tutup tidak diisi ulang lagi," jelasnya.

Yang khas dari nasi lawar Men Surya adalah masakan be basa genepnya. Be base genepnya memiliki citarasa khusus berbumbu coklat dengan tekstur kuah kental seperti siobak dan daging babi yang kenyal membuatnya begitu digemari. Hal itu yang diungkapkan Santini. Warga desa Gulingan, ini sengaja mampir untuk mencicipi Nasi Lawar Men Surya. "Ya disini jaen, murah lagi. Terutama be base genepnya, kuah kental dan dagingnya yang besar dan empuk bikin nagih," ujarnya.

Ia mengaku hampir setiap hari mampir. "Lebih praktis sih, kalau di rumah lauknya habis, tinggal beli lauk, kuah dan lawarnya aja di sini. Kalau nasi di rumah pasti selalu ada," jelasnya.

Santini mengungkapkan kadang ia tak kebagian jika datang kemalaman. "Ya kalau pas pulang kerja malam saya suka gak kebagian, makanya kalau mau mampir paling bagus sore hari jam 5-an, karena lauknya masih banyak pilihan. Kalau sore udah pada habis," tandasnya. 

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia