Selasa, 22 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Melihat Karma Phala dari Filsafat dan Tattwa

12 Desember 2018, 12: 13: 48 WIB | editor : I Putu Suyatra

Melihat Karma Phala dari Filsafat dan Tattwa

TIGA: Ida Mpu Yogi Swara mengimbau, berbuat baiklah mulai dari hal paling sederhana dan kecil, sebab Karma Phala tidak menunggu orang kaya dulu untuk bisa berbuat baik. (DOK. BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Banyak orang  selalu mengaitkan banyak hal dan kejadian dengan Karma Phala.  Namun, masih banyak  yang tak tahu makna dan filosofi, juga dasar sastranya.

Karma Phala terdiri dari dua kata, yaitu karma dan phala. Karma artinya perbuatan, sedangkan  phala artinya buah atau hasil perbuatan. Jadi, Karma Phala adalah hasil dari perbuatan seseorang. "Hasil perbuatan tergantung perbuatan apa yang telah kita lakukan selama hidup. Perbuatan baik disebut  Subhakarma dan perbuatan jahat adalah Asubhakarma, yang sangat bergatung pada siklus Rwabhineda," papar  Ida Mpu Yogi Swara  kepada Bali Express (Jawa Pos Group )  ketika  berkunjung ke kediamannya, Griya Uma Jati, Denpasar.

Ia menjelaskan, secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Subhakarma kriterianya  adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir batin, dan menuju kepada persatuan Stman. "Dalam ajaran agama Hindu dijelaskan dasar pilar ajarannya adalah Panca Srada, aturan bakunya adalah Rwabhineda, dan hukum pastinya adalah Karma Phala. Apapun yang kita lakukan di dunia pasti akan terikat dan terkait dengan semua hal itu," jelasnya.


Ia menambahkan, dari beberapa tingkah laku yang baik, ada beberapa ketentuan yang merupakan jabaran daripada pelaksanaan Subhakarma yang disebut tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berpikir yang bersih dan suci, berkata yang benar dan berbuat yang jujur.

"Dalam implementasi Karma Phala di dunia nyata, ada tiga hal yang sangat memengaruhi manusia, yaitu pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiga hal itulah yang seharusnya disucikan dahulu," terangnya. Ida Mpu Yogi menjelaskan, perbuatan buruk ( Asubhakarma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan Subhakarma. Asubhakarma ini merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma (kebenaran), juga selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong Asubhakarma merupakan larangan-larangan yang harus dihindari dalam hidup, karena semua bentuk perbuatan Asubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita.  Lantas, apa kaitannya Subhakarma dan Asubhakarma dengan Karma Phala? "Jelas sangat erat kaitannya. Karma Phala berjalan sesuai perbuatan yang dilakukan manusia. Jika manusia melakukan Subhakarma, maka hasil yang akan diterima adalah baik. Jika Asubhakarma, maka yang diterima tentu jelek dan sebanding dengan perbuatannya," terangnya.


Menurutnya, hukum Karma Phala akan selalu mengikuti manusia, di mana pun dan kapan pun. Seluruh makhluk hidup tidak akan bisa lepas dari lingkaran Karma Phala.  Semua itu tujuannya untuk mencapai kesempurnaan serta kebahagiaan lahir batin, melenyapkan penderitaan, meninggalkan alam Neraka dan selanjutnya menuju ke alam Surga.


Lantas, bagaimana caranya untuk mencapai tujuan tersebut? Ayah satu orang putra ini menjelaskan banyak cara manusia agar dapat mencapai tujuan tersebut, seperti berpegang teguh pada dharma (kebenaran), melebur Asubhakarma (perbuatan buruk) dan menjadi Subhakarma (perbuatan baik). "Tujuan tertinggi dari hukum Karma Phala  ialah untuk mencapai moksa, yakni bersatunya Atman dengan Brahman, di mana manusia telah mencapai kesempurnaan hidup berupa kesucian batin, laksana dan budi pekerti yang luhur sesama manusia. Diharapkan manusia menjadi Jagadhita," ujarnya.


Dalam kitab Bhagawadgita juga dijelaskan, hukum Karma Phala menjadikan manusia mengerti akan arti sebab akibat. Jika telah mencapai hasil yang baik dari perbuatan Subhakarma, maka akan memberi ketentraman rohani, sumber kebahagian yang abadi, sukha tanpa walidhuka, yang tiada didasarkan atas terpenuhinya nafsu duniawi, memberi kesucian dan menyebabkan roh bebas dari penjelmaan, serta merasakan manunggal dengan Tuhan, yang disebut Moksa.
Hal itu juga dijelaskan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 2 yang menjelaskan: Manusah sarvabhatesu Vartate vai cabhacubha Acbubhesu samavistam Cubhesveva vakarayet.  Artinya:

Dari demikian banyaknya makhluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu sama saja yang dapat melakukan perbuatan baik dan buruk itu : adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, juga manfaatnya jadi manusia.


Hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu, lanjutnya, hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang, maka akan ia terima setelah di akhirat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. " Maka dari itu, Karma Phala dapat digolongkan menjadi tiga macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala," ujarnya.


Ida Mpu Yogi menjelaskan, Sancita Karma Phala adalah hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan
kita yang sekarang. Prarabda Karma Phala adalah hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi. "Jadi, perbuatan baik dan buruk dalam Prarabda Karma Phala dikatakan seimbang dan telah mendapat pahala atau hasil perbuatannya," terangnya.


Sedangkan Kriyamana Karma Phala adalah hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.  Jadi, perbuatan yang pernah kita lakukan, tapi belum sempat mendapat balasan atau pahala, maka akan diterima pada kehidupan yang akan datang. Dicontohkannya, seseorang melakukan perbuatan baik, tapi pada
kehidupan ini belum mendapat balasan. Maka kehidupan yang akan datang mendapatkan pahala kebahagiaan.

Ia menegaskan, dalam Veda (Wrhaspati Tattwa 3) dinyatakan sebagai berikut  :
Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Orang akan menyerap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti, apakah pada akhirnya semuanya itu akan menghasilkan buah. " Jadi, semua perbuatan kita di dunia, baik dan buruk pasti ada balasannya. Makanya, kita hidup di dunia jangan terlalu terlena. Berbuat baiklah mulai dari hal paling sederhana dan kecil, sebab Karma Phala tidak menunggu kita kaya dulu untuk bisa berbuat baik," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia