Selasa, 26 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Bali Jadi Favorit Para Buron, Polda Tangkap Tiga Warga Asing

12 Desember 2018, 19: 35: 39 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bali Jadi Favorit Para Buron, Polda Tangkap Tiga Warga Asing

BURONAN: Tiga buronan yang ditangkap Polda Bali dihadirkan di hadapan media, Rabu (12/12). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Selain favorit wisatawan, Bali disebut sebagai tempat yang istimewa bagi buronan. Hal itu diungkapkan Perwakilan kepolisian Rep. Ceko Letkol Teddy saat jumpa pers soal tangkapan tiga buronan internasional di Mapolda Bali, Rabu (12/12). Dia pun yakin masih banyak buroan dari negaranya berada di Bali.  

Menurut Teddy, sejak tahun 2004 sudah ada 4 orang yang berhasil dipulangkan dari Bali ke negaranya. Baik kasus penipuan maupun pembunuhan. "Kami mengetahui persis masih banyak buronan kami di Bali," ungkapnya. Teddy sendiri datang untuk “menjemput” salah satu buronan  Rep. Ceko yang ditangkap Polda Bali, Robert Lleyton Smidl dengan red notice, A-2349/3-2015, tanggal 3 Maret 2015 buronan Interpol Republik Ceko.

Robert sendiri juga terjerat masalah tindak pidana penipuan di negaranya. Dia ditangkap di sebuah rumah Jalan Tukad Balian nomor 178 Sidakarya pada Selasa (11/12) lalu dan akan dilakukan ekstradisi pada Kamis (13/12). Ada 3 kasus pidana pencurian yang menjerat Robert Lleyton Smidl. Bahkan sejak lama Robert menjadi buron.

"Bukan pertama kali kami ke Bali. Kerja sama kami dengan Bali dan Indonesia beberapa kali. Karena Bali dan Indonesia itu telah menjadi destinasi yang sangat disukai oleh buronan kami," ungkap Teddy.

Teddy berharap dengan adanya kerjasama semacam ini akan berkurang pelarian buronannya ke negara Indonesia. Karena tidak aman bagi mereka menyembunyikan diri ke Bali. Memang banyak warga negaranya yang melarikan diri ke Bali. Namun dengan adanya kerja sama ini pihaknya berharap akan berkurang.

Sejak tahun 2004 sudah ada 4 orang yang berhasil dipulangkan. Baik kasus penipuan maupun pembunuhan. "Kami mengetahui persis masih banyak buronan kami di Bali," ungkapnya.

Oleh karena itu Kepolisian Republik Ceko sudah melakukan pertemuan penting dengan mengundang Kepolisian Indonesia ke Ceko hanya untuk membahas masalah ini pada September 2018 lalu.

Sementara itu, selain Robert, Polda Bali juga menangkap dua warga negara asing yang masuk daftar red notice. Mereka adalah Aleksandra Nevodnichaya, 31, dengan red notice nomor A-10625/10-2018, tanggal 8 Oktober 2018 buronan Interpol Rusia; dan Hang Dongheon dengan nomor A-10487/11-2018, tanggal 15 November 2017 buronan Interpol Korea.

Menurut Wadir Reskrimum Polda Bali AKBP Sugeng Sudarso bahwa buronan Aleksandra ini terjerat kasus penipuan uang 4,3 juta Rubles di Rusia. Dia diamankan oleh pihak Imigrasi Bandara Internasional Ngurah Rai pada Sabtu (1/12). Saat dihadirkan dan disebut namanya di depan media pada Rabu (12/12) Aleksandra langsung pingsan.

"Yang bersangkutan saat itu akan berangkat ke Singapura. Rupanya sudah semingguan di Bali, dan rencananya akan kami ekstradisi pada 13 Desember ini," ungkapnya.

Sementara itu Hang Dongheon juga terjerat kasus yang sama di negaranya dengan melakukan penipuan hingga mencapai USD 2,5 juta. Tersangka ini diamankan pada Selasa (4/12) di Bandara oleh pihak imigrasi saat akan memasuki Wilayah Bali. Dan rencananya akan diekstradisi pada Jumat (14/12) dengan perwakilan Atase Kepolisian Korea.

Wadir Reskrimum Polda Bali AKBP Sugeng Sudarso mengatakan dalam menangani kasus buronan interpol seperti ini, pihak Kepolisian Polda Bali menyampaikan hanya melalukan penangkapan dan pengecekan identitas. Petugas akan mencocokkan identitas yang bersangkutan dengan daftar red notice yang diterimanya dari Mabes Polri.

Mengapa pelaku kejahatan luar negeri memilih Bali sebagai pelarian? Menurutnya hal ini dikarenakan mereka selalu menyasar negara-negara yang digunakan untuk tempat wisata. Sehingga harapannya tidak termonitor.

Pada tahun 2017 lalu Polda Bali menerima sebanyak 12 orang yang masuk daftar red notice. Empat di antaranya diekstradisi dan 8 orang dideportasi. Mereka terdiri dari warga negara Prancis, Jepang dan India dengan masing-masing 2 orang. Serta warga negara Belarus, Australia, Tiongkok, Filipina dan Malaysia yang masing-masing satu orang.

Sedangkan tahun 2018 ini sebanyak 10 orang yang masuk daftar red notice. Terdiri dari Rumania, Taiwan, Tiongkok, Amerika, Spanyol, Korea, Lebanon dan Ceko masing-masing satu orang. Ditambah dua orang dari Rusia.

"Rata-rata kejahatan mereka penipuan, pelecehan seksual, hacker dan penculikan," ungkapnya.

Dari pantauannya para orang asing yang masuk daftar red notice ini tidak menujukkan prilaku berlebih di masyarakat. Interaksinya sebagaimana layaknya seorang wisatawan. "Sama seperti wisatawan secara umum. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan," ungkapnya.

Sedangkan perwakilan petugas imigrasi menyampaikan bahwa pihak Imigrasi Ngurah Rai dalam hal ini membantu Polda Bali terkait red notice tersebut. Secara otomatis akan ada alarm apabila yang bersangkutan terdeteksi di Bali. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia