Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Penyidik Gagal Periksa Tersangka Proyek SMAN Satap Nusa Penida

12 Desember 2018, 20: 34: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Penyidik Gagal Periksa Tersangka Proyek SMAN Satap Nusa Penida

TAK SELESAI: Proyek bangunan SMAN Satap Nusa Penida ini menyeret I Nyoman Beres sebagai tersangka korupsi. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA -  Penyidik Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Klungkung di Nusa Penida gagal melakukan pemeriksaan terhadap Kepala SMAN Satu Atap (Satap) Nusa Penida I Nyoman Beres, Rabu (12/12). Itu karena Beres yang menjadi tersangka dugaan korupsi pembangunan empat ruang kelas baru di sekolah setempat memenuhi panggilan penyidik tanpa didampingi penasehat hukum. Padahal saat datang memenuhi panggilan penyidik kondisinya dalam keadaan sehat.

Kacabjari Klungkung di Nusa Penida A.Luga Herlianto mengungkapkan, Beres disangka melanggar pasal pidana yang ancamannya lebih dari lima tahun, yaitu Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 Undang-Undang 31/1999 jo Undang-Undang 20/2001, dan  Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang 31/1999 jo Undang-Undang 20/2001 serta diancam  pasal pemalsuan sebagaimana Pasal 9 Undang-Undang 20/2001. Dengan demikan, dia wajib didampingi penasehat hukum ketika menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, termasuk saat diadili di Pengadilan Tipikor, nanti. Dia bebas memilih sendiri penasehat hukumnya.

“Ini panggilan pertama (setelah tersangka, Red). Beliau hadir. Namun pemeriksaan tidak bisa dilanjutkan dikarenakan tersangka tidak didampingi penasehat hukum,” terang Luga saat dikonfirmasi Bali Express (Jawa Pos Group). Penyidik memberikan waktu kepada tersangka dua hingga tiga hari untuk memilih penasehat hukum atau disiapkan negara.

Sementara itu, Beres yang dikonfirmasi Selasa malam (11/12), mengungkapkan bahwa pasca menyandang status tersangka sejak 12 November 2019, kondisi kesehatannya sempat menurun. Dia  sempat menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Denpasar. Itu karena shock ditetapkan sebagai tersangka. Dia mengaku sakit maag-nya kerap kambuh. Kepalanya pusing sejak beberapa hari lalu, dan menderita asam urat.

“Dulu saya tidak begini (sakit). Saya shock dengan kasus ini,” ujar Beres, pelan saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Meskipun terasa berat dengan kasusnya, pria asal Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida itu akan berusaha menghadapi proses hukum. Dia akan membeber semua fakta terkait pembangunan yang versi Kejaksaan merugikan keuangan negara. “Saya tidak ada menikmati sendiri uang itu,” kata Beres, lirih.

Ia menceritakan, pembangunan tidak selesai karena memang anggaran kurang. Dana alokasi khusus (DAK) yang dikucurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak cukup untuk membangun empat ruang kelas baru. Berdasarkan rencana anggaran biaya (RAB), empat ruang kelas itu butuh uang lebih dari Rp 860 juta. Belum lagi anggaran sebesar itu harus dibelikan meubelair. Ia sempat ingin menolak dana itu. Namun dengan alasan prihatin dengan siswanya tidak punya ruang kelas, diputuskan menerima.

Selain RAB melebihi anggaran, kondisi tanah di tempat dibangunnya proyek juga membuat anggaran membengkak. Harus mencari alat berat karena lahannya keras dan miring. Alat berat untuk meratakan tanah tidak masuk RAB. Saat proses pembangunan pada 2017 lalu, terjadi erupsi Gunung Agung yang berpengaruh terhadap harga material bangunan di Nusa Penida. “Saya tidak ada menikmati sendiri uang itu,” tegasnya lagi. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia