Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Cabuli Bocah di Yayasan Anak Yatim, Dituntut 13 Tahun

13 Desember 2018, 07: 28: 17 WIB | editor : I Putu Suyatra

Cabuli Bocah di Yayasan Anak Yatim, Dituntut 13 Tahun

Ilustrasi (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Dinilai terbukti melakukan pencabulan terhadap seorang bocah, Erfan Handoko, 28, dituntut dengan hukuman selama 13 tahun penjara. Tuntutan itu disampaikan dalam persidangan tertutup di Pengadilan Negeri Denpasar, kemarin (12/12).

Dalam surat tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) IGA P. Mirah Awantara, terdakwa juga dituntut dengan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider enam bulan penjara.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Hakim I Made Pasek, penuntut umum menilai terdakwa terbukti melakukan persetubuhan terhadap anak. Dan perbuatannya itu dianggap memenuhi unsur pidana dalam Pasal 76 D juncto Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Atau sesuai dengan dakwaan alternatif ketiga yang diajukan penuntut umum di awal persidangan.

Terkait tuntutan itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya, Bambang dll mengajukan pembelaan secara tertulis yang akan disampaikan dalam sidang berikutnya, pekan depan.

Di lain pihak, tuntutan tinggi yang diajukan penuntut umum mendapatkan sambutan baik dari aktivis anak, Siti Sapura. "Setidaknya kerja keras kepolisian dalam menangani kasus ini tidak sia-sia. Apalagi hampir dua tahun terdakwa ini kabur," kata Siti Sapura yang dari awal melakukan pendampingan terhadap korban serta memantau jalannya persidangan.

Perkara pencabulan ini terjadi berulang kali. Dimulai sekitar Juli 2016 lalu. Dan terjadi di yayasan terdakwa di Sesetan, Denpasar Selatan.

Peristiwa tersebut awal saat korban sedang belajar sendirian di ruang tamu. Dan terdakwa tiba-tiba datang menarik tangannya. Korban kemudian diajak ke kamar mandi dengan kondisi mulut yang dibekap. Di tempat itulah, terdakwa kemudian menyetubuhi korban yang masih di bawah umur.

Untuk menutupi perbuatannya tersebut, terdakwa juga mengancam korban dengan menggunakan pisau. Dan menegaskan ke korban agar tidak menceritakan perbuatan terdakwa kepada orang tuanya.

Mulai dari itulah, korban selalu jadi sasaran terdakwa. Hingga perbuatan terdakwa itu terbongkar Ratna Kumala yang ikut mengelola yayasan tersebut.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia