Minggu, 17 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Terlibat Peredaran SS Afrika, Seorang Napi Dituntut 17 Tahun

13 Desember 2018, 20: 25: 25 WIB | editor : I Putu Suyatra

Terlibat Peredaran SS Afrika, Seorang Napi Dituntut 17 Tahun

SIDANG: Terdakwa kasus narkotika, Soenartono Rachmanto alias Onny, saat menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (13/12). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Belum tuntas menjalani masa pembinaan, narapidana Lapas Kelas II A Kerobokan, Soenartono Rachmanto alias Onny, sudah berhadapan dengan ancaman hukuman lagi. Kamis (13/12), dia dituntut dengan hukuman yang cukup berat dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Denpasar.

Tuntutan yang disampaikan penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Denpasar, Jaksa Dewa Narapati, dengan pidana penjara selama 17 tahun karena terbukti melakukan tindak pidana narkotika. Barang buktinya berupa sabu-sabu jenis Afrika.

Dalam surat tuntutannya, jaksa menyebutkan terdakwa terbukti melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika. Yakni dengan menjadi perantara dalam jual beli narkotika. Perbuatan itu sebagaimana Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika."Sebagaimana dakwaan primer," ujar penuntut umum di hadapan pimpinan sidang, Hakim I GN Partha Bargawa.



Selain pidana kurungan, jaksa juga menuntut terdakwa yang masih berstatus sebagai narapidana di Lapas Kelas II A Kerobokan ini dengan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider enam bulan. 



Menanggapi tuntutan itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya, Agus Suparman, langsung mengajukan pledoi secara tertulis. "Kami mohon waktu satu minggu untuk mengajukan pledoi tertulis Yang Mulia," ujar Agus Suparman.



Perkara yang menjerat Soenartono alias Onny ini berawal pada tanggal 11 April 2018. Saat itu dia menghubungi A.A. Gede Rai (terdakwa dalam berkas terpisah) untuk mengambil paket milik Bo di tempat jasa pengiriman UPS di Jalan Pulau Moyo, Denpasar Selatan.

Rupanya, perbuatan yang dilakukan terdakwa, Gede Rai, dan Bo itu sudah tercium petugas dari Tim Sus Subdit I Bareskrim Polri. Dimana, petugas sebelumnya mendapat informasi dari petugas Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC) Bandara Soekarno-Hatta.



Saat itu petugas KPUBC yang bertugas menemukan paket ekspedisi UPS Airways bill No.6FF637FSWZQ yang dikirim dari Accra Ghana, Afrika ke alamat atas nama Made Arie di Jalan Glogor Carik, Denpasar Selatan. Paket tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen resmi.

Kemudian petugas melakukan memeriksa paket itu menggunakan mesin X-Ray dan menemukan barang mencurigakan. Selanjutnya petugas bea cukai berkoordinasi dengan petugas Kepolisian dari Sub Direktorat I Badan Reserse dan Kriminal Polri.

Kemudian, paket tersebut itu dibawa ke kantor bea cukai dan setelah dibuka ditemukan dua bungkus serbuk putih. Lalu dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tes narkotika dan diketahui serbuk putih itu mengandung narkotika.

Berdasarkan hal itu, lalu petugas kepolisian melakukan control delivery dengan cara mengirim paket itu ke kantor jasa pengiriman di Jalan Pulau Moyo, Denpasar Selatan. Pada hari Rabu tanggal 11 April 2018, paket diambil oleh terdakwa Gede Rai. 

Setelah paket itu diambil, petugas kepolisian langsung menangkap Gede Rai, serta memeriksa isi paket yang diambil. Dari pemeriksaan paket itu, selain berisi pakaian wanita dan anak, petugas menemukan dua bungkus serbuk kristal bening sabu-sabu masing-masing seberat 266 gram dan 248 gram brutto.

Dari penangkapan Gede Rai inilah, nama terdakwa Soenartono Rachmanto alias Onny terungkap sehingga dia harus menjalani persidangan. 

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia