Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Gauri Shankar Gupta Mengurai Misteri Kehidupan

14 Desember 2018, 10: 42: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gauri Shankar Gupta Mengurai Misteri Kehidupan

BUKA: Gauri Shankar Gupta (kanan) bersama tokoh meditasi yang juga penulis buku, Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa, membuka selubung buku Mengurai Misteri Kehidupan yang diluncurkan di Gedung Swami Vivekanada Cultural Center Bali, Renon, kemarin. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dalam buku Mengurai Misteri Kehidupan, Gauri Shankar Gupta banyak membeber definisi kebahagian yang disebabkan Karma, Kala Cakra, dan Delusi kehidupan. Kala Cakra atau roda waktu dikatakan sangat menakutkan. Pasalnya, kala atau waktu tak dapat berjalan mundur atau berputar ke belakang. Lalu, bagaimana definisi bahagia yang dibebernya  lewat buku Mengurai Misteri Kehidupan?

Definisi bahagia tentu berbeda bagi setiap orang. Ada yang merasa bahagia dengan memiliki harta berlimpah, ada pula yang merasa bahagia dengan memiliki pasangan serta keluarga. Dalam sebuah riset yang dilakukan Gauri Shankar Gupta, ternyata kebahagian bisa didapatkan dari diri sendiri. Riset yang dilakukan lewat wawancara dan pengamatan melalui metode sains dan spiritual tersebut,  membuatnya menyadari banyak ajaran agama yang belum dapat menjelaskan definisi bahagia secara lugas. 

Gauri Shankar Gupta adalah seorang mantan diplomat India yang aktif dalam kegiatan spiritual dan keagamaan.  Pengalamannya menjelajahi berbagai negeri di dunia dan melihat berbagai budaya dan keyakinan, membuatnya begitu tertarik mendalami isu - isu spiritual dan keagamaan. Salah satu pertanyaan yang selalu ia dapat dari setiap orang yang ditemuinya adalah bagaimana menjadi bahagia? Sebuah pertanyaan yang selalu bergaung dalam kepalanya selama beberapa tahun.

"Selama saya menjalani tugas sebagai seorang diplomat, saya bertemu dengan berbagai macam orang dengan background agama dan budaya yang berbeda. Dalam setiap ajaran agama dan keyakinan memiliki cara yang berbeda dalam mencapai kebahagiaan. Ada yang menyebut kebahagiaan itu Surga, ada yang menyebut bahagia itu rasa senang. Macam - macam definisinya," ungkap Gauri Shankar kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) saat peluncuran bukunya di Gedung Swami Vivekanada Cultural Center Bali, Renon, kemarin.


Kala Cakra merupakan sebutan lain dari roda waktu. Manusia dikatakan hidup dengan terikat karma dan Kala Cakra. Dalam ajaran agama Hindu, kala atau waktu disebut Kalpa. " Kalpa adalah satuan waktu panjang yang harus ditempuh Atman untuk dapat mencapai Moksa," ujarnya. Dalam beberapa sanskrit dijelaskan satu Kalpa berarti satu hari bagi Brahman. Satu hari bagi Brahman, sama dengan seribu Yuga. "Nah satu Yuga artinya empat zaman bagi kita manusia. Empat zaman itu adalah Satya Yuga,Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Bisa dibayangkan berapa panjang perjalanan Atman kita untuk mencapai Moksa karena terikat Kala Cakra," jelasnya.


Ia menambahkan, dalam satu kali siklus peralihan dari satu zaman ke zaman lainnya, juga terikat Kala Cakra. "Peralihannya berbeda - beda. Contohnya dari Zaman Satya Yuga ke zaman Treta Yuga 1.728.000 tahun sekali. Sedangkan dari Treta Yuga ke Dwapara Yuga 1.296.000 tahun sekali. Dari zaman Dwapara Yuga ke Kali Yuga 864.000 tahun, dan dari Kali Yuga ke awal lagi 432.000 tahun," jelasnya. Satu Kalpa adalah 1000 tahun, jika dihitung, maka satu kali siklus Kalpa bagi manusia adalah 4.320.000 tahun sekali. "Selama masa itu kita terbelenggu oleh Kala Cakra dan Karma. Karma membuat kita bereinkarnasi kembali dan Kala Cakra mengatur kita bereinkarnasi setiap zaman sampai karma buruk kita berakhir," jelasnya.


Mendapati hasil riset yang mengejutkan, Gauri Shankar Gupta mencari beberapa referansi mengenai makna kebahagiaan. "Selama masa tugas saya, saya selalu menyempatkan berkeliling untuk melihat dan belajar. Ketika saya masih berada di India, saya banyak belajar soal agama dan budaya Hindu, ketika di Prancis saya banyak melihat kebudayaan Nasrani, dan di setiap negara saya mendapat definisi kebahagiaan yang berbeda beda," tandasnya.

Lalu, apa makna kebahagian menurut wakil UNESCO untuk India ini? Menurutnya, kebahagiaan tidak datang dari benda - benda bernilai ataupun dari tahta dan kekayaan. Kebahagian berasal dari diri sendiri. "Rasa bahagia itu tergantung sudut pandang kita. Jika kita melihat sesuatu yang sederhana sebagai berkah atau sumber kebahagiaan, maka kita akan merasa bahagia," tegasnya.Baginya kebahagiaan sejati adalah keseimbangan antara kesenangan dan kesusahan dalam hidup. "Dalam Hindu dikenal dengan Rwabhineda. Susah dan senang itulah yang namanya kebahagiaan. Sebab, ketika kita pernah merasakan sengsara, dan sengsara itu sudah terlewati disanalah rasa bahagia itu akan kita rasakan. Jika senang terus kita tidak akan mengerti apa itu kebahagiaan," tegasnya.


Hal senada juga diungkapkan Dosen IHDN, Dr. I Gede Suwantana yang mengalih bahasakan buku bertajuk Unraveling Mysteries of Life ini menjadi Mengurai Misteri Kehidupan.
Menurutnya, banyak penafsiran spiritual yang dijelaskan Gauri Shankar secara gamblang di bukunya. "Dalam buku agama mungkin kita hanya akan menemukan kalimat - kalimat dengan makna tersirat. Artinya, kalimat tersebut menjelaskan sesuatu tidak secara langsung. Nah, lewat pengalamannya yang luas, Gauri seperti berbagi definisi kebahagiaan yang ia temukan," jelas Suwantana.


Dosen Pascasarjana yang ditunjuk langsung untuk menerjemahkan buku karya Gauri Shankar itu, mengakui cukup kesulitan menunaikan tugasnya. "Saya menerjemahkan buku ini hampir satu setengah tahun. Kendalanya bukan hanya dari segi bahasa, tapi dari segi pemahaman juga," paparnya. Memahami maksud yang ingin dijelaskan penulis aslinya membuatnya membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan terjemahan buku tersebut. "Dalam beberapa kalimat Sansekerta misalnya, kan satu kata memiliki banyak arti, saya harus memahami apa yang ia maksud dalam tulisannya," ungkapnya. Dengan komunikasi yang intens dan referensi yang banyak, cukup membantunya dalam pengerjaan terjemahan buku tersebut. "Cukup terbantu lewat komunikasi jarak jauh. Bagi saya, buku ini cukup memberi banyak pencerahan di luar ilmu yang saya dapat selama ini," tandasnya.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia