Kamis, 24 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Rawat Anak di RS Sanglah, Sahabat Bupati Klungkung Kehabisan Uang

14 Desember 2018, 20: 39: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Rawat Anak di RS Sanglah, Sahabat Bupati Klungkung Kehabisan Uang

PEDULI: Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengunjungi pasien stunting yang ternyata adalah putra sahabatnya di RS Sanglah, Jumat (14/12). (AYU AFRIA UE/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta langsung menemui sahabatnya, Wayan Sutama, 40 yang kehabisan uang karena merawat anaknya yang sakit di RS Sanglah. Sutama sendiri harus berhenti bekerja karena harus menunggui anaknya, Putu Dini Armiawan, 14 yang mengalami stunting (tinggi badannya lebih pendek dibandingkan dengan usianya) dan keterbelakangan mental, sejak Kamis (6/12).

"Baru tahu di media sosial. Ternyata teman sewaktu saya kerja di koperasi. Tiga puluh tahun yang lalu, sahabat dekat. Dan saya support jualan sate. Di tengah-tengah itu tidak punya anak setahu saya. Dan yang terakhir saya tahu anaknya ada gangguan mental dan stunting," kata Suwirta di RS Sanglah, Jumat (14/12).

Suwirta mengaku ini menjadi pelajaran baginya untuk lebih sering menengok warganya. Pihaknya sedikit kecewa lantaran ayah kandung pasien stunting ini adalah sahabatnya dulu sewaktu masih belum menjabat bupati.

Sementara Sutama mengaku tahu diri sejak karir Suwirta semakin menanjak. Ketimpangan nasib antara keduanya menyebabkan tak lagi sedekat dulu.

Setelah mengunjungi Ruang Cempaka 301 di RSU Sanglah pada Jumat (14/12). Suwirta mengaku prihatin dengan kondisi sahabatnya tersebut. Ia sempat berusaha mencari tahu keberadaan Putu Dini dirawat di rumah sakit Klungkung.

"Kalau bisa dirawat di Klungkung. Saya sudah kontak dokternya di sana. Tiyang mau ngajak adik ke Klungkung. Akan ada nanti ruangan khusus. Tapi jangan sampai memaksakan. Artinya kalau bisa nggih," pintanya ke dokter yang menangani Putu.

Tujuannya tidak lain adalah supaya lebih mudah dalam merawatnya dan Sutama bisa bekerja. Namun karena beberapa pertimbangan akhirnya permintaan tersebut harus tertunda. "Untuk perawatannya kan sudah ada BPJS. Sementara untuk kebutuhannya di luar BPJS akan saya mintakan Dinsos agar menginventarisir kebutuhan hidup mereka. Agar nanti kecukupan hidup mereka, yang penting merubah kehidupan mereka agar jangan sampai seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga," ungkapnya.

Sementara itu dua orang dokter residen yang merawat pasien, Dessy Adoe dan Anik Cindi Yuliastin menyampaikan bahwa pasien belum bisa dibawa ke Klungkung sesuai permintaan Suwirta. Lantaran pasien masih dalam penanganan kegawatan dulu baru nanti ke arah penyakit metabolik.

"Adik kami ini kan datang dengan bengkak di kaki dan tangannya. Kami harus turunkan bengkak dulu. Baru nanti kami gemukkan. Biar secara kompleks tertangani misalnya ke dokter THT juga. Rencananya juga akan ada penanganan penyakit metaboliknya," ungkapnya.

Pihaknya juga menyampaikan bahwa nantinya jika sudah ada jawaban dari dokter terkait makan akan dirujuk ke Klungkung.

Anik menyampaikan bahwa sejak diterima kondisi pasien memgalamikebengkakan dibeberapa bagian dengan berat badan awal sekitar 17 kilogram. Namun setelah dirawat bengkak tersebut hilang dan berat badannya mencapai 15 kilogram. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia