Minggu, 08 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Features
Pasien Stunting Putra Sahabat Bupati Suwirta

Hanya Bisa Tertawa dan Menangis Bergantian setiap Menitnya

14 Desember 2018, 20: 50: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Hanya Bisa Tertawa dan Menangis Bergantian setiap Menitnya

PASIEN STUNTING: Stunting, Putu Dini Armiawan mengalami gizi buruk dan keterbelakangan mental. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Wayan Sutama, 40, asal Banjar Baledan, Nusa Penida, Klungkung, harus berhenti menjadi pedagang sate. Itu karena dia harus mengurusi anak pertamanya Putu Dini Armiawan, 14,  yang mengalami stunting dan keterbelakangan mental hingga harus masuk ke rumah sakit sejak Kamis lalu (6/12).  

Sejak menikah dengan Made Gati, Sutama yang tak lain sahabat Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, dikaruniai tiga orang anak. Putu Dini adalah anak pertamanya yang mengalami stunting atau tinggi badannya lebih pendek dibandingkan dengan usianya. Untuk diketahui, Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun. Selain itu, Dia juga mengidap keterbelakangan mental.

Dengan usianya yang sudah 14 tahun, Putu Dini hanya setinggi anak kelas 5 SD. Mirisnya anaknya yang ketiga yang baru lahir 2012 lalu juga mengalami hal yang sama dengan Putu. Untungnya anak keduanya yang lahir tahun 2007 tumbuh normal dan kini duduk di bangku kelas 5 SD.

"Sejak kehamilan normal. Tapi waktu lahir 8 Februari 2004 itu usia kandungannya baru 7 bulan dan bobotnya 2,5 kilogram," ujar Sutama.

Sejak kecil diakuinya Putu hanya bersedia makan bubur saja, itu pun bubur yang banyak airnya. Kalaupun disuapi nasi juga tidak mau. Dari umur 7 tahun, tanda-tanda stunting itu semakin jelas. Putu hanya bisa berjalan sedikit saja dengan posisi kaki yang agak menekuk. Keterbelakangan mental juga membuat kondisinya semakin parah. Kedua kakinya selalu ditekuk meskipun dalam posisi tidur.

"Memang kondisinya begitu. Waktu ketawa, ketawa sendiri. Waktu nangis, nangis sendiri. Ketawa dan nangis sendiri gitu tanpa sebab. Seperti lampu," ucapnya.

Putu sendiri sering tremor, menggeretakkan giginya, keluar air liur dan suka menggigit bajunya. Hanya bisa tertawa dan menangis bergantian setiap menitnya. Pun tidak merespons saat dipanggil, lantaran diduga juga mengalami gangguan pendengaran. Juga setiap menemui benda selalu dimakan. Diberi mainan pun juga digigit dimakan.

"Saat umur satu tahun kami takut ini kok ndak kayak anak lainnya. Sempat cek pendengaran hanya dikasih obat saja," ungkapnya.

Tapi pengobatan itu tidak membuahkan hasil. Bahkan, kondisinya kadang menurun. Seingat Sutama, anaknya tiga kali mengalami kejang. Yakni umur 4, 6, dan 8 tahun. Juga pernah menjalani fisioterapi selama 6 bulan lantaran masalah kembang tumbuhnya. Hingga usianya 14 tahun, kondisinya naik turun.  

Hingga akhirnya, awal bulan lalu kesehatan Putu Dini semakin memburuk. Kaki, tangan, perut hingga pinggangnya bengkak. Setelah dilakukan pengecekan akhirnya dirujuk ke RSU Sanglah pada Kamis (6/12) pukul 23.00.

"Gizi buruk, bengkak-bengkak kakinya dulu. Sebelumnya rawat jalan selama 3 hari sebelum di sini (Sanglah). Pokoknya dirujuk saja, karena setelah dicek lab, nggak bisa di sana," ucapnya.

Seminggu setelah berada di RSU Sanglah, bengkaknya kempes. Keterangan dari dokter yang merawat anaknya, organ Putu tidak bisa menyerap makanan. Sehingga makanan yang masuk tertimbun bukan di tempatnya.

"Sudah biasa makan, makannya kuat. Tapi langsung eek, cair gitu," jelasnya.

Putu sendiri mengkonsumsi susu untuk malnutrisi yakni susu yang ditambah minyak dan gula. Diberikan setiap tiga jam sekali sesuai takaran. Awal mula hanya 140 mililiter dan sekarang menjafi 160 mililiter.

Sementara itu dokter yang menangani menyampaikan bahwa perkembangan anaknya sudah bagus. Tinggal menaikkan berat badannya saja.

Demi menunggui anaknya, Sutama pun rela tidak bekerja. Sejak masuk RSU Sanglah pada Kamis (6/12) dia hanya membawa bekal Rp 400 ribu. Itu pun untuk membeli kebutuhan pempers sang anak dan makan saja.

"Rabu lalu tinggal Rp78 ribu. Buat beli pampers Rp15 ribuan. Lalu untuk ngirit makanya saya pagi makan mie dan baru siangan makan nasi bungkus Rp 5000-an," ungkapnya.

Bajupun dia hanya membawa tiga potong, cuci kering pakai. Penghasilannya seharian jual sate pun hanya Rp50 kadang Rp 60 ribu sehari, untuk menghidupi istri dan 3 anaknya.

Terkadang Sutama mengandalkan belas kasih keluarga sesama pasien sebelum viral di media soaial hingga bantuan datang silih berganti. Sementara istri keduanya merawat kedua anaknya dari pernikahan pertama di Klungkung. 

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia