Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kini, Karya Senin Kerap Dimasukkan Konten Porno

15 Desember 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kini, Karya Senin Kerap Dimasukkan Konten Porno

BUDAYA: Pelaksanaan literasi media memajukan seni budaya melalui media penyiaran, di Rumah Budaya Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar, Jumat (14/12). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sebuah seni belakangan ini kerap dimasukan konten pornografi untuk memperoleh daya tarik penikmat seni. Baik dalam musik maupun video hal itu kerap ditemui, sehingga dapat merusak generasi yang akan datang. Mengatasi hal tersebut, dilaksanakan diskusi literasi media memajukan seni budaya melalui media penyiaran, di Rumah Budaya Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar, Jumat (14/12).

Pengamat musik, I Made Adnyana menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) terjadinya peralihan dalam menikmati sebuah karya seni saat ini. Khususnya seni musik dan video, lantaran dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini sudah sangat efektif sekali namun ada peralihan.

"Selain peralihan sarana, terdapat juga peralihan tata bahasa dalam sebuah seni musik. Diharapkan juga seniman harus bisa memanusiakan manusia dari hasil karyanya itu," terang Adnyana.

Dalam kesempatan itu, Adnyana juga menjelaskan sebuah karya seorang seniman sudah selayaknya berupa tontonan menjadi tuntunan. Selain itu supaya penikmat menjadi lebih baik, jangan sampai mengacaukan. Lantaran seniman berkewajiban memberikan penikmat kehidupan yang lebih baik, khususnya karya seni  harus ada unsur mendidik.

Dosen IKIP PGRI Bali ini juga mengatakan tugas seniman bukan saja untuk menghibur, namun juga bertugas mendidik. "Seniman bukan menciptakan hasil karya seni saja, tetapi mendidik melalui karyanya tersebut. Begitu juga tidak hanya memikirkan popularitas saja, melainkan harus memikirkan apa dampak dari sebuah karyanya itu terhadap masyarakat berbagai kalangan," terangnya.

Adnyana mencontohkan bahwa ia kerap mendengar sebuah lirik lagu yang susah dimengerti. Pasalnya sebuah lagu Bali digabungkan dengan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Secara kenikmatan memang dicari oleh penggemar, namun jika diartikan dalam satu kalimat akan memecah arti dan maksudnya. Bahkan sedikit aneh jika didengarkan secara rinci.

"Jangan membuat karya seni dengan tujuan yang penting orang terhibur, tetapi pikirkan juga dampaknya seperti apa nanti. Begitu juga dalam pembuatan video klip agar sesuai, dan kurang etis jika mayoritas mengarah ke konten pornografi," tuturnya.

Lanjut Adnyana, bahwa saat ini kwalitas hasil sebuah seni kerap diabaikan oleh masyarakat. Mengingat kebanyakan orang menjual apa yang laku saat ini, sedangkan kwalitas bisa dipikirkan belakangan. Sehingga hal itulah dianggap sebagai salah satu faktor seringnnya konten negatif dimasukkan ke dalam sebuah karya seni.

"Sama seperti dulu bayar banyak ke stasiun tv untuk menayangkan sebuah rekaman,  belum juga seleksi sana - sini untuk mencari kualitas. Nah sekarang lewat Youtube aja sudah bisa kita tayangkan tanpa bayar banyak-banyak. Bahkan pengunjungnya bisa di atas 1 juta pengunjung yang melihat," tandasnya.

Pada tempat yang sama salah satu peserta diskusi,  I Nyoman Astita menanggapi hal tersebut. Dia mengatakan memang keberadaan karya seni cukup baik dan berkembang pesat. Semua itu dikatakan ditunjang dengan adanya media elektronik saat ini. "Permasalahannya hanya ketika membicarakan musik yang sehat dan menghibur. Selain itu bagaimana bisa menyatukan berbagai konsep dalam berkarya, lantaran perlu dilandasi nilai," tuturnya.

Bahkan hal yang terpenting menurutnya, seorang seniman harus memiliki dasar dalam pembuatan suatu karya seni. Yaitu dilandaskan  Satya, Siwam,Sundaram (baik, benar, indah). "Dari sana sebuah seni akan mampu memberikan hiburan, pendidikan, dan pesan moral. Baik itu untuk masyarakat, dan yang terpenting bagi generasi muda yang akan datang," imbuh Astita. 

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia