Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Idap Sindrom Delirium, Bule Ini Nasibnya Terlantar

17 Desember 2018, 21: 22: 48 WIB | editor : Hakim Dwi Saputra

Idap Sindrom Delirium, Bule Ini Nasibnya Terlantar

GANGGUAN KEJIWAAN: Malcolm McDonal tertidur pulas di ranjangnya di Ruang Bakung Timur RS Sanglah. (ISTIMEWA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Di RS Sanglah, cukup banyak pasien telantar dan tak memiliki saudara, kerabat, atau rekan yang mendampingi. Tak terkecuali warga negara asing (WNA). Salah satunya, lelaki uzur asal Selandia Baru, Malcolm Andrew McDonal, 65.

Tubuhnya penuh dengan tato. Meski begitu, tubuhnya ringkih. Sosok yang sudah masuk kategori pria lanjut usia (lansia) itu tampaknya nyenyak tidur. Malcolm terbaring sejak seminggu lalu di Ruang Bakung Timur Nomor 6.

Pasien ini dikenal jorok karena kerap kencing sembarangan. Ini merupakan efek dari sindrome delirium yang diidapnya. Untuk diketahui, sindrom jenis ini merupakan gangguan mental serius yang menyebabkan penderita mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Dari informasi yang dihimpun, Andrew adalah pasien rujukan dari RS BIMC pada Minggu (9/12). Dengan kondisi diare namun tidak disertai muntahan. Setelah mendapat perawatan medis hingga kondisinya membaik, pasien diperbolehkan pulang. "Sudah sejak tanggal 12 Desember lalu boleh pulang. Tapi kan syaratnya pulang dengan pendamping. Pendampingnya tidak ada," jelas salah satu petugas.

Kepala Ruangan Ni Wayan Sukawati mengungkapkan bahwa pasien melarang siapapun membuka kopernya sejak awal dirawat. Sementara paspor juga tidak ditemukan."Satpam saja nggak boleh buka kopernya. Nggak tahu ada apa di dalamnya. Memang suka kencing sembarangan, di mana pun, di wastafel juga," jelasnya.

Benar saja, ruangan nomor 6 tersebut bau amoniak menyengat ketika pintu kamarnya dibuka. Sementara pasien tidur pulas tanpa terganggu sedikit pun bahkan ketika suara pintu terbuka. Sementara di samping tempat tidurnya tedapat koper hitam yang tidak boleh dibuka sama sekali. Di meja tampak makanan yang berserakan beserta botol-botol air mineral.

Menurut petugas lainnya, pasien ini pun tidak pilih-pilih makanan. Apapun dimakan dan untuk tidak suka teriak-teriak. "Dia ini sindrome delirium. Kalau tagihannya hingga saat ini ya Rp 4,8 juta," jelasnya pada Senin (17/12).

Sementara itu pihak Konsulat Selandia Baru sendiri saat dihubungi Humas RS Sanglah tidak merespon. "Bilangnya akan dicarikan keluarganya. Tapi sampai sekarang nggak ada kabar," ungkap Kasubag RSU Sanglah I Dewa Ketut Kresna kemarin.  

(bx/afi/aim/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia