Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Jual Tekenan Rp 20 Juta, Kelian Banjar Dinas Buahan Divonis Setahun

19 Desember 2018, 09: 00: 31 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jual Tekenan Rp 20 Juta, Kelian Banjar Dinas Buahan Divonis Setahun

RINGAN: Terdakwa kasus pungli sertifikat tanah yang juga Kelian Banjar Dinas Buahan, Desa Buahan, Payangan, Gianyar, I Nyoman Wirawan alias Komang Bilawa, usai menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor Denpasar, kemarin (18/12). (CHAIRUL AMRI SIMABUR/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR – Terdakwa kasus pungutan liar dalam proses pembuatan sertifikat tanah, I Nyoman Wirawan alias Komang Bilawa, kemarin (18/12) menghadapi vonis Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Denpasar. Kelian Banjar Dinas Buahan, Desa Buahan, Payangan, Gianyar itu dinyatakan terbukti bersalah melakukan korupsi dan diganjar dengan hukuman penjara selama satu tahun dikurangi selama berada dalam tahanan sementara.
Putusan itu ditetapkan majelis hakim yang diketuai Hakim Angeliky Handajani Day. Selain pidana penjara, hakim juga menetapkan pidana denda sebesar Rp 50 juta subsider satu bulan kurungan. "Dengan ketentuan bila denda tidak dibayarkan maka diganti dengan kurungan selama satu bulan," tegas Hakim Angeliky saat membacakan amar putusannya.

Sebelum sampai pada amar putusan, diuraikan juga hasil musyawarah majelis hakim yang sepakat bahwa perbuatan terdakwa terbukti memenuhi unsur pasal pada dakwaan kedua yang diajukan penuntut umum.

Dalam dakwaan tersebut, penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Gianyar menerapkan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. "Sebagaimana dakwaan kedua penuntut umum," kata hakim.

Atas putusan tersebut, terdakwa yang didampingi I Ketut Dodik Arta Kariawan selaku kuasa hukum menyatakan menerima putusan tersebut.
Sementara tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya menuntut agar terdakwa diganjar satu tahun dan enam bulan serta denda Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan memberi tanggapan berbeda. "Kami pikir-pikir Yang Mulia," tukas salah satu anggota tim JPU.

Sekadar mengingat, munculnya perkara ini bermula dari penangkapan terdakwa yang dilakukan Tim Saber Pungli Polres Gianyar pada 18 Juli 2018 lalu. Penangkapan terjadi di rumah terdakwa. Dan pada saat itu terdakwa baru saja menerima uang senilai Rp 10 juta yang dimintanya dari saksi Ni Made Wirani alias Nuasih.

Saksi tersebut kebetulan warga Banjar Buahan yang sejak beberapa bulan sebelumnya sedang berusaha mengurus sertifikat dua bidang tanah. Yakni sebidang tanah sawah di Banjar Buahan seluas 8.350 meter persegi. Serta sebidang tanah tegalan di banjar yang sama dengan luas 24.300 meter persegi.

Dalam prosesnya, terdakwa meminta uang sebesar Rp 25 juta untuk menandatangani berkas-berkas yang dibawa korban.

Korban kaget dengan nilai yang dikenakan kepadanya itu. Bahkan sempat menanyakannya kepada terdakwa. Namun, terdakwa menyebutkan bahwa itu lumrah untuk permohonan tanda tangan kelian banjar.

Tawar-menawar pun terjadi. Sampai akhirnya terdakwa bersedia menurunkan nilainya menjadi Rp 20 juta. Namun, saksi tidak langsung menyerahkannya. Karena saat itu dia sedang tidak memiliki uang senilai yang diminta terdakwa.

Menjelang ditangkap, saksi baru bisa menyediakan uang senilai Rp 10 juta. Terdakwa pun membijaksanai dan membolehkan sisa uang dibayarkan secara menyusul. Namun setelah korban menyerahkan uang Rp 10 juta itu dan pulang ke rumahnya, tiba-tiba terdakwa disambangi Tim Saber Pungli Polres Gianyar. Saat itu juga dia akhirnya diamankan.

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia