Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Terima Kompensasi Rp 1,3 Miliar, Berharap Bisa Buka Warung Kopi

03 Januari 2019, 11: 26: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

Terima Kompensasi Rp 1,3 Miliar, Berharap Bisa Buka Warung Kopi

DIRATAKAN: Sang Ketut Suardana, 38 anak dari Sang Ketut Oka saat melihat lahan pertaniannya diratakan dengan alat berat untuk pembangunan jalan short cut di Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Sabtu (29/12) siang. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SUKASADA - Tak pernah terbesit di pikiran Sang Ketut Oka, 68 jika lahan perkebunannya seluas 1,005 hektar yang berlokasi di Dusun Amerta Sari akan dijadikan jalan short cut oleh pemerintah. Pria yang sudah tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 1967 menyambut baik niat pemerintah membangun jalur transportasi yang lebih aman.

Oka berharap, pembangunan short cut setidaknya dapat mengubah taraf hidup keluarganya menjadi lebih baik. “Dulu di tengah (jauh dari jalan raya, Red), sekarang di pinggir jalan. Giliran pak,” ujar Sang Ketut Oka mengawali pembicaraan dengan Bali Express (Jawa Pos Group) saat ditemui di rumahnya, Dusun Amerta Sari, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Sabtu (29/12) siang.

Bukan tanpa alasan ia melontarkan celotehan itu. Pasalnya sejak tahun 1967 ketika ia merantau bersama keluarga besarnya ke Pegayaman dan tinggal di dalam areal perkebunan yang jauh dari akses jalan raya. Namun dengan dibangunnya jalan short cut, maka rumahnya kini berada tepat di pinggir jalan.

Sambil menyaksikan ratusan pohon kopinya yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya diratakan dengan alat berat, Sang Ketut Oka mengaku ikhlas. Sebab pembangunan jalan merupakan kepentingan umum yang wajib didukung oleh seluruh masyarakat.

Lahan seluas 1,005 hektar milik keluarga besarnya kini sedang diratakan untuk dijadikan jalan. Pun dengan kompensasi sudah ia terima sebesar Rp 1,3 miliar dari pemerintah dan langsung masuk ke rekening. Dengan nilai ganti rugi per are (100 m2) sebesar Rp 12 juta.

“Memang proses pembebasan cukup panjang. Sampai berkali-kali kami rapat di dusun. Lahan juga sudah diukur, ternyata lahan kami digunakan seluas 1,005 hektar. Yang jelas kami ikut saja, karena itu kepentingan negara. Dari keluarga besar juga sepakat lahan digunakan untuk jalan,” imbuh pemangku yang sudah ngayah sejak 25  tahun di Pura Yeh Ketipat ini.

Sang Ketut Oka menambahkan selama ini dirinya bersama tiga orang anaknya yang sudah berkeluarga memang menggantungkan hidupnya dari hasil kebun yang dibeli orang tuanya pada tahun 1960-an silam. Utamanya dari hasil penjualan kopi, jeruk, pisang hingga bunga pecah seribu.

Dalam setahun, sekitar 400-an pohon kopi di kebunnya bisa menghasilkan hingga 1,3 ton kopi basah. Jika diuangkan dalam setahun dirinya bisa meraup hingga belasan juta rupiah dari menjual kopi.

Namun setelah lahan perkebunannya diratakan untuk dibangun jalan, Sang Ketut Ngakan bersama anaknya akan tetap menjadi petani, peternak sapi dan babi. Sudah pasti dengan lahan yang lebih sempit. Sebab, keluarga besarnya masih memiliki sisa lahan sekitar 0,5 hektar yang tidak terdampak pembangunan. “Ya saya dan anak-anak masih tetap menjadi petani dan peternak. Sisa lahan masih ada, sekitar 0,5 hektar. Astungkara itu bisa menghidupi,” jelasnya.

Kendati demikian Sang Ketut Oka mengaku tetap bersykur. Ia optimistis pembangunan jalan short cut ini akan membawa dampak perekonomian yang positif ke depannya. Terlebih jika jalan sudah rampung dibangun, maka secara otomatis rumahnya berada di pinggir ruas jalan.

Posisi yang strategis itulah yang akan ia manfaatkan untuk membuka usaha warung kopi. Terlebih dana kompensasi yang diterima bersama keluarga besarnya akan ia jadikan modal membuat kedai kopi.

“Memang rencana dana kompensasi akan mau dibelikan tanah, sesuai kesepakatan keluarga besar. Nanti sisanya baru mau dibuka usaha. Ya warung kopi, kebetulan kan posisinya di pinggir jalan. Biar ada usaha jangka panjang,” tuturnya sembari tertawa.

Hal serupa juga diungkapkan Sang Ketut Suardana, 38, yang tak lain adalah anak dari Sang Ketut Oka. Ia tetap akan meneruskan kegiatannya menjadi petani dan peternak. Bahkan dirinya mengaku tetap mendukung program pemerintah untuk membangun jalan short cut.

Hanya saja dirinya sedikit khawatir akan sulitnya mencari pakan ternak khususnya untuk sapi. Terlebih di wilayahnya lahan perkebunan kian menyempit. “Memang khawatirnya susah mencari pakan ternak. Kan banyak juga lahan di sini yang terdampak,” singkatnya.

Seperti diketahui proyek shortcut 5-6 membentang sepanjang 1,9 kilometer di kawasan Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Sedikitnya ada 30 bidang lahan yang terdampak proyek pembebasan lahan itu. Megaproyek itu diharapkan tuntas pada akhir 2019 mendatang. Proyek pembuatan jalan itu dimenangkan oleh PT. Adhi Karya dengan nilai anggaran Rp 140,68 miliar.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia