Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Metatah Masal; Tak Kurangi Makna, Ringankan Beban Masyarakat

04 Januari 2019, 10: 18: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Metatah Masal; Tak Kurangi Makna, Ringankan Beban Masyarakat

MASAL: Pelaksanaan metatah masal yang dilakukan krama Batur Utara di Balai Desa Batur Utara, Kintamani pada 16 Desember lalu. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, KINTAMANI - Metatah atau potong gigi bagi umat Hindu secara umum sebagai langkah mengurangi dan menetralisir sifat enam kejahatan yang ada di dalam diri manusia, atau Sad Ripu. Pelaksanaannya juga ada dilakukan secara mandiri maupun masal. Perbedaannya hanya pada jumlah dan tempat, namun secara makna dan filosofi tetap sama. 

Metatah masal tersebut seperti yang dilakukan krama Desa Batur Utara, Kintamani. Upacara ini merupakan pertama kalinya diselenggarakan bekerjasama dengan Paguyuban Widya Swara. 

Ketua Paguyuban Widya Swara, Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta saat diwawancarai beberapa waktu lalu mengatakan, metatah masal merupakan upaya meringankan beban mereka tanpa mengurangi makna metatah. “Metatah dengan konsep higienis ini sangat diterima di sana. Malahan di daerah perkotaan sendiri justru masih ada yang menolak, dengan alasan tradisi,” ucapnya beberapa waktu lalu. 

Dalam kesempatan itu, dia juga menerangkan Desa Batur Utara pertama kalinya melaksanakan upacara metatah sinarengan (masal). Mereka mengambil tempat di Kantor Balai Desa Batur Utara, Kintamani, Bangli. Selain disebut dengan masal, istilah higenis juga dikenal pada metatah tersebut. Karena memperhatikan aspek kesehatan peserta maupun sangging sendiri. 

Prosesi upacara dimulai dengan rangkaian upacara menek kelih yang dipuput Ida Pandita Mpu Dhaksa Yoga Eka Wisesa dari Griya Alas Arum Tegal Wangi Denpasar. Pada prosesi menek kelih itu, peserta natab sesayut tabuh rah bagi yang perempuan, dan sesayut ngeraja singa bagi yang laki laki.

Prosesi dilanjutkan dengan acara mekalan-kalan dan ngekeb. Selama prosesi ngekeb ini, peserta metatah tidak boleh keluar dari areal tempat metatah. “Terdapat sedikit perbedaan dalam upakaranya, yaitu pada bebanten ditambah dengan tebasan agung. Kalau lumrahnya disebut bebangkit. Tebasan agung ini harus dipuput Jero Balian di Batur,” paparnya 

Pinandita Dodi Ariyanta menerangkan, perbedaan dalam upakara dan prosesinya tersebut, dikarenakan metatah masal ini baru pertama kali dilakukan. Terlebih pada sebuah Desa Bali Mula. Lanjut dia, saat hari puncaknya, tepat dini hari pukul 02.00 juga dilakukan prosesi macicipan. Sebuah prosesi khusus di Desa Batur bagi yang akan metatah untuk ngatur piuning (mohon restu) di Pura Ulundanu Batur yang berjumlah 126 orang. 

“Sebelumnya, mereka melakukan metatah secara mandiri di rumahnya masing-masing. Sehingga biaya juga keluar begitu banyak. Malahan dengan dilakukan secara masal ini sangat diterima di sana,” jelas Pinandita Dodi. 

Lanjut dia, upacara macicipan itu diawali dengan acara mapeed yang dilaksanakan peserta metatah dari Desa Batur Utara menuju Pura Ulundanu Batur. Pada pelaksanaan acara tersebut, disaksikan pula Jero Gede Batur, Jero Balian, Jero Penyarikan, pasaksi, seperti prebekel seluruh Batur, dan tokoh masyarakat Batur. Acara itu bermaksud memberitahukan kepada tokoh-tokoh masyarakat setempat dan memohon restu, serta anugerah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, akan dilaksanakan acara metatah masal.  

Setelah selesai, peserta kembali berkumpul di balai desa, untuk dilakukannya prosesi ngerajah, sungkeman, dan dilanjutkan dengan prosesi metatah. “Dalam pelaksanaan upacara metatah ini tetap mengacu kepada metatah yang higienis,” bebernya. 

Pelaksanaannya juga dikatakan sama seperti sebelumnya, gigi dipotong kurang dari 2 milimeter. Hal itu untuk menghindari kerusakan enamel gigi yang bisa menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari. Begitu pula sangging dari Paguyuban Widya Swara dalam pelaksanaannya, menggunakan masker dan slop tangan. Ini guna menghindari penularan kuman dari sangging ke peserta, demikian pula sebaliknya. 

Dalam pelaksanaan itu dijelaskan, bahwa untuk satu peserta menggunakan satu kikir. Sehingga penularan kuman, seperti hepatitis, TBC, HIV, herpes, dan ribuan kuman lain dapat dihindari. “Karena pesertanya ratusan, maka aspek kesehatan harus kita perhatikan, namun tidak meninggalkan tradisi setempat,” ujarnya. 

Pada prosesi akhir upacara tersebut, dilaksanakan upacara pawintenan saraswati dan pajayan-jayan. Selain itu, pada akhir upacara juga menggunakan tebasan agung dan raosan dipuput puluhan Jero Balian, disertai penyepuhan bagi peserta. Banten inilah ciri khas banten metatah ala Desa Adat Batur, berbeda dengan daerah lainnya yang menggunakan ayaban. Bentuk Bantennya pun unik, mirip dengan bebangkit, tapi masih dibawah ayaban bebangkit. 

Guna meringankan beban masyarakat, metatah masal ke depan rencananya akan dilaksanakan setiap tahun. Karena selama ini pelaksanaan upacara metatah jika secara mandiri masih dirasakan berat.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia