Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Sopir Mobil Jenazah Dinsos Gianyar

Setiap Telepon Berbunyi, Langsung Keluar Keringat Panas Dingin

07 Januari 2019, 09: 16: 18 WIB | editor : I Putu Suyatra

Setiap Telepon Berbunyi, Langsung Keluar Keringat Panas Dingin

MOBIL JENAZAH: Salah satu sopir mobil jenazah tengah mengecek kondisi kendaraannya, di halaman parkir Kantor Bupati Gianyar, Minggu (6/1) kemarin. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Bisa jadi menjadi sopir ambulance pengantar jenazah, bagi sebagian orang dianggap pekerjaan yang  tidak lumbrah. Karena banyak  cerita –cerita seram dan menakutkan berkembang .  Pengalaman  I Wayan Diatmika, seorang sopir ambulance jenazah Kantor Dinas Sosial (Dinsos)  Kabupaten Gianyar menarik. Seperti apa?

I Wayan Diatmika asal Desa Pejeng, Gianyar  mengaku sudah 10 tahun menjadi sopir mobil pengantar jenazah Dinas Sosial Kabupaten Gianyar. Pada awal-awal melakoni pekerjaan itu, ia sempat ragu dan ketakutan. Setiap kali ada bunyi telepon ia keluar keringat panas dingin. Pengalamannya itu dituturkannya pada Bali Express (Jawa Pos Group)  yang mewawancarai Minggu (6/1) kemarin.

Diatmika mengaku mengambil pekerjaan tersebut memang tugas dari kantornya, yaitu Dinas Sosial Kabupaten Gianyar. Lantaran mobil jenazah  kata dia dimiliki Dinas Sosial, sehingga sopirnya juga diambil dari sana. “Sopir dan mobilnya ada di Dinsos, kalau RSUD Sanjiwani tidak ada mobil jenazah. Begitu juga kerjanya kita setiap sif ada satu tim yang terdiri atas dua orang . Dari tiga sif yang ada. Begitu juga kita harus standby selama 24 jam,” paparnya.

Pertama Diatmika mengaku ditugaskan menjadi sopir orang yang meninggal, ia mengaku tidak terbiasa. Bahkan sampai kelaur keringat setiap kali menerima telepon. Karena sudah pasti ada tugas untuk mengantarkan jenazah ke rumah duka maupun menitip ke kamar jenazah. Tetapi lama-lama ia mengaku sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut. Mengantar jenazah sudah dianggap mengantarkan layaknya seorang penumpang ke tempat tujuan.

Sekarang masih punya rasa takut? Diatmika mengaku terkadang-kadang saja, masih takut. Pasalnya ketakutan terjadi ketika ia balik dari mengantarkan jenazah ke rumah duka pada malam hari. “Kalau mengantarkan kan ada pihak keluarga yang ikut, sedangkan pulangnya sendiri. Semuanya juga pengaruh dari desanya, kadang ada yang sepi dan kendaraan sedikit yang lalu-lalang. Satu-satunya cara mengatasinya ya dengan cara menghidupkan musik, hidupkan sirine atau beristirahat sejenak di pinggir jalan,” paparnya.

Sampai saat ini Diatmika selalu mendapatkan pertanyaan yang timbul dari masyarakat di desanya. Mulai dari bagiamana rasanya, pengalaman, sampai kenapa tidak takut? Ia mengaku hanya bisa menjawab sudah terbiasa. Bahkan  ketika mengantarkan jenazah saat ini ia merasa ikut membantu keluarga orang yang meninggal dan mendapat rasa yang lega jika sudah sampai dengan selamat.

Disinggung setelah mengantarkan jenazah apakah perlu melakukan prosesi pembersihan? Diatmika menjawab cukup dengan banten prayascita (pembersihan) yang disiapkan keluarga di rumah duka. “Kalau prosesi khusus tidak ada, cukup dengan melakukan prayascita saja sebelum balik setelah mengantarkan jenazah. Sedangkan kalau banyaknya setiap hari mengantarkan jenazah itu tidak tentu,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Daitmika menambahkan, statusnya di Dinsos sudah PNS setelah mengabdi sekitar 12 tahun. Sedangkan dalam timnya tersebut hanya ada satu tenaga kontrak, dan sisanya sudah berstatus pegawai negeri sipil (PNS).

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia