Selasa, 26 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Ulun Danu Sibang Gede

Airnya Mengandung Obat, sampai Diteliti di Australia

09 Januari 2019, 08: 07: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Airnya Mengandung Obat, sampai Diteliti di Australia

GOA: Palinggih utama Pura Ulun Danu Sibang Gede yang dibuatkan gua atas petunjuk niskala. (SURPA ADISASTRA/BALI EXRESS)

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Di tengah kehidupan modern saat ini, masyarakat cenderung mengandalkan air dalam kemasan untuk konsumsi sehari-hari. Namun sebagian warga di Desa Angantaka dan Sibang Gede, Badung, masih mengandalkan air minum dari kawasan setempat. Air minum ini juga dipercaya memiliki khasiat secara nyata dan gaib alias sekala-niskala.

Matahari tengah berada di puncaknya, namun mendung menghalangi sinarnya. Kawasan Jalan Raya Angantaka-Sibang Gede, pada Kamis (3/1) lalu cukup ramai. Meski jalur ini cukup lengang dari rumah penduduk. Di salah satu jalan turunan, tampak mobil dan motor terparkir berderet. Ternyata para pengendaranya tengah antre mengambil air di sebuah pemandian suci atau oleh masyarakat Bali disebut beji.

Pura Ulun Danu, demikian tertulis pada plang yang dipaku di tembok. Di bawahnya tertera sejumlah aturan bagi siapa pun yang hendak masuk ke tempat tersebut, meski hanya sekadar mengambil air. Tak boleh memakai sandal utamanya. Pangempon pura melarangnya.

Merasa penasaran, Bali Express (Jawa Pos Group) masuk ke areal pura tersebut. Di dalamnya tidak begitu luas. Di area pertama ada air bersih yang mengalir dari sumber mata air. Air tersebutlah yang diambil warga untuk dikonsumsi. Masuk lebih ke dalam lagi, terdapat area utama dengan beberapa palinggih. Yang paling unik adalah palinggih utama yang dibangun dalam gua kecil.

Satu sosok lansia dengan berpakaian putih menyambut. Beliau adalah Jro Mangku setempat yang sehari-hari menjaga, merawat, berikut melakukan persembahyangan. Wayan Cekug, nama aslinya. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan Jro Mangku Dharma. “Beji ini sudah ada semenjak dahulu,” ujarnya mulai bertutur.

Namun demikian, mengenai berbagai pembangunan palinggih, kata dia baru dilakukan pada tahun 1968. Kala itu, Wayan Cekug masih duduk sebagai prajuru adat, tepatnya jabatan sebagai Pangliman. Mengingat kawasan tersebut adalah area sawah, sesuai kepercayaan diperlukan Pangulun Carik sebagai stana Dewi Sri. Pihaknya kemudian memohon tanah kepada pemerintah untuk membangun Pangulun Carik. “Saat ngabejiang, dilakukanlan di sini. Saat itu juga belum ada palinggih,” ungkapnya.

Atas petunjuk niskala, lanjut Pemangku kelahiran 1933 itu, dibangun palinggih di pura tersebut. Semenjak saat itu, dirinya atas petunjuk niskala pula, diangkat menjadi Jro Mangku. Menariknya, palinggih yang dibangun tak seperti biasa. Terlebih dahulu dia diminta menggali tebing dengan tinggi sekitar 5 meter hingga membentuk goa. “Ida Sasuhunan memberi petunjuk agar tiang (saya) menggali di sini. Tiang diminta membuat goa dan menstanakan Ida Bhatara Siwa, Wisnu, dan Ida Bhatari Sri,” ujarnya.

Dikatakan, pembangunan pura dilakukan secara bertahap hingga 1974. Percaya atau tidak, berbagai petunjuk secara niskala diterimanya melalui mimpi. “Jadi setelah itu banyak yang tiang stanakan di sini, seperti Ratu Niang, Ratu Bagus, Dukuh Sakti, Pedanda Sakti Wawu Rauh, termasuk Ida Bhatara Majapahit,” bebernya.

Pura yang piodalan jatuh tiap Buddha Kliwon Sinta alias Pagerwesi tersebut, kata Jro Mangku, memiliki kaitan secara niskala dengan Gunung Agung. Demikian pula Pura Dalem Solo di Desa Sedang Abiansemal, Desa Angantaka, Pura Dalem Pengumpian, dan Dalem Bun. “Termasuk subak di sini. Biasanya saat ngabejiang ke sini,” jelasnya.

Lebih terperinci soal air yang menjadi andalan warga. Jelas Jro Mangku Dharma, bukan air biasa. Air tersebut memiliki khasiat. Bahkan ada yang membawanya hingga ke Australia untuk dicek kandungannya. “Air ini memang mengandung obat. Orang yang sakit jiwa disembuhkan. Banyak yang sembuh setelah memohonnya untuk dijadikan obat. Ada yang dari Payangan, Gianyar. Ada yang dari Angantaka. Ada yang dari Kubu, Karangasem. Banyak yang sehat,” jelasnya.

Tak hanya dari Bali, bahkan ada yang dari Solo, Surabaya, hingga Sulawesi, khusus ke pura tersebut untuk memohon airnya.

“Ada yang dari Keraton Solo sempat ke sini untuk mengambil air. Jadi bukan hanya masyarakat yang beragama Hindu saja, tapi juga agama lain,” terang Jro Mangku yang tinggal di Banjar Busana, Sibang Gede tersebut.

Disamping berkhasiat obat, air tersebut juga dipercaya memiliki energi supranatural. Oleh karena itu, ada juga yang memanfaatkan untuk nyengker atau membentengi rumah secara niskala. “Bahkan ada juga para pejabat yang datang karena kepentingan tertentu,” jelasnya.

Jika ada yang memohon air tersebut untuk sarana, baik obat dan lainnya, Jro Mangku Dharma hanya menyampaikan kepada Ida Sasuhunan. “Jadi tiang bukan balian. Jika ada yang memohon, tiang hanya matur piuning dan memberikan air,” tegasnya.

Bagi yang ingin ke pura tersebut, tidak bisa seenaknya. Pura dibuka dari pagi hingga sore sekitar pukul 18.30. Sedangkan mengenai peraturan yang ditetapkan untuk masuk ke area beji maupun pura, seperti tidak boleh dimasuki orang yang sedang cuntaka, khususnya wanita yang sedang haid. Selanjutnya, bagi yang melakukan persembahyangan diwajibkan minimal menggunakan senteng atau selendang. Terpenting lagi, diwajibkan melepas sandal sebelum menginjakkan kaki di area beji. “Kami juga mohonkan agar warga menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, guna menjaga kebersihan dan kesucian pura,” pungkasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia