Selasa, 22 Jan 2019
baliexpress
icon featured
Features
Danil Yudha, Cucu Gusti Ngurah Rai Berpulang

Ngaku Ada Urusan, Titipkan PPM kepada Wakilnya

09 Januari 2019, 21: 07: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ngaku Ada Urusan, Titipkan PPM kepada Wakilnya

MENINGGAL MUDA: Jasad I Gusti Ngurah Agung Danil Yunanda Yudha Alias Gung Danil berada di Jalan Kenyeri III, Denpasar, Rabu (9/1). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - I Gusti Ngurah Agung Danil Yunanda Yudha alias Gung Danil berpulang Rabu (9/1) dini hari. Ia menghembuskan nafas terakhir pada usia yang relatif muda, 46 tahun. Diduga, Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Bali ini meninggal karena serangan jantung.

Jalan Kenyeri III tampak lengang, Rabu (9/1) siang. Tepat di depan rumah bernomor 17, terjejer sejumlah kendaraan roda empat. Ini adalah rumah salah satu cucu Pahlawan Nasional, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai. Gung Danil, begitu sapaan akrabnya. Rumahnya asri. Bahkan pada gerbang melilit tanaman merambat.

Tiga orang berpakaian adat Bali menyambut Bali Express (Jawa Pos Group). Mereka mengiringi ke dalam. Di halaman dalam terlihat sekitar 20 orang yang juga berpakaian adat Bali. Namun semua menunjukkan wajah muram. Ini tak lain karena rasa duka cita atas kenyataan Gung Danil yang meninggal secara mendadak.

I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha, sang adik nomor tiga adalah salah satu yang matanya sembab. Ia tak menyangka jika sang kakak sulung pergi dalam usia yang cukup muda. “Beliau lahir tahun 1972 tanggal 23 April,” ungkapnya.

Gek Inda, begitu ia biasa dipanggil menuturkan, Gung Danil masih pergi ke kantornya di kawasan Jalan Ponogoro, Denpasar pada Selasa (8/1). Ia tengah semangat mengurus usaha yang dibangunnya. Pada malam hari, Gung Danil menelepon adiknya nomor dua, dr. I Gusti Agung Ayu Elis Indira yang rumahnya bersebelahan, tepatnya di sebelah selatan. “Ia mengeluh seperti maag. Kemudian disuruh minum Mylanta,” ujarnya.

Kemungkinan usai minum obat maag tersebut, almarhum juga masih sakit. Tiba-tiba ia kembali menelepon Gung Lis. Almarhum mengatakan sudah di depan pintu rumah sang adik. Ternyata ia berjalan kaki ke sana. Gung Lis yang mendapati sang kakak masih mengeluh sakit akhirnya, memutuskan untuk mengantarnya ke Unit Gawat Darurat RSUP Sanglah. “Bahkan saat itu almarhum masih sempat menawarkan untuk menyetir,” lanjutnya.

Sayangnya, di pertengahan jalan, ayah tiga anak tersebut sudah tak sadarkan diri. Begitu sampai di RSUP Sanglah dan diperiksa tim dokter, ia dinyatakan sudah tak bernyawa. “Itu sekitar jam 01.00. yang jelas tyang jam 01.50 ditelepon Gung Lis dari rumah sakit,” katanya.

Gek Inda sekeluarga pun menyatakan sudah mengikhlaskan kepergian politisi Nasdem tersebut. “Mungkin almarhum dipilih untuk menemani Tu Kak (I Gusti Ngurah Rai, Red) di sana. Karena mungkin cucu kesayangan. Kebetulan dari belasan cucunya, dia cucu laki-laki pertama,” terangnya.

Gek Inda tak mendapat firasat apa pun. Namun kenangan terakhir almarhum yang masih diingat politisi PDI Perjuangan Badung tersebut adalah dua hari yang lalu. Sebelumnya almarhum mengatakan sempat menjanjikan Handy Talky (HT) kepada para pecalang di desanya, Carangsari, Petang, Badung. “Dua hari lalu tiba-tiba dia telepon. Dia bilang itu ada 12 HT dah tak Wah Nil beliin. Kasi pecalangnya. Suruh mereka ambil di Puri Carangsari. Harus di puri,” ingatnya.

Bagi Gek Inda, almarhum adalah sosok yang memiliki jiwa besar. Di lingkungan keluarga, ia dikenal sangat polos dan legawa dalam menghadapi berbagai masalah. “Beliau paling nurut pada Ajung (ayah),” ujarnya.

Mengenai rencana upacara, pihaknya masih akan berembuk dengan keluarga. Kemarin kebetulan juga tengah ada piodalan di Pura Dalem Puri Carangsari, sehingga jenazah disemayamkan di Denpasar. “Kami akan meminta petunjuk kepada Ida Pedanda,” jelasnya.

Tak lupa Gek Inda meminta agar seluruh rekan dan kerabat ikut mendoakan almarhum. “Termasuk kalau ada salahnya, mohon dimaafkan,” tandasnya.

Istri mendiang, I Gusti Ayu Ngurah Pradnyani, 45, mengatakan malam hari, sesaat sebelum berpulang, almarhum belum makan. Sempat ditawari untuk diambilkan makan, almarhum menolak. Merasa tak ada yang aneh, almarhum pun ditinggal tidur. “Tiba-tiba tengah malam dia mengeluh dadanya sakit, sesak. Tyang dibangunin. Bangun, bangun, ada Mylanta ndak, gitu,” tuturnya.

Ayu Pradyani pun bangun dan mengambilkan Mylanta. Sempat minum Mylanta, almarhum dikatakan agak tenang. “Setelah itu dia bilang mau ke tempat adiknya, Gung Lis. Karena tyang berpikir, Mylanta, mungkin maag. Tidak berpikiran jauh,” jelasnya.

Ia tak menyangka itu adalah percakapan terakhir dengan almarhum. Tiba-tiba sekitar pukul 01. 00 ia dibangunkan oleh ibu mertuanya. Dikatakan bahwa almarhum sudah lewat alias meninggal. Sama seperti Gek Inda, sang istri pun mengaku tidak mendapat firasat.

Berbeda dengan mereka berdua, Wakil Ketua PPM Bali, Rai Riawati justru sempat merasa aneh dengan sikap almarhum beberapa hari belakangan. “Tumben dari dua hari dia terus nelepon,” ungkapnya.

Tiba-tiba dua hari lalu, saat bertemu di kantor, almarhum meminta agar Rai mengurus organisasi PPM. Memang belakangan ini ada beberapa permasalahan internal organisasi. “Pokokne mbok bang tyang mandat. Engken ja ditu. Tyang masih ada urusan. Mudah-mudahan bin mani pragat (Pokoknya kakak saya kasi mandat. Bagaimana sebaiknya di sana. Saya masih ada urusan. Semoga besok selesai),” ujarnya meniru ucapan almarhum.

Menanggapi almarhum, Rai berusaha menenangkan. “Tyang bilang, sudahlah Gung. Ngapain itu dipikir ruwet-ruwet. Mani (besok) ajak menghadap Ketua Veteran cari solusi di sana sama orang tua,” katanya. “Nah, mbok ba ngatur ditu (Ya, silahkan kakak yang mengatur di sana),” jawabnya mengakhiri percakapan.

Sebagai rekan organisasi yang sudah bergaul sejak kecil sesama anak veteran, Rai mengaku sangat kehilangan. Ia pun mengaku telah menyampaikan kabar tersebut ke PPM di pusat. “Tentu sangat tidak menyangka. Padahal dia masih cukup muda,” terangnya.

Adapun Danil Yudha adalah putra sulung dari Mantan Ketua DPD I Golkar Bali, I Gusti Ngurah Alit Yudha. Sebelum hengkang ke Nasdem pada 2016 lalu, almarhum sempat menduduki posisi strategis di partai berlogo beringin tersebut. Di antaranya adalah Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Badung-Tabanan-Jembrana.

Danil Yudha mengawali karir sebagai pengurus di Golkar, yakni Wakil Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Provinsi Bali tahun 1999. Setahun kemudian pria empat saudara ini diangkat menjadi Wakil Sekretaris DPD I Golkar Bali. Sementara di Nasdem ia sempat menduduki posisi Ketua Bappilu DPW Nasdem Bali. 

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia