Rabu, 20 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Dalem Sinunggal Samar Sari; Tempat Melukat dan Obati Sakit Bebai

10 Januari 2019, 08: 18: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Dalem Sinunggal Samar Sari; Tempat Melukat dan Obati Sakit Bebai

JERO MANGKU: Jero Mangku Ketut Tapa berada di Pura Dalem Sinunggal Samar Sari, Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, MENGWI - Sakit akibat guna-guna, santet, cetik, bebai, dan sejenisnya, selama ini sudah tak asing bagi masyarakat Bali. Banyak pula mereka yang menderita sakit ini memilih jalan non medis untuk pengobatannya. Termasuk dengan memohon kesembuhan pada tempat-tempat suci yang diyakini memiliki tuah pengobatan.

Di Bali sendiri, banyak pura yang dipercaya sebagai tempat memohon kesembuhan dari berbagai jenis penyakit. Salah satunya Pura Dalem Sinunggal Samar Sari yang berada di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Badung. Di area pura yang bisa dicapai dari Pura Taman Ayun ke arah utara (Denkayu) itu, ada tiga pura yang berada dalam satu komplek. Semuanya saling berkaitan. Pertama pesimpangan Dalem Nusa di pohon beringin sebelah utara. Kemudian Pura Taman Beji, dan terakhir Pura Dalem Sinunggal Samar Sari.

Dari ketiganya itu, tempat yang dipercaya paling pingit alias angker adalah pohon beringin di bagian utara. Area tersebut merupakan pelataran tempat memuja Ratu Gede Mas Mecaling, Ratu Gede Dalem Ped, dan Ratu Niang Sakti.

Menurut pemangku pura, Jero Mangku Ketut Tapa, pelataran beringin itu merupakan tempat memohon kesembuhan dari penyakit non medis. Banyak masyarakat yang berobat di tempat itu, melalui perantara Jero Mangku Tapa.

“Sesuai keinginan umat, tiang (saya) melayani orang-orang yang sakit akibat diguna-guna. Atau mereka kena penyakit ilmu hitam,” ucapnya.

Mangku Tapa menjelaskan, pemedek yang hendak berobat terlebih dulu memohon di pesimpangan Dalem Nusa. Pemedek cukup menghaturkan pejati atau bisa menambah sarana upakara lain sesuai keinginan masing-masing.

Selanjutnya, pemedek diarahkan menuju pada dahan paling barat. Di sana terdapat bun selimpet, sejenis tanaman berambat yang tak ada ujung pangkalnya. “Kalau berada di bawah bun selimpet, pemedek pasti merasa panas, gelisah, sampai teriak. Karena orang yang menyakiti (dengan ilmu hitam) merasa kepanasan,” terang mangku bertubuh tambun itu.

Menariknya, ada beberapa pemedek sampai kejang ketika dihadapkan tepat di bawah bun selimpet. Tak sedikit yang muntah angin selama beberapa kali, hingga muntah mengeluarkan ulat. Mereka yang memohon kesembuhan itu, merupakan korban ilmu hitam. Mulai dari kena tumbal, cetik, pepasangan, bebai, dan sakit non medis lainnya. Usai proses tersebut, baru pemedek melakukan proses pembersihan atau melukat. 

Untuk prosesi melukat, dilakukan di dahan sebelah utara. Bentuk dahan menyerupai rongga perut manusia. Konon, apabila pembersihan dilakukan di tempat tersebut, maka pemedek dinyatakan bersih pada tahap awal.

Secara filosofi, kata Mangku Tapa, pemedek masuk ke rongga perut ibu pertiwi. Secara niskala, pohon itu adalah rongga perut. Maknanya adalah kembali ke asal mula manusia sebelum dilahirkan. Kemudian memohon kepada leluhur agar bersih lahir batin, sebelum menjalani kehidupan di dunia.

Pada tahap ini, sarana yang dipakai melukat berupa jempere (wadah air terbuat dari tanah liat) yang diikatkan benang tridatu melingkar, lengkap dengan delapan uang kepeng. Air sucinya diperoleh usai memohon di pesimpangan Dalem Nusa.

Selanjutnya, pemedek melukat lagi disisi selatan pohon, dekat dengan jurang setinggi hampir 5 meter. Di tempat itu, sarana yang digunakan berupa bungkak nyuh gading. Mengapa pembersihan terakhir dilakukan di lokasi itu. Konon di area tersebut merupakan lautan secara niskala.

“Menurut kepercayaan orang Bali, air laut itu dapat menghilangkan hal negatif dalam tubuh. Banten yang dipakai juga dibuang, terus mohon ke Sang Hyang Baruna untuk diberi kekuatan,” imbuh pemangku yang biasa dipanggil Mangku Gunung.

Pria asal Banjar Gambang, Mengwi itu menambahkan, konon tempat yang dianggap sebagai lautan niskala itu adalah tempat yang luas. Berbagai mahkluk dari dimensi lain berkumpul di tempat tersebut. Namun tidak sembarang orang mampu melihatnya. “Di sini tidak tembus kemana-mana. Hulunya (sungai) di sini,” imbuhnya.

Tak ketinggalan, tempat itu juga dijadikan lokasi semadi para penekun ilmu kebatinan. Tak sedikit juga dari mereka yang menguji kekuatan sekaligus memohon taksu. Para pebisnis maupun orang yang hendak naik jabatan juga banyak yang memohon di pelataran tersebut. “Penunggu di sini terkenal bares (pemurah). Tapi dengan catatan, niat harus tulus,” ujar Mangku Tapa.

Saat pujawali, pada Sabtu atau Saniscara Kliwon Wuku Wayang, pemedek yang tangkil juga lumayan banyak. Mereka berasal dari wilayah Desa Mengwi, Gulingan, Blahkiuh, dan wilayah Badung lainnya. Tak sedikit juga pemedek yang berasal dari luar Badung datang pada malam hari.

Sejak berobat, ungkap Mangku Tapa, para pemedek biasanya kembali nangkil (datang) menghaturkan sesaji sebagai wujud terima kasih. “Intinya, semua kembali pada kepercayaan masing-masing. Kuasa tetap ada di tangan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia