Selasa, 19 Mar 2019
baliexpress
icon featured
Features
Lima Dimensi Alur Kehidupan di Museum Yadnya

Sepi Pengunjung, Sujana Harap Jadi 'Menu' Alternatif Belajar

10 Januari 2019, 09: 38: 10 WIB | editor : I Putu Suyatra

Sepi Pengunjung, Sujana Harap Jadi 'Menu' Alternatif Belajar

KOLEKSI: Kepala UPT Museum Yadnya Gede Sujana menunjukkan beberapa koleksi di aula museum. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, MENGWI - Tak banyak yang tahu, Museum Yadnya yang terletak di sebelah barat Pura Taman Ayun, Kecamatan Mengwi, Kabipaten Badung menyimpan segudang gambaran tentang dimensi spiritual dan alur kehidupan masyarakat Hindu Bali. Namun demikian, keberadaannya kian tak mendapat perhatian masyarakat. Seperti apa?

Dari sekian banyak museum di Bali, Museum Yadnya boleh jadi pilihan bagi yang ingin tahu aneka perangkat yang digunakan dalam Panca Yadnya. Sebagian orang Bali bisa jadi tak tahu secara detail. Museum Yadnya berdiri sejak 1974. Cukup lama, namun namanya masih asing terdengar. Mungkin hanya masyarakat Badung, peneliti, pegiat sastra, atau bahkan orang yang berkepentingan saja yang tahu penampakan museum ini.

Jika ditempuh dari Denpasar, wisatawan bisa menuju ke sana melalui jalur Denpasar-Singaraja. Lokasinya yang berada di Jalan Ayodya, Desa Mengwi ini membuat masyarakat tak sulit mencarinya. Ketika memasuki museum, pengunjung akan menjumpai pemandangan menarik. Luasnya hampir 5 are dihiasi pepohonan rindang. Letaknya berada di sisi telaga Pura Taman Ayun.

Di sana terdapat dua gedung besar. Pertama ada wantilan atau semacam gedung serba guna (sebelah selatan), dekat pintu masuk. Kedua, gedung penyimpanan benda koleksi bagian dalam (bagian utara). Juga terdapat panggung teater dan beberapa bangunan stil Bali (contoh rumah adat Bali).

Kepala UPT Museum Yadnya Gede Sujana, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan, ada lima poin prosesi upacara yang disajikan di tempat ini. Dalam kehidupan masyarakat Hindu disebut Panca Yadnya. Secara sederhana, Panca Yadnya dapat diartikan sebagai persembahan suci yang tulus dalam lima dimensi spiritual Hindu. Para pengunjung memperoleh gambaran pelaksanaan ritual beserta maksud yang terkandung. Semuanya ditata berurutan sesuai alur kehidupan manusia. 

Gedung utama terdiri atas dua tingkat. Di lantai dasar, pengunjung dapat melihat contoh pakaian adat Bali. Mulai dari agung, madya, dan pakaian ke pura. Semuanya memiliki pakem.

Terdapat juga replika upakara yang mencakup Panca Yadnya. Letaknya diurut dari lantai dasar menuju lantai atas, mulai dari Dewa Yadnya (pemujaan terhadap dewa), Manusa Yadnya (ritual penyempurnaan manusia), Rsi Yadnya (pemujaan terhadap orang/Maha Rsi), Pitra Yadnya (pemujaan leluhur), dan Bhuta Yadnya (persembahan bagi Bhuta).

"Di sini juga dilengkapi buku-buku kajian agama, seni, benda purbakala, bahkan dokumentasi dari upacara masyarakat masa lalu," imbuhnya.

Dengan fasilitas yang lengkap, Museum Yadnya mestinya jadi objek yang patut dikunjungi. Pengunjung pun masih bebas masuk alias gratis. Terlebih dengan dilengkapi panggung terbuka dan wantilan. Para pelajar, seniman, bahkan kelompok masyarakat dapat menggunakannya bak Taman Budaya di Denpasar. 

"Selain mengedukasi, kami upayakan agar visualnya membuat pengunjung mendapat pencerahan. Bagaimana sebenarnya ritual orang Bali dan apa saja sarananya. Semua jelas," kata pria asal Buleleng itu.

Bagi Sujana, pendidikan karakter berbasis budaya sangat perlu ditanamkan kepada pelajar. Ironis memang. Beberapa kawula muda saat ini cenderung cuek dengan kekayaaan budaya.

Museum Yadnya, kata dia, tempat yang tepat mengenal adat, tradisi, dan agama. Namun fasilitas pembelajaran yang lengkap tak juga membuat siswa mau berkunjung. Sujana berharap para guru menawarkan model belajar baru. Museum Yadnya barangkali bisa jadi 'menu' alternatif.

Gede Sujana mengeluhkan, saat ini jumlah pengunjung dari segmen pelajar menurun. Kendati begitu, pengunjung mancanegara masih tampak hilir-mudik ke Museum Yadnya. Bahkan tingkat kunjungannya masih stabil. "Selain penelitian mahasiswa, murid dari tingkat SD hingga SMP kan bisa diajari. Bagaimana tahapan-tahapan prosesi upacara sesuai adat Bali,” ajaknya.

Sujana mengakui beberapa program perbaikan fisik dan teknis saat ini sedang diperjuangkan. Pun sudah diusulkan ke Dinas Kebudayaan Badung terkait penambahan SDM, semisal tenaga edukasi/pendamping tamu, seniman lukis, pengajar tari dan tabuh, penulis lontar, dan tenaga lainnya. “Saya berharap masyarakat bisa menjadikan tempat ini salah satu tempat belajar dan berkarya,” tandasnya. 

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia